Mencari munaqish di Surabaya ternyata tidak mudah. Keluhan itu muncul hampir di setiap musim munaqasyah. Dari taman kanak-kanak. Masjid. Hingga sekolah Muhammadiyah.
“Orangnya itu-itu saja” ujar Sekretaris Majelis Tabligh PDM Surabaya, Ustadz Irwan Hasan MPd, Jumat (01/05/2026).
Karena itu, Majelis Tabligh PDM Surabaya menggelar Diklat Standarisasi Munaqish di SMP Muhammadiyah 5 Surabaya atau Spemma.
Tema Serius
Tema yang diusung cukup serius: meningkatkan kompetensi, menjaga kualitas, dan meneguhkan standar munaqish yang profesional serta berintegritas.
Masalahnya memang bukan sekadar kekurangan orang, tetapi juga kualitas. Irwan Hasan menyebut, selama ini pelaksanaan munaqasyah masih banyak dilakukan secara internal.
Pengujinya dari lingkungan sendiri. Akibatnya muncul banyak masukan dari masyarakat.
Objektivitasnya dipertanyakan. Standarnya dianggap belum sama. “Sehingga kualitas ujian masih diragukan” katanya.
Ia tidak menyalahkan keadaan itu. Sebab jumlah munaqish yang tersedia memang sangat terbatas. Di Surabaya, jumlah aktifnya disebut hanya sekitar 10 orang. Angka itu jelas tidak cukup melayani kebutuhan TPA, sekolah, dan masjid yang terus bertambah.
Karena itulah langkah yang dilakukan LPTPAMU dianggap sangat tepat.
Diklat ini harapannya menjadi pintu lahirnya munaqish baru yang memiliki standar seragam. Bukan hanya pandai membaca Al-Qur’an. Tetapi juga memahami metodologi penilaian. Punya integritas. Dan mampu menjaga mutu ujian.
Persoalan yang Kian Terasa
Ada persoalan lain yang juga mulai terasa. Kurikulum munaqasyah standar Muhammadiyah ternyata belum benar-benar mapan.
Termasuk untuk materi tahfidzul Qur’an. Padahal kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan Al-Qur’an semakin tinggi.
Maka diklat ini bukan sekadar pelatihan teknis. Ada semangat yang lebih besar. Yakni membangun sistem.
Irwan Hasan berharap lahir ghirah baru di kalangan guru TPA di Surabaya. Mereka tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Ada arah yang jelas, standar yang sama, dan mutu yang dijaga bersama.
“Dengan adanya diklat ini akan menghidupkan ghirah guru-guru TPA” ujarnya.
Kata “ghirah” itu penting. Sebab mengelola TPA sering kali hanya dipandang pekerjaan sambilan. Padahal di situlah fondasi generasi Qur’ani dibangun.
Jika munaqish kuat, kualitas ujian akan naik. Jika kualitas ujian naik, kepercayaan masyarakat ikut tumbuh. Dan jika kepercayaan itu tumbuh, TPA Muhammadiyah akan berkembang lebih cepat.
“Diklat itu mungkin hanya berlangsung sehari. Tetapi dampaknya bisa panjang. Sangat panjang” pungkasnya.





0 Tanggapan
Empty Comments