Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah menegaskan pentingnya peran perempuan muda dalam menghadapi krisis lingkungan sekaligus mendorong pembangunan yang adil dan berkelanjutan.
Komitmen tersebut disampaikan melalui International Seminar bertajuk “From Grassroots to Policy: Young Women’s Leadership in Advancing Ecolivelihood for Sustainable and Just Societies” yang digelar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Sabtu (16/5/2026).
Seminar internasional ini menghadirkan keynote speaker, opening remarks, panelis dari kalangan akademisi, pemerintahan, organisasi masyarakat sipil, hingga pengumuman Best of The Best National Call for Best Practices terkait praktik baik pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan dan keadilan sosial.
Ketua Umum PPNA, Ariati Dina Puspitasari, menegaskan bahwa Nasyiatul Aisyiyah selama ini telah mengambil peran nyata dalam mendorong kepemimpinan perempuan muda di tingkat akar rumput.
Peran tersebut terutama bergerak dalam isu lingkungan, pemberdayaan ekonomi, dan pembangunan berkelanjutan.
“Nasyiatul Aisyiyah memiliki anggota perempuan muda yang produktif mulai usia 17 hingga 40 tahun. Mereka memiliki kesadaran terhadap isu green movement, ecolivelihood, dan pemberdayaan komunitas,” ujar Ariati.
Ia menjelaskan, berbagai gerakan kader Nasyiatul Aisyiyah telah berkembang di banyak daerah, mulai dari penguatan komunitas, pengelolaan lingkungan, hingga pemberdayaan ekonomi perempuan berbasis lokal.
“Di berbagai daerah seperti Solo dan Banyuwangi, kader-kader Nasyiatul Aisyiyah hadir mempengaruhi kesadaran masyarakat melalui gerakan kolektif dan kolaborasi dengan banyak pihak,” lanjutnya.
Menurut Ariati, kontribusi tersebut juga diperkuat melalui BUANA (Badan Usaha Amal Nasyiatul Aisyiyah) sebagai wadah pengusaha perempuan muda Nasyiatul Aisyiyah.
Melalui BUANA, perempuan muda didorong untuk mengembangkan kapasitas kewirausahaan sekaligus kepemimpinan yang efektif.
“Melalui BUANA, perempuan muda Nasyiatul Aisyiyah memiliki ruang untuk mengembangkan keahlian, kemampuan komunikasi, serta kepemimpinan yang efektif. Ini sangat relevan dengan agenda sustainable economy dan pemberdayaan perempuan,” katanya.
Ariati menambahkan, gerakan yang dilakukan Nasyiatul Aisyiyah juga sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya prinsip no one left behind.
“Kontribusi ini merupakan bagian dari komitmen kami terhadap SDGs, bahwa tidak boleh ada satu pun yang tertinggal dalam pembangunan,” tegasnya.
Melalui seminar internasional tersebut, PPNA ingin menghadirkan ruang dialog yang mempertemukan perspektif akademik, pengalaman komunitas, serta kebijakan publik guna memperkuat gerakan ecolivelihood yang berkeadilan.
“Kami menyadari bahwa berbagai persoalan hari ini perlu dibahas melalui diskursus akademik dan kebijakan publik. Karena itu forum ini menghadirkan perspektif akademik sekaligus praktik nyata dari lapangan,” ujarnya.
Ia berharap seminar internasional tersebut tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga mampu melahirkan jejaring kolaborasi dan gerakan nyata yang memberikan dampak luas bagi masyarakat dan lingkungan.
“Kami berharap seminar ini memberi manfaat yang besar dan berdampak bagi dunia. Jika kita menunjukkan sedikit cinta dan kepedulian, kita bisa menghadirkan perubahan,” pungkas dosen Universitas Ahmad Dahlan tersebut.





0 Tanggapan
Empty Comments