Di Indonesia, NU dan Muhammadiyah sering dipahami sebagai dua ‘kutub’. Padahal jika dilihat secara bahasa, akar masalahnya sering bukan pada akidah, tetapi pada label sosial. Lucunya, banyak orang lupa bahwa secara makna, seluruh umat Islam sejatinya adalah Muhammadiyah, pengikut Nabi Muhammad.
Secara etimologis, kata Muhammadiyah berasal dari nama Muhammad dengan tambahan _ya nisbah_, yang berarti: “golongan yang mengikuti Muhammad.” Maka siapa pun yang bersyahadat: Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, secara otomatis telah menyatakan diri sebagai pengikut Nabi Muhammad. Artinya, orang NU pun Muhammadiyah. Orang Persis Muhammadiyah. Orang Salafi Muhammadiyah. Bahkan orang yang anti-ormas sekalipun tetap Muhammadiyah.
Al Qur’an menegaskan: _”Katakanlah: jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.”_ (Ali Imran 31). Ayat ini menarik. Allah tidak mengatakan “ikuti organisasi tertentu”, tetapi “ikuti Muhammad.” Jadilah Muhammadiyah. Jadi, parameter utama seorang Muslim bukan nama kelompoknya, melainkan sejauh mana ia meneladani Nabi.
Nabi sendiri bersabda: _”Seluruh umatku akan masuk surga kecuali yang enggan.” Para sahabat bertanya: “Siapa yang enggan wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “Siapa yang taat kepadaku masuk surga, dan siapa yang durhaka kepadaku maka ia enggan.”_ (HR. Bukhari)
Ukuran utamanya lagi-lagi adalah ittiba’ kepada Rosul Muhammad. Karena itu, kalau ada yang berkata: “Orang NU bukan Muhammadiyah,” secara organisasi mungkin benar. Tetapi secara makna bahasa dan substansi keislaman, justru semua Muslim adalah Muhammadiyah: pengikut Nabi Muhammad. Ini seperti kata “Ahlussunnah.” Banyak kelompok merasa paling berhak memakainya, padahal seluruh Muslim yang mengikuti sunnah Nabi sejatinya juga Ahlussunnah.
Di era digital hari ini, identitas ormas kadang lebih kuat daripada identitas keislaman itu sendiri. Padahal menurut berbagai survei sosial-keagamaan di Indonesia, mayoritas umat Islam sebenarnya memiliki praktik yang saling tumpang tindih: sama-sama salat, sama-sama membaca Al-Qur’an, sama-sama mencintai Nabi, dan sama-sama mengucapkan syahadat yang sama. Perbedaannya sering hanya pada metode, budaya dakwah, atau pendekatan fiqh.
Maka mungkin sudah waktunya diskusi umat bergeser: bukan lagi “kamu NU atau Muhammadiyah?”, tetapi: “seberapa dekat kita mengikuti akhlak Nabi Muhammad?” Sebab pada akhirnya, sebelum menjadi warga ormas, kita semua terlebih dahulu adalah umat Muhammad. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments