Tanwir II Pemuda Muhammadiyah 21–23 Mei 2026 di Denpasar, Bali, sesungguhnya bukan sekadar agenda konsolidasi organisasi. Forum yang mengusung tema “Bertumbuh dan Mengakar untuk Indonesia Jaya” itu menjadi ruang refleksi penting tentang ke mana arah gerakan Pemuda Muhammadiyah akan dibawa di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.
Tema tersebut tampak sederhana, tetapi mengandung makna yang sangat dalam. “Bertumbuh” mengandung pesan tentang kebutuhan organisasi untuk terus berkembang, adaptif terhadap teknologi, ekonomi, dan perubahan sosial politik global. Sedangkan “mengakar” mengandung pesan moral bahwa pertumbuhan organisasi tidak boleh tercerabut dari ideologi, nilai keislaman, tradisi intelektual, serta keberpihakan kepada umat dan bangsa.
Di titik inilah Tanwir menjadi penting. Sebab organisasi besar sering kali tidak runtuh karena kekurangan kader, melainkan karena kehilangan arah gerakan dan melemahnya substansi perjuangan.
Sebagai seorang yang pernah berproses cukup panjang di Pemuda Muhammadiyah dan sebagai Ketua Pemuda Muhammadiyah Provinsi Jawa Timur, saya memandang Pemuda Muhammadiyah bukan hanya organisasi kepemudaan biasa. Ia adalah sekolah kehidupan, ruang kaderisasi moral, laboratorium kepemimpinan, sekaligus tempat pembentukan watak sosial kebangsaan.
Dari organisasi ini lahir banyak tokoh bangsa, akademisi, aktivis sosial, birokrat, pengusaha, komisaris, hingga politisi. Namun justru karena besarnya potensi kader itulah, Pemuda Muhammadiyah menghadapi tantangan yang semakin kompleks menjelang Muktamar Pemuda Muhammadiyah yang direncanakan berlangsung pada akhir tahun 2026.
Muktamar bukan sekadar pergantian kepemimpinan. Dalam perspektif teori organisasi modern, muktamar adalah momentum reproduksi ideologi, konsolidasi arah gerakan, dan peneguhan identitas kolektif organisasi. Karena itu, Tanwir II di Bali seharusnya dibaca sebagai “pra-konsolidasi moral” menuju Muktamar Pemuda Muhammadiyah.
Politik Mobilitas dan Ketegangan Kader
Dalam teori mobilitas sosial, setiap organisasi modern akan mengalami proses kompetisi vertikal. Semakin besar organisasi, semakin besar pula perebutan pengaruh, posisi, dan akses kekuasaan di dalamnya.
Fenomena ini sebenarnya alamiah. Namun yang menjadi persoalan adalah ketika kompetisi kader berubah menjadi fragmentasi emosional dan pertarungan kelompok yang menguras energi organisasi.
Pemuda Muhammadiyah hari ini sedang menghadapi tantangan itu. Mobilitas kader menuju jabatan politik, struktural organisasi, maupun posisi strategis di berbagai sektor sering kali memunculkan ketegangan internal yang berlebihan. Bahkan tidak jarang orientasi pengabdian perlahan bergeser menjadi orientasi perebutan pengaruh.
Padahal organisasi kader semestinya dibangun di atas tradisi meritokrasi, intelektualitas, keteladanan, dan pengabdian sosial.
Dalam perspektif sosiologi organisasi Max Weber, jabatan idealnya dipahami sebagai bentuk tanggung jawab moral, bukan alat dominasi kelompok maupun legitimasi elitisme organisasi.
Karena itu, menjelang Muktamar Pemuda Muhammadiyah, yang dibutuhkan bukan sekadar kompetisi memperoleh posisi, tetapi kedewasaan membangun kultur organisasi yang sehat, terbuka, dan beretika.
Pemuda Muhammadiyah harus mampu membuktikan bahwa kaderisasi bukan arena perebutan kekuasaan, melainkan proses memperluas pengabdian dan memperkuat kebermanfaatan sosial.
Ketika Substansi Gerakan Mulai Melemah
KH. Ahmad Dahlan tidak membangun Muhammadiyah dengan retorika besar, tetapi dengan praksis sosial yang nyata. Beliau mengajarkan Al-Ma’un berulang-ulang bukan untuk dihafal semata, tetapi agar kader memiliki sensitivitas sosial terhadap kaum miskin, yatim, dan kelompok lemah.
Di sinilah substansi gerakan Muhammadiyah sesungguhnya berada: menghadirkan Islam sebagai kekuatan pencerahan dan pembebasan sosial.
Karena itu, Muktamar Pemuda Muhammadiyah mendatang harus menjadi momentum revitalisasi substansi gerakan.
Pemuda Muhammadiyah tidak boleh hanya melahirkan kader organisatoris, tetapi juga kader ideologis yang kuat spiritualitasnya, matang intelektualnya, santun akhlaknya, dan luas keberpihakannya terhadap problem umat.
Penguatan Jatidiri Kader
Penguatan nilai keislaman tidak cukup diwujudkan dalam slogan dan simbol formal, tetapi harus tampak dalam perilaku keseharian kader.
Jatidiri kader Pemuda Muhammadiyah harus dibangun melalui integritas moral, kesederhanaan hidup, tradisi membaca dan berdiskusi, etika bermedia sosial, disiplin organisasi, kepedulian terhadap kaum kecil, serta keberanian menyuarakan keadilan sosial.
Dalam perspektif Islam Berkemajuan, kader Muhammadiyah seharusnya hadir sebagai moral force sekaligus intellectual force.
Artinya, kader tidak cukup hanya aktif dalam struktur organisasi, tetapi juga harus menjadi teladan moral dan kekuatan intelektual di tengah masyarakat.
Pemuda Muhammadiyah perlu menghidupkan kembali tradisi pengajian kader, diskusi pemikiran Islam, kajian ideologi, literasi digital, dan dakwah sosial di akar rumput.
Sebab organisasi yang besar tanpa fondasi ideologi yang kuat akan mudah mengalami disorientasi gerakan.
Diaspora Kader dan Krisis Keterhubungan
Salah satu keberhasilan Muhammadiyah adalah melahirkan kader di berbagai sektor strategis bangsa. Banyak kader Pemuda Muhammadiyah kini berada di dunia akademik, birokrasi, politik, bisnis, hingga gerakan sosial.
Namun diaspora kader juga menghadirkan tantangan baru: melemahnya keterhubungan emosional dan ideologis dengan organisasi.
Jika diaspora kader tidak dirawat, maka organisasi hanya akan menjadi ruang administratif tanpa daya pengaruh sosial yang kuat.
Karena itu, Pemuda Muhammadiyah perlu membangun model kaderisasi baru: berbasis jejaring, berbasis kolaborasi, berbasis pengabdian sosial, dan berbasis komunitas intelektual.
Kader yang berada di luar struktur harus tetap merasa menjadi bagian dari denyut perjuangan organisasi.
Politik Kebangsaan dan Etika Kekuasaan
Pemuda Muhammadiyah tidak boleh alergi terhadap politik. Politik adalah bagian dari ikhtiar kebangsaan.
Namun yang perlu dijaga adalah bagaimana politik tetap berada dalam koridor moralitas gerakan. Max Weber menyebut bahwa politik membutuhkan dua etika sekaligus: ethic of conviction dan ethic of responsibility — etika keyakinan dan etika tanggung jawab.
Artinya, kader yang masuk dunia politik tidak cukup hanya memiliki ambisi kekuasaan, tetapi juga tanggung jawab moral terhadap rakyat dan organisasi.
Di tengah krisis keteladanan nasional, Pemuda Muhammadiyah memiliki peluang besar menjadi kekuatan moral bangsa.
Karena itu, Muktamar mendatang harus melahirkan kepemimpinan yang matang secara intelektual, rendah hati dalam pengabdian, mampu merangkul seluruh elemen kader, dan tidak menjadikan organisasi sebagai alat legitimasi kepentingan pribadi maupun kelompok.
Menguatkan Akar, Bukan Sekadar Membesarkan Pohon
Pertanyaannya sederhana tetapi mendasar: apakah Pemuda Muhammadiyah akan tetap menjadi gerakan moral dan intelektual, atau justru terseret menjadi organisasi yang sibuk pada perebutan pengaruh semata?
Di sinilah makna “mengakar” menjadi sangat penting.
Pohon besar tidak tumbang karena rantingnya lemah, tetapi karena akarnya kehilangan kekuatan.
Dan organisasi besar tidak akan kehilangan masa depan selama tetap menjaga nilai, keteladanan, intelektualitas, spiritualitas, serta keberpihakan kepada umat dan bangsa.
Tanwir II di Bali harus menjadi momentum menata ulang kesadaran kolektif bahwa Pemuda Muhammadiyah bukan sekadar tempat berhimpun, tetapi ruang membangun peradaban.
Karena bangsa ini membutuhkan kader muda yang tidak hanya cerdas berpikir, tetapi juga matang secara moral, kuat dalam pengabdian, dan tetap rendah hati dalam perjuangan.





0 Tanggapan
Empty Comments