Di balik tenangnya aliran sungai, tersimpan ancaman ekologis serius yang diam-diam menggerus keseimbangan perairan darat. Keberadaan ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) yang selama ini kerap dianggap sepele, kini menjadi sorotan.
Pakar sekaligus Dosen Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang, Rindya Fery Indrawan, S.Pi., MP., memperingatkan bahwa ledakan populasi spesies invasif ini berpotensi memicu kolapsnya rantai makanan sekaligus mengancam keberadaan ikan endemik lokal.
Fery—sapaan akrabnya—menjelaskan bahwa kerusakan ekosistem terjadi melalui tiga mekanisme utama yang saling berkaitan.
“Pertama, terjadi kompetisi pakan yang tidak seimbang. Ikan sapu-sapu merebut sumber nutrisi utama seperti alga dan mikroorganisme dasar yang seharusnya menjadi pakan ikan lokal kita,” ungkapnya 23 April lalu pada Tim Humas UMM
Mekanisme kedua adalah dominasi biomassa. Ikan sapu-sapu berkembang biak secara masif hingga menguasai ruang hidup ekosistem. Fenomena ini bahkan telah terlihat di sejumlah sungai besar seperti di wilayah Jakarta.
Sementara itu, mekanisme ketiga adalah kerusakan fisik lingkungan. Kebiasaan ikan ini menggali lubang di tepian sungai menyebabkan erosi dan merusak area pemijahan alami ikan lokal.
Lebih memprihatinkan lagi, ikan sapu-sapu memiliki sifat omnivora oportunistik. Ketika sumber pakan menipis, mereka memangsa telur dan larva ikan endemik. Aktivitas menyapu dasar perairan juga membuat telur-telur ikan lokal tertimbun sedimen hingga gagal menetas.
Akibatnya, spesies ikan lokal seperti nilem, tawes, wader, dan betok kini berada di ambang kepunahan lokal.
Sulitnya mengendalikan populasi ikan sapu-sapu tidak lepas dari kemampuannya bertahan hidup di berbagai kondisi ekstrem.
Tubuhnya dilindungi pelat keras dan sirip berduri tajam, sehingga dihindari predator alami seperti biawak. Selain itu, ikan ini mampu hidup di perairan dengan kadar oksigen sangat rendah.
Karakteristik ini menjadikan ikan sapu-sapu sebagai “super survivor” yang sulit dikendalikan secara alami.
Merespons kondisi tersebut, Laboratorium Perikanan UMM mengambil langkah strategis melalui riset dan pengembangan ikan lokal, khususnya jenis wader.
“Tujuan utama kami adalah melakukan restocking. Hasil pemijahan ini nantinya akan kita lepas liarkan secara berkala di Kali Brantas untuk merehabilitasi populasi ikan endemik,” tegasnya.
Fery menegaskan bahwa upaya akademisi saja tidak cukup. Dibutuhkan langkah mitigasi komprehensif, mulai dari penangkapan massal hingga pemanfaatan ikan sapu-sapu secara ekonomis.
Ikan ini dapat diolah menjadi tepung ikan atau pakan ternak berprotein tinggi, dengan catatan tidak dikonsumsi manusia jika berasal dari perairan tercemar.
Ia juga menyoroti pentingnya edukasi masyarakat, terutama terkait kebiasaan melepas ikan peliharaan ke alam liar.
“Ini bukan sekadar menyelamatkan satu spesies, tapi menjaga keseimbangan alamiah. Jika tidak ada sinergi lintas sektor antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat, kita berisiko besar kehilangan ikan lokal yang menjadi identitas serta penopang ketahanan pangan bangsa,” pungkasnya.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments