PAUD ABA Percontohan Bojonegoro kembali menunjukkan komitmennya membangun sinergi pendidikan antara sekolah dan keluarga melalui Kajian Islami bertema “Keteladanan Orang Tua, Fondasi Karakter Anak”.
Kegiatan tersebut berlangsung di Mushola PAUD ABA Percontohan, Jalan Dr. Sutomo Nomor 59, Bojonegoro, Senin (24/8/2026). Sebanyak 21 orang tua murid kelompok KB dan TK hadir mengikuti kajian dengan penuh antusias.
Kajian Islami merupakan salah satu program rutin sekolah yang digelar setiap bulan pada hari Senin. Kegiatan ini menjadi wadah untuk memperkuat peran orangtua dalam mendampingi tumbuh kembang sekaligus pembentukan karakter anak.
Program tersebut melengkapi berbagai forum belajar orang tua yang telah diselenggarakan sekolah, seperti Parenting Education setiap Sabtu dan kegiatan mengaji Al-Qur’an bersama orang tua setiap Rabu.
Melalui berbagai kegiatan tersebut, PAUD ABA Percontohan berupaya menjadikan sekolah sebagai pusat pembelajaran yang tidak hanya melibatkan anak, tetapi juga orang tua.
Orang Tua Menjadi Teladan Utama
Narasumber Kajian Islami, Muhammad Yahya, menyampaikan bahwa keluarga, khususnya ibu, memiliki peran besar dalam pembentukan karakter anak.
“Ibu adalah sekolah pertama dan narasumber terbesar bagi anak. Apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan anak dari orang tuanya akan menjadi bekal utama dalam membentuk kepribadiannya,” ujarnya.
Muhammad Yahya menjelaskan, terdapat empat bentuk keteladanan yang perlu menjadi bagian dari pendidikan keluarga, khususnya bagi ibu dalam mendampingi anak di rumah.
Pertama, menanamkan kemandirian. Anak perlu dibiasakan melakukan berbagai aktivitas sederhana sesuai tahap perkembangannya, seperti merapikan mainan, memakai sepatu sendiri, makan secara mandiri, hingga bertanggung jawab terhadap barang miliknya.
Orang tua hendaknya memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba dan tidak terburu-buru memberikan bantuan.
“Kemandirian yang dibangun sejak usia dini akan melahirkan anak yang tangguh, bertanggung jawab, dan tidak mudah bergantung kepada orang lain,” jelasnya.
Kedua, menumbuhkan rasa percaya diri dan keberanian. Anak yang percaya diri tumbuh dari lingkungan yang menghargai usaha, memberikan apresiasi, dan tidak mudah menyalahkan.
Orang tua perlu menjadi teladan dalam bersikap optimis, berani menyampaikan pendapat, serta memberikan dukungan ketika anak mencoba hal-hal baru.
Menurut Muhammad Yahya, keberanian anak tidak tumbuh dari paksaan, tetapi dari rasa aman dan keyakinan bahwa orang tuanya selalu mendukung proses belajar yang dijalani.
Ketiga, membiasakan hidup bersih. Kebersihan merupakan bagian dari iman sekaligus pembiasaan karakter yang perlu ditanamkan sejak dini.
Anak dapat diajak mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, menjaga kebersihan tubuh, merapikan tempat tidur, serta menjaga kebersihan lingkungan sekitar.
“Anak akan mudah melakukan kebiasaan baik jika melihat orang tuanya juga membiasakan hidup bersih,” ungkapnya.
Keempat, menampilkan diri yang harum, bersih, dan rapi. Penampilan yang bersih, rapi, dan harum mengajarkan anak tentang penghargaan terhadap diri sendiri dan orang lain.
Orang tua perlu memberikan contoh dalam berpakaian sopan, menjaga kebersihan tubuh, serta menciptakan lingkungan rumah yang nyaman dan tertata.
“Anak adalah peniru ulung. Apa yang dilakukan orang tua setiap hari akan direkam dan ditiru oleh anak tanpa disadari,” tambah Muhammad Yahya.
Sekolah dan Orangtua Bertumbuh Bersama
Sementara itu, Kepala PAUD ABA Percontohan Bojonegoro Dwi Anjarwati, S.Pd., menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh orang tua yang telah mendukung berbagai program sekolah.
“Kami menyadari bahwa setiap orang tua memiliki kesibukan yang berbeda. Oleh karena itu, sekolah menghadirkan berbagai forum belajar, baik melalui Parenting Education pada hari Sabtu, Kajian Islami pada hari Senin, maupun mengaji Al-Qur’an setiap hari Rabu. Sekolah ingin menjadi tempat bertumbuh bersama bagi anak dan orang tua,” ujarnya.
Ia menambahkan, komunikasi dan kolaborasi yang baik antara sekolah dan keluarga akan memperkuat proses pendidikan. Dengan demikian, pembentukan karakter anak dapat berjalan secara optimal dan berkelanjutan.
Kegiatan Kajian Islami ditutup dengan foto bersama sebagai simbol kebersamaan dan komitmen sekolah bersama orang tua dalam mendampingi anak tumbuh menjadi generasi yang berakhlak mulia, mandiri, percaya diri, serta memiliki karakter Islami yang kuat sejak usia dini. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments