Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan memfasilitasi persinggahan sejumlah kader santri Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta, Kamis (30/4/2026) malam.
Persinggahan tersebut tidak sekadar menjadi tempat beristirahat, tetapi juga menjadi ruang penguatan ideologi dan silaturahmi lintas generasi kader Muhammadiyah.
Para santri tersebut sebelumnya telah menyelesaikan dauroh bahasa Arab di Lamongan sebagai bagian dari persiapan melanjutkan studi ke Kairo, Mesir. Mereka harus menunda kepulangan ke Yogyakarta karena jadwal kereta baru tersedia keesokan harinya.
Momentum ini dimanfaatkan PDM Lamongan untuk membuka ruang kebersamaan. Kantor PDM Lamongan pun disulap menjadi tempat singgah yang hangat, menghadirkan suasana kekeluargaan sekaligus ruang diskusi yang hidup.
Sejumlah alumni Mu’allimin yang kini berkiprah di Lamongan dan sekitarnya turut hadir. Mereka berbaur bersama para santri dalam suasana santai tanpa sekat formalitas. Percakapan yang terbangun mengalir hangat, membahas pengalaman dakwah, tantangan umat, serta tanggung jawab keilmuan yang akan diemban para kader di masa depan.
Salah satu santri mengungkapkan kesan mendalamnya atas pengalaman tersebut. “Ini bukan sekadar singgah, tetapi pengingat bahwa kami tidak berjalan sendiri dalam perjuangan ini,” ujarnya.
Penguatan spiritual dan ideologis juga terasa melalui komunikasi daring bersama Ketua PDM Kabupaten Tegal, Fathin Hamam, yang merupakan wali salah satu santri. Dalam pesannya, ia mengapresiasi langkah PDM Lamongan yang dinilai mampu menghadirkan wajah Muhammadiyah sebagai rumah bagi kader.
“Malam ini saya menyaksikan bagaimana Muhammadiyah merawat masa depannya sendiri. Ada keikhlasan yang tidak banyak bicara, tetapi di situlah kekuatan itu lahir,” tuturnya.
Ia juga menegaskan bahwa apa yang dilakukan PDM Lamongan bukan sekadar menerima tamu, melainkan bentuk nyata dalam memuliakan perjuangan kader Persyarikatan.
Diskusi yang berlangsung secara sederhana tersebut justru melahirkan konsolidasi yang kuat. Tanpa forum resmi, para kader dapat saling berbagi pengalaman, memperkuat visi, dan meneguhkan komitmen perjuangan.
Salah satu santri, Fawwas, menyampaikan bahwa perjumpaan tersebut semakin meneguhkan kesadaran kolektif sebagai bagian dari gerakan besar Muhammadiyah. “Kami adalah bagian dari arus besar yang telah lama mengalir,” ungkapnya.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa proses kaderisasi tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui ruang-ruang perjumpaan yang mempererat ikatan dan memperkuat nilai perjuangan.
Rencananya, para santri akan melanjutkan perjalanan kembali ke Yogyakarta pada Jumat pagi sebelum memasuki tahapan berikutnya menuju Kairo, Mesir. Persinggahan di Lamongan pun menjadi bekal berharga yang akan mereka bawa dalam perjalanan menuntut ilmu dan berdakwah di masa depan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments