UKM Teater Sanggar Satria Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya kembali menunjukkan eksistensinya dalam dunia seni pertunjukan melalui pentas perdana angkatan 2025 yang digelar pada Sabtu (18/4/2026).
Mengusung tema “Bhavana Catha Sahitya” yang bermakna memupuk imajinasi dan kreativitas dalam kebersamaan, kegiatan ini menjadi ruang aktualisasi bagi anggota baru sekaligus refleksi kolektif atas proses berkesenian yang telah dilalui.
Pementasan ini tidak sekadar menjadi ajang unjuk bakat, melainkan juga hasil dari proses panjang latihan, eksplorasi, serta pendalaman karakter yang dilakukan para anggota.
Nuansa kebersamaan terasa kuat sejak awal acara, yang turut dimeriahkan dengan sambutan dari Ketua Pelaksana Gasing, Ketua Umum Teater Sanggar Satria periode 2025–2026 Angklung, serta Steering Committee UKM Teater Sanggar Satria, Angkup.
Ketiganya menekankan pentingnya proses, kekompakan, dan keberanian berekspresi dalam dunia teater.
Acara dibuka dengan penampilan tari kreasi nusantara yang dibawakan oleh Tuya, Ngayom, dan Tembay. Tarian ini menghadirkan perpaduan gerak tradisional dan sentuhan kontemporer yang dinamis, mencerminkan semangat keberagaman budaya sekaligus kreativitas generasi muda.
Penampilan ini berhasil membangun atmosfer panggung yang hidup serta mengundang antusiasme penonton sejak awal.
Memasuki penampilan kedua, suasana beralih menjadi lebih reflektif melalui pembacaan puisi berjudul “Perempuan dari Pinggir Kota” oleh Lumbung.
Puisi ini tidak hanya berdiri sebagai karya sastra, tetapi juga berfungsi sebagai pengantar menuju pementasan inti.
Dengan penghayatan yang kuat, Lumbung menghadirkan potret kehidupan perempuan di wilayah pinggiran kota—ruang yang sering kali terpinggirkan, namun menyimpan banyak cerita tentang perjuangan, kebebasan, dan keterbatasan.
Narasi dalam puisi ini sekaligus menjadi rangkuman emosional dari konflik yang akan dihadirkan dalam drama Smara.
Puncak acara ditandai dengan pementasan drama inti berjudul Smara, yang diperankan oleh Tepa, Teteg, Dhemul, Reggeng, dan Tedhem.
Naskah ini disutradarai oleh Gundu dengan asisten sutradara Padhang. Smara mengangkat tema yang dekat dengan realitas sosial, seperti pencarian makna “tempat pulang”, kerasnya dunia luar yang bebas dan cenderung buas, serta penyesalan atas masa lalu yang terus membayangi.
Konflik dalam naskah ini dibangun melalui relasi antar tokoh yang kompleks, menggambarkan pergulatan batin sekaligus dinamika kehidupan di wilayah pinggiran kota.
Secara artistik, Smara berhasil menghadirkan suasana yang intens melalui pengolahan tubuh aktor, penguatan emosi, serta penggunaan ruang panggung yang efektif.
Narasi yang diangkat juga menyoroti ironi kehidupan masyarakat pinggiran yang kerap diidentikkan dengan kebebasan tanpa batas, namun di sisi lain menyimpan luka, kehilangan arah, dan kerinduan akan tempat pulang yang hakiki.
Hal ini menjadikan pementasan tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai medium refleksi sosial bagi penonton.
Jalannya acara dipandu oleh Ndhedet dan Guyub yang mampu menjaga ritme pertunjukan tetap komunikatif dan cair.
Kehadiran keduanya turut memberikan warna tersendiri dalam keseluruhan rangkaian acara. Pentas perdana ini dihadiri oleh lebih dari 200 penonton yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa internal, kerabat aktor dan tim produksi, hingga perwakilan komunitas teater dari Surabaya, Madura, dan sekitarnya.
Antusiasme penonton terlihat dari perhatian yang terjaga sepanjang pementasan, serta apresiasi yang diberikan di akhir setiap penampilan.
Melalui pentas perdana ini, UKM Teater Sanggar Satria UM Surabaya tidak hanya menampilkan karya seni pertunjukan, tetapi juga menegaskan perannya sebagai ruang pembelajaran, eksplorasi, dan penyadaran sosial.
Tema kebersamaan yang diusung menjadi fondasi dalam membangun kreativitas kolektif, sekaligus memperkuat nilai bahwa teater bukan hanya tentang panggung, melainkan tentang proses, keberanian, dan kemanusiaan.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments