Program Pendidikan Karakter Mahasiswa Umsida (PKMU) Tahun Ajaran 2026–2027 resmi dimulai pada Ahad (11/10/2026). Program Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) ini mengusung pendekatan evaluasi diri untuk mendorong mahasiswa memperbaiki perilaku dan membangun kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Dakwah Kampus 1 Umsida tersebut dibuka oleh Direktur Direktorat Al Islam dan Kemuhammadiyahan (Dismu) Umsida, Drs. Muadz, M.Ag.
Berbeda dari pendekatan yang hanya menekankan pemahaman materi, pelaksanaan PKMU tahun ini mengajak mahasiswa mengenali karakter masing-masing, menentukan perilaku yang perlu diperbaiki, dan menjalankan komitmen perubahan secara bertahap.
Muadz menjelaskan, PKMU tahun ajaran ini dilaksanakan dalam delapan gelombang hingga sekitar April 2027. Setiap gelombang diikuti kurang lebih 300 mahasiswa dengan rangkaian kegiatan selama tiga pekan.
Pada pekan terakhir, seluruh peserta diwajibkan bermalam di Kampus 1 Umsida dan mengikuti qiyamul lail hingga pelaksanaan salat Subuh.
“Pada pekan terakhir nanti, semua peserta PKMU wajib bermalam di kampus 1 dan mengikuti qiyamul lail hingga pelaksanaan salat Subuh,” terangnya.
Muadz juga mengingatkan peserta agar menjaga kondisi kesehatan sehingga dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan baik.
Selain itu, mahasiswa diajak memahami empat nilai karakter yang dicontohkan Rasulullah, yakni siddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan kebenaran), dan fathanah (cerdas).
“Pendidikan karakter ini juga mengacu pada hal yang dikembangkan Umsida, yaitu Uswah, Mandiri, Sinergi, Integritas, Dinamis, dan Amanah,” tuturnya.
Dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) Umsida, Ima Faizah, M.Pd.I., menjelaskan bahwa PKMU tahun ini lebih menekankan perubahan perilaku yang dimulai dari kesadaran mahasiswa sendiri.
Pada pelaksanaan sebelumnya, mahasiswa mendapat tugas membuat video proyek perubahan perilaku yang mengangkat contoh akhlak baik dan buruk. Tahun ini, pendekatan tersebut diganti dengan evaluasi karakter pribadi dan penentuan perilaku yang ingin diperbaiki.
“Kami mengarahkan mahasiswa agar berkomitmen untuk merubah perilaku, seperti membiasakan berkata baik, meningkatkan kedisiplinan, menjaga kejujuran, dan mengendalikan emosi,” jelas Ima.
Komitmen itu kemudian dituangkan dalam catatan pembiasaan yang diisi mahasiswa melalui buku masing-masing. Ada tiga aspek yang menjadi perhatian, yaitu ibadah, karakter personal, dan pembiasaan di lingkungan kampus Islami.
Dalam aspek ibadah, mahasiswa mengevaluasi kebiasaan menjalankan salat dan membaca Al-Qur’an. Sementara itu, aspek karakter personal mencakup kedisiplinan, ketepatan waktu, kejujuran, serta kemampuan mengendalikan emosi.
Adapun pembiasaan di lingkungan kampus Islami menekankan perilaku sopan dalam interaksi sehari-hari.
“Misalnya pada aspek ibadah, mahasiswa mengevaluasi kebiasaan salat dan membaca Al-Qur’an,” terangnya.
Ima menjelaskan, perubahan perilaku memerlukan proses yang dimulai dari niat, dilanjutkan dengan komitmen dan latihan, hingga akhirnya terbentuk menjadi kebiasaan. Pendekatan tersebut mengacu pada Theory of Planned Behavior atau teori perilaku terencana.
“Perubahan perilaku itu tidak terjadi begitu saja, pasti ada hambatan di dalamnya. Jadi prosesnya berawal dari niat, kemudian dilatih hingga menjadi pembiasaan,” jelasnya.
Untuk memantau proses tersebut, fasilitator akan meninjau perkembangan mahasiswa secara berkala. Pada pekan kedua, pembimbing mengevaluasi daftar pembiasaan atau checklist yang telah diisi peserta untuk melihat perilaku yang sudah berjalan maupun yang masih perlu diperbaiki.
Evaluasi dilanjutkan pada pekan ketiga dengan meninjau perubahan yang telah dicapai sekaligus menentukan tindak lanjut bagi kebiasaan yang belum terbentuk.
Menurut Ima, pendekatan ini memberi ruang interaksi yang lebih luas antara dosen dan mahasiswa. Proses pembelajaran tidak hanya berisi penyampaian materi, tetapi juga diskusi mengenai fenomena di masyarakat dan kaitannya dengan perilaku pribadi.
“Menurut kami strategi tersebut lebih interaktif. Dosen tidak hanya menyampaikan materi, tetapi mengajak mahasiswa berdiskusi mengenai fenomena di masyarakat dan menghubungkannya dengan perilaku mereka sendiri,” ungkap Ima.
Salah satu peserta PKMU, Qisma Nurohiyah Hidayati Alfin Putri dari Program Studi Ilmu Komunikasi, mengatakan kegiatan pada hari pertama diisi dengan sejumlah sesi diskusi dan bimbingan ibadah.
“Kami juga mengikuti berbagai bimbingan tentang ibadah, seperti kemampuan membaca Al-Qur’an, pengetahuan mengenai tayamum dan wudhu, serta bacaan salat,” tuturnya.
Dalam diskusi kelompok, peserta membahas sejumlah persoalan akidah dan kebiasaan masyarakat dari perspektif Islam. Topik yang dibicarakan antara lain kepercayaan terhadap patung, zodiak, tradisi nyadran, sesajen, dan hal-hal sejenis.
Qisma menilai sesi diskusi tersebut memberinya pengetahuan baru sekaligus kesempatan memahami berbagai persoalan melalui pembahasan bersama.
“Banyak hal baru yang awalnya tidak tahu jadi tahu, dan banyak diskusinya,” ungkap Qisma.
Melalui PKMU 2026–2027, Umsida berupaya membangun pendidikan karakter yang tidak berhenti pada pemahaman nilai-nilai Islam. Evaluasi diri dan pembiasaan sehari-hari menjadi bagian dari proses agar nilai tersebut dapat diterapkan dalam perilaku mahasiswa, baik di lingkungan kampus maupun dalam kehidupan bermasyarakat.





0 Tanggapan
Empty Comments