Upaya penguatan karakter peserta didik di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, berjalan seiring dengan pembenahan infrastruktur pendidikan. Di SD Negeri Sinuian, kondisi bangunan sekolah yang memprihatinkan menjadi alasan utama dilakukannya revitalisasi.
Dari enam ruang kelas yang tersedia, hanya satu ruang yang dinyatakan layak digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Kondisi ini mendorong pemerintah untuk segera melakukan perbaikan menyeluruh.
Menjawab persoalan tersebut, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, melakukan peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya revitalisasi total sekolah.
“Sekolah ini kondisinya sudah sangat tidak layak untuk kegiatan belajar-mengajar. Karena itu akan kita bangun kembali pada tahun 2026,” tegasnya.
Revitalisasi dilakukan secara menyeluruh dengan total anggaran sebesar Rp2,131 miliar. Program ini mencakup rehabilitasi enam ruang kelas, ruang administrasi, perpustakaan, pembangunan toilet, serta penataan lingkungan sekolah.

Bangunan sekolah juga dirancang bertingkat agar lebih representatif dan mampu menjawab kebutuhan pembelajaran dalam jangka panjang.
Mendikdasmen menjelaskan bahwa program ini tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Pelaksanaan revitalisasi menggunakan sistem swakelola yang melibatkan tenaga kerja lokal. Selain itu, kebutuhan material bangunan diprioritaskan dari toko-toko di sekitar sekolah sehingga perputaran ekonomi daerah ikut meningkat.
Secara nasional, revitalisasi SD Negeri Sinuian merupakan bagian dari agenda besar pemerataan kualitas pendidikan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Khusus di Sulawesi Utara, sebanyak 255 sekolah masuk dalam program revitalisasi tahun 2026. Untuk wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), program ini mencakup wilayah Sitaro (21 sekolah), Sangihe (4 sekolah), dan Talaud (24 sekolah).
Revitalisasi fisik sekolah tidak berdiri sendiri. Pemerintah juga mendorong penguatan karakter peserta didik melalui program pembiasaan positif.
Program seperti 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dan Pagi Ceria, yang meliputi pembiasaan berdoa, menyanyikan lagu kebangsaan, serta aktivitas positif di awal hari, telah diterapkan di sekolah-sekolah yang dikunjungi Menteri Abdul Mu’ti.
Lingkungan belajar yang layak dan pembentukan karakter yang kuat menjadi dua aspek yang saling melengkapi dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasional.
Program revitalisasi ini diharapkan menjadi gerakan nasional dalam menghadirkan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bermakna bagi seluruh anak Indonesia.
Dengan dukungan infrastruktur yang memadai serta pembiasaan karakter yang positif, pemerintah menargetkan peningkatan kualitas pendidikan yang merata di seluruh wilayah Indonesia.






0 Tanggapan
Empty Comments