Manusia memiliki potensi salah dan lupa. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang terkadang melakukan kesalahan karena kelupaan atau sebab lainnya. Hal itu merupakan bagian dari sifat manusia yang memiliki kemungkinan melakukan kebaikan maupun kesalahan.
Namun, kesalahan yang dilakukan seseorang tentu bukan tanpa sebab. Ada sejumlah faktor yang dapat mendorong seseorang melakukan kesalahan dalam kehidupannya.
Sebab-sebab Melakukan Kesalahan
1. Kebodohan
Orang yang bodoh cenderung tidak berpikir sebelum melakukan tindakan. Ia tidak mempertimbangkan apakah sesuatu yang dilakukan akan merugikan diri sendiri dan orang lain atau tidak. Akibatnya, tindakan yang dilakukan dapat menyimpang dari aturan agama.
Kebodohan juga dapat membuat seseorang mudah mendukung orang-orang yang melakukan kesalahan karena ketidaktahuan mereka. Islam datang untuk mencerdaskan umat, sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta’ala dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.”
Ayat tersebut menunjukkan pentingnya ilmu dan membaca sebagai bagian dari upaya mencerdaskan manusia.
2. Mengikuti Ajakan Syetan
Syetan selalu mengajak manusia untuk berbuat jahat dan melakukan perbuatan yang kotor, seperti menipu, berbuat mesum, dan sejenisnya.
Di samping itu, Syetan adalah makhluk Allah Subhaanahu wa Ta’ala yang terang-terangan memusuhi manusia. Karena itulah Allah Subhaanahu wa Ta’ala melarang manusia menjadikan Syetan sebagai kawan.
Siapa saja yang mengikuti ajakan Syetan, maka ia akan mudah melakukan kesalahan dalam kehidupannya.
3. Terpukau Godaan Dunia
Dunia merupakan jembatan yang mengantarkan manusia menuju akhirat. Bagi hamba yang cerdas, amal saleh menjadi kendaraan menuju akhirat.
Namun, bagi orang yang terpukau oleh kehidupan dunia, ia dapat larut dalam berbagai godaan dunia yang sangat menjanjikan. Mereka tidak sadar bahwa dunia dapat menjadi kesenangan yang menipu dan memperdaya.
Akibatnya, seseorang dapat salah langkah dalam mengarungi samudra kehidupan yang penuh dengan ujian.
4. Keterpaksaan
Keterpaksaan sering kali membuat seseorang melakukan sesuatu yang salah demi menyambung hidup, terlebih ketika ada orang lain yang mengajaknya.
Ia tidak berani menolak karena membutuhkan apa yang ditawarkan, baik berupa uang maupun sembako. Pada akhirnya, muncul janji atau tuntutan yang harus ditaati meskipun tidak benar menurut pandangan Islam.
Dalam kondisi seperti ini, kebutuhan hidup dapat menjadi salah satu faktor yang membuat seseorang mengambil keputusan yang keliru.
5. Lemahnya Kualitas Iman
Seseorang yang kuat imannya, jika melakukan kesalahan, akan segera beristighfar kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan bertaubat. Taubat merupakan langkah yang mendatangkan cinta-Nya.
Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Allah mencintai orang yang bertaubat dan mensucikan diri.” Al Baqarah : 222.
Sebaliknya, orang yang lemah imannya dapat memandang kesesatan atau kesalahan yang dilakukan sebagai sebuah kebaikan. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:
“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” Al Kahfi : 104.
Larangan Membela Orang yang Salah
Secara gamblang Allah Subhaanahu wa Ta’ala menerangkan dalam Surah Al-Maidah ayat 2:
“….Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”
Dari kandungan ayat di atas, dapat dipahami bahwa tolong-menolong dalam kebaikan dan membawa kepada ketakwaan sangat dianjurkan. Sebaliknya, tolong-menolong dalam perbuatan dosa dilarang.
Termasuk di dalamnya membela orang yang salah atau menutupi kesalahan orang yang berbuat salah.
Ada beberapa sebab seseorang membela orang atau kelompok yang salah.
1. Kepentingan Pribadi
Ikatan pertemanan atau janji yang menggiurkan dapat membuat seseorang membela orang yang melakukan kesalahan. Karena kepentingan tersebut, ia kemudian mantap berbuat salah dengan melindungi dan membela mati-matian, istilah Jawa.
2. Mencampuradukkan yang Hak dan yang Batil
Orang yang berbuat salah dapat menutup diri dari hal-hal yang benar. Ia memilih langkah yang salah dengan mengorbankan pihak yang membawa kebenaran.
Dalam kondisi seperti ini, seseorang tidak lagi mampu membedakan antara yang hak dan yang batil karena kepentingan atau keberpihakan tertentu.
3. Takut Ditinggalkan
Seseorang juga dapat membela kesalahan karena takut ditinggalkan oleh orang atau kelompok yang selama ini menjadi tempat bergantung dalam kehidupannya.
Karena ketergantungan tersebut, ia bersedia melakukan apa saja yang diinginkan, meskipun apa yang dilakukan sebenarnya salah.
Cara Mengobati Kesalahan
Kesalahan dapat ditinggalkan atau dihilangkan dari diri seseorang dengan bertaubat dan beristighfar.
Bertaubat berarti menyesali perbuatan yang salah dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Sementara itu, istighfar berarti memohon ampun atas kesalahan yang telah dilakukan.
Secara filosofis, istighfar menunjukkan kesadaran bahwa manusia masih memiliki kesalahan dan kekurangan.
Semoga kita tidak menuhankan kesalahan.





0 Tanggapan
Empty Comments