Kita sering merasa bersalah ketika terlambat menghadiri rapat, mengecewakan rekan kerja, atau gagal memenuhi janji. Namun, pernahkah kita merasa bersalah karena terlalu lama menunda menemui orang tua sendiri?
Padahal, ketika ayah atau ibu membutuhkan kita, tak semua urusan lain harus menjadi prioritas. Rapat bisa dijadwalkan ulang. Pekerjaan bisa dilanjutkan esok hari. Tetapi, kesempatan menemani orang tua yang sedang sakit tak selalu datang dua kali.
Saya teringat seorang teman yang datang terlambat dalam sebuah kegiatan. Kami sudah berkumpul. Persiapan harus segera diselesaikan. Beberapa orang mulai risau, bahkan menyalahkannya karena dianggap tidak siap.
Belakangan saya tahu, dia terlambat karena sedang mengantarkan orang tuanya ke rumah sakit.
Saya terdiam. Prasangka yang semula tumbuh seketika luruh. Saya menyadari, di balik keterlambatan yang kami persoalkan, ada seorang anak yang sedang berusaha memenuhi kebutuhan orang tuanya.
Ketika teman itu datang, saya menanyakan kabar orang tuanya. Saya berusaha menguatkannya. Selagi orang tua masih hidup, luangkan waktu untuk mereka. Jika mereka membutuhkan kita, berusahalah hadir sekuat tenaga.
Sebab, pekerjaan bisa menunggu. Agenda bisa diatur kembali. Namun, waktu bersama orang tua terus berjalan, dan tak seorang pun tahu berapa lama kesempatan itu masih tersisa.
***
Cobalah membayangkan seorang ibu yang mendadak sakit. Anak-anaknya sedang sibuk bekerja. Ada rapat yang sudah dijadwalkan, pekerjaan yang harus segera diselesaikan, dan tanggung jawab yang tak bisa begitu saja ditinggalkan.
Di tengah kesibukan itu, siapa yang akan mengantarnya ke rumah sakit?
Atau, seorang ayah yang mulai kesulitan berjalan. Dia tak lagi meminta banyak hal. Hanya ingin ditemani ke masjid. Diajak berbincang. Atau didengarkan ceritanya yang terkadang berulang.
Kita mungkin sudah mendengar cerita itu. Berkali-kali. Kita mungkin juga sedang lelah setelah seharian bekerja. Namun, bagi orang tua, bercerita bisa menjadi cara untuk menjaga kedekatan dengan anak-anaknya.
Mereka tidak selalu membutuhkan uang dalam jumlah besar. Kadang-kadang, mereka hanya butuh waktu. Sebuah telepon yang tidak terburu-buru. Kunjungan yang tidak disertai kegelisahan untuk segera pulang. Atau kesediaan duduk di samping mereka tanpa sibuk menatap layar telepon.
Kita sering mengira telah membahagiakan orang tua dengan memenuhi kebutuhan hidupnya. Padahal, kebutuhan mereka tidak berhenti pada urusan materi.
Ada kerinduan yang tak bisa dibayar dengan transfer. Ada kesepian yang tak selesai dengan kiriman hadiah. Ada hati yang hanya ingin merasa bahwa dirinya masih penting bagi anak-anaknya.
Tentu, kita tetap harus menjalankan pekerjaan dan tanggung jawab lainnya. Berbakti kepada orang tua bukan berarti mengabaikan semua urusan kehidupan.
Namun, ketika orang tua benar-benar membutuhkan pertolongan, kita perlu menimbang kembali prioritas.
Jangan sampai kita begitu sigap memenuhi undangan orang lain, tetapi berkali-kali menunda kunjungan kepada ayah dan ibu sendiri.
***
Saya merasakan sendiri betapa pentingnya kehadiran orang tua ketika anak-anak mereka telah dewasa dan berumah tangga.
Ketika masih kecil, kami tinggal dalam satu rumah. Bertemu setiap hari. Makan bersama. Berbagi cerita. Perselisihan kecil pun biasanya selesai tanpa perlu banyak perhitungan.
Namun, kehidupan berubah ketika masing-masing anak mulai membangun rumah tangga. Kami mempunyai rumah sendiri. Pekerjaan sendiri. Pasangan hidup. Anak-anak yang harus dibesarkan Dan urusan yang semakin beragam.
Jarak bukan hanya soal kilometer. Kesibukan juga menciptakan jarak yang tidak terlihat. Pertemuan yang dahulu berlangsung setiap hari berubah jadi sesekali. Percakapan yang dulu mengalir begitu saja kini harus diawali dengan pesan di grup keluarga.
Untuk berkumpul, kami perlu menyamakan jadwal. Ada yang bekerja, ada yang harus mengurus anak, ada pula yang sudah memiliki agenda lain. Masing-masing mempunyai alasan. Dan alasan itu sering kali masuk akal.
Di tengah perubahan tersebut, orang tua menjadi perekat keluarga. Ibu, misalnya, bisa menelepon seorang anak hanya untuk menanyakan kabar. Lalu menelepon anak yang lain untuk menyampaikan bahwa saudaranya sedang sibuk bekerja.
Ia mengingat ulang tahun cucu-cucunya. Ia menanyakan siapa yang belum berkunjung. Ia mengusulkan agar kami pulang pada akhir pekan.
Ayah mungkin tidak banyak bicara. Namun, ketika ia mengundang anak-anaknya datang, undangan itu mempunyai daya panggil tersendiri.
Kami berusaha hadir. Bukan semata-mata karena ada acara, melainkan karena ada orang tua yang ingin bertemu.
Di rumah itu, kami kembali menjadi anak-anak. Kami duduk bersama. Makan dari hidangan yang sama. Tertawa mengenang masa lalu, dan sesekali berdebat tentang hal-hal kecil.
Anak-anak kami bermain bersama. Para menantu ikut berbincang. Cerita lama muncul kembali. Lengkap dengan kisah-kisah yang sudah berkali-kali diceritakan.
Orang tua seperti memiliki kemampuan menyatukan banyak kepala dalam satu meja. Mereka menjadi titik temu bagi anak-anak yang kini memiliki dunia masing-masing.
Bahkan. ketika ada perbedaan pendapat atau ego yang meninggi, kehadiran mereka sering membuat kami berpikir ulang.
Ada perasaan yang sulit dijelaskan: kami boleh berbeda, tetapi kami tetap bersaudara. Kami boleh sibuk dengan kehidupan masing-masing, tetapi ada rumah yang menghubungkan kami.
Rumah itu bukan sekadar bangunan. Di dalamnya ada orang-orang yang telah membesarkan kami. <engajarkan kami berbagi. Dan membuat kami mengenal arti keluarga.
Orang tua tidak harus selalu menasihati untuk menjaga kerukunan anak-anaknya. Terkadang, kehadiran mereka saja sudah cukup untuk membuat kami pulang, duduk bersama, dan kembali merasakan kedekatan yang perlahan tergerus kesibukan.
***
Lalu, orang tua meninggal dunia. Kehilangan itu tidak hanya menghadirkan kesedihan karena kami tak lagi bisa melihat wajah mereka. Ada sesuatu yang perlahan berubah dalam kehidupan keluarga.
Pada awalnya, kami masih sering berkumpul. Ada masa berkabung. Berdoa bersama. Berbagai urusan yang mengharuskan kami bertemu. Namun, setelah waktu berjalan, kehidupan kembali membawa kami ke jalur masing-masing.
Pekerjaan menunggu. Anak-anak bertumbuh. Tanggung jawab bertambah. Kesibukan yang dahulu sesekali terhenti karena panggilan orang tua kini berjalan terus tanpa jeda yang sama.
Tak ada lagi telepon ibu yang menanyakan kapan kami pulang. Tak ada lagi suara ayah yang mengingatkan agar kami menyempatkan diri berkumpul.
Tak ada lagi seseorang yang selalu merasa bahwa anak-anaknya, sesibuk apa pun mereka, seharusnya pulang dan duduk bersama.
Kami masih bersaudara. Kasih sayang itu tidak hilang. Kami masih bisa saling membantu ketika ada yang membutuhkan. Kami masih bisa bertemu pada hari raya atau dalam acara keluarga.
Namun, harus diakui, dorongan untuk berkumpul tidak selalu sebesar dahulu.
Dulu, kami pulang karena orang tua ada di rumah. Kini, kami harus mencari alasan dan waktu untuk bertemu.
Dulu, satu panggilan dari ibu bisa mengumpulkan kami. Kini, beberapa pesan di grup keluarga kadang belum cukup untuk menyatukan jadwal.
Rumah yang dahulu ramai bisa menjadi tempat yang sunyi. Bukan karena dindingnya berubah, melainkan karena orang yang menjadi pusat keramaian itu sudah tidak ada.
Pada saat-saat tertentu, kenangan datang tanpa diminta. Kami merindukan masakan ibu. Kami mengingat kebiasaan ayah.
Kami membayangkan bagaimana mereka akan menanggapi kabar terbaru tentang cucu-cucunya. Ada cerita yang ingin kami sampaikan, tapi tak lagi tahu harus ditujukan kepada siapa.
Di situlah terasa bahwa kehilangan orang tua bukan hanya kehilangan seseorang yang kita cintai. Kita juga kehilangan tempat kembali. Pusat kenangan. Juga salah satu pengikat yang membuat keluarga tetap dekat.
Kami baru benar-benar memahami betapa berharganya kehadiran mereka ketika tak ada lagi kesempatan untuk mengulanginya.
Seandainya waktu bisa diputar, mungkin kita ingin lebih sering pulang. Duduk lebih lama. Mendengarkan cerita yang sama tanpa tergesa-gesa.
Menemani mereka berobat tanpa terus memikirkan pekerjaan. Mengangkat telepon mereka dengan suara yang lebih ramah.
Sayangnya, hidup tidak menyediakan tombol untuk mengulang waktu. Yang tersisa adalah kenangan, doa, dan kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan saudara. Juga menjaga ikatan keluarga yang dahulu dirawat oleh orang tua.
***
Islam mengajarkan bahwa berbakti kepada orang tua bukan perkara kecil. Kedudukannya begitu penting, bahkan disebut beriringan dengan perintah menyembah Allah.
Allah berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 23: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.”
Allah kemudian melarang kita mengatakan “ah” kepada orang tua, membentak mereka, atau mengucapkan perkataan yang menyakiti hati. Sebaliknya, kita diperintahkan bertutur kata yang mulia.
Perintah ini berasa semakin penting ketika usia orang tua bertambah. Tubuh mereka melemah. Langkah mereka melambat. Pendengaran dan ingatan mungkin tak lagi sekuat dahulu.
Mereka yang dulu menggendong dan menuntun kita kini bisa jadi harus berpegangan pada lengan kita untuk berjalan.
Dulu, mereka bersabar menghadapi tangis kita. Kini, giliran kita belajar bersabar menghadapi pertanyaan yang berulang, permintaan yang sama, atau kebiasaan mereka yang tak lagi mudah kita pahami.
Allah juga mengingatkan dalam Surah Luqman ayat 14 tentang perjuangan seorang ibu yang mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapih anaknya dalam dua tahun. Karena itu, manusia diperintahkan bersyukur kepada Allah dan kepada kedua orang tuanya.
Ada perjuangan panjang di balik keberadaan kita hari ini. Ada malam-malam tanpa tidur, biaya sekolah yang dicari dengan susah payah. Kekhawatiran ketika kita sakit, serta doa yang mungkin tak pernah kita dengar.
Kita tumbuh dewasa. Kita merasa mampu mengurus kehidupan sendiri. Namun, jangan sampai keberhasilan itu membuat kita lupa kepada orang-orang yang mengantarkan kita sampai di sini.
Rasulullah saw. bahkan menyebut kedudukan orang tua sebagai pintu surga. Dari Abu Darda ra, Rasulullah saw. bersabda: “Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah. Jika engkau mau, sia-siakanlah pintu itu atau jagalah ia.” (HR. At-Tirmidzi, no. 1900; dinilai sahih oleh sejumlah ulama)
Hadis ini mengandung peringatan sekaligus harapan. Orang tua bukan sekadar sosok yang harus kita hormati karena hubungan darah. Berbakti kepada mereka merupakan jalan besar menuju rida Allah dan surga-Nya.
Lantas, bagaimana jika orang tua telah meninggal dunia?
Kesempatan berbakti tidak sepenuhnya tertutup. Kita masih bisa mendoakan mereka, memohonkan ampunan kepada Allah, menyambung silaturahmi dengan kerabat yang mereka cintai, serta meneruskan kebaikan yang pernah mereka ajarkan.
Dalam hadis sahih riwayat Muslim, Rasulullah saw. menjelaskan bahwa ketika manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara, salah satunya anak saleh yang mendoakannya (HR. Muslim, no. 1631).
Doa seorang anak menjadi salah satu hadiah yang terus bisa dikirimkan kepada orang tua yang telah tiada.
Namun, bagi kita yang orang tuanya masih hidup, jangan menunggu sampai hanya doa yang bisa kita berikan.
Teleponlah mereka hari ini. Tanyakan kabarnya dengan sungguh-sungguh. Jika mereka sakit, usahakan untuk menemani. Jika mereka ingin bercerita, dengarkan. Jika mereka ingin bertemu, carilah waktu.
Jika ada kesalahan mereka yang membuat hati kita terluka, upayakan menyelesaikannya dengan cara yang baik.
Jangan sampai kita mampu meluangkan waktu untuk banyak orang, tapi selalu merasa kekurangan waktu untuk ayah dan ibu sendiri.
Jangan sampai kita begitu sigap memenuhi undangan orang lain, tetapi berkali-kali menunda kunjungan kepada orang tua.
Dan, jangan sampai kita baru menyadari betapa berharganya suara ibu setelah teleponnya tak mungkin lagi berdering. Baru menyadari betapa pentingnya kehadiran ayah setelah kursinya kosong dan tak ada lagi yang duduk di sana.
Bagi yang masih memiliki orang tua, berbahagialah. Mungkin mereka tidak lagi sekuat dahulu.
Mungkin langkah mereka melambat, pendengaran mereka berkurang, dan cerita mereka berulang-ulang. Namun, selama mereka masih ada. Kita masih memiliki kesempatan untuk berbakti.
Kita masih bisa menggenggam tangannya. Masih bisa meminta maaf. Masih bisa membuat mereka tersenyum. Masih bisa pulang dan duduk bersama.
Jangan menunggu kehilangan untuk memahami arti kehadiran. Sebab, suatu hari nanti, kita mungkin akan merindukan hal-hal yang hari ini terasa biasa: suara ibu dari ruang tengah, panggilan ayah dari halaman, atau pertanyaan sederhana, “Kapan pulang?”
Saat itu, yang kita inginkan bukan lagi rumah yang besar, pekerjaan yang selesai, atau agenda yang berjalan sempurna.
Kita hanya ingin satu kesempatan lagi untuk berada di dekat mereka. Selagi kesempatan itu masih ada, muliakanlah orang tua. Rawatlah mereka dengan kasih sayang. Jadikan kesibukan sebagai alasan untuk mengatur waktu, bukan alasan untuk menjauh.
Sebab, bagi seorang anak, orang tua bukan sekadar bagian dari masa lalu. Mereka adalah amanah yang masih bisa dijaga hari ini, sekaligus salah satu jalan terbaik menuju surga.
Jangan biarkan pintu itu terlewat ketika ia masih terbuka. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments