MINA — Tanggal 7 Dzulhijjah 1447 Hijriah atau bertepatan dengan Ahad (24/5/2026) menjadi hari persiapan penting bagi jamaah KBIHU Jabal Nur sebelum memasuki puncak pelaksanaan ibadah haji.
Pada hari itu belum ada rangkaian ibadah haji khusus yang dilaksanakan. Seluruh jamaah lebih difokuskan untuk beristirahat sekaligus mempersiapkan perlengkapan menuju Tarwiyah di Mina.
Tarwiyah sendiri akan menjadi awal perjalanan panjang menuju puncak haji, mulai dari mabit di Mina, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, hingga kembali lagi ke Mina untuk melontar jumrah.
Karena itu sejak pagi jamaah diimbau untuk menghemat tenaga.
Koper kecil mulai disiapkan. Kain ihram dirapikan. Obat-obatan pribadi dicek ulang. Sebab setelah memasuki Mina, seluruh jamaah akan menjalani rangkaian ibadah dengan kondisi fisik dan mental yang benar-benar diuji.
Awalnya keberangkatan menuju Mina direncanakan sekitar pukul 20.00 atau setelah salat Isya. Namun jadwal berubah setelah pihak syarikah mengalihkan waktu keberangkatan menjadi selepas salat Ashar.
Perjalanan Menuju Mina yang Penuh Kesabaran
Selepas salat Ashar, jamaah KBIHU Jabal Nur dibagi ke dalam lima bus untuk berangkat menuju Mina.
Secara jarak sebenarnya perjalanan tidak terlalu jauh dari hotel di Makkah. Namun kondisi lalu lintas menjelang puncak haji membuat perjalanan terasa panjang.
Bus beberapa kali harus memutar karena sejumlah ruas jalan ditutup.
Kemacetan pun tidak bisa dihindari.
Ribuan kendaraan jamaah dari berbagai negara bergerak menuju arah yang sama: Mina.
Ketika tiba di Mina, jamaah ditempatkan di Markaz 74. Padahal sebenarnya markaz utama KBIHU Jabal Nur berada di Markaz 78. Namun khusus pelaksanaan Tarwiyah seluruh jamaah dipusatkan di satu lokasi.
Suasana Mina saat itu sudah dipenuhi lautan tenda putih yang berdiri berjajar di antara bukit-bukit batu.
Di situlah jutaan manusia berkumpul hanya dengan satu tujuan: memenuhi panggilan Allah.
Tidak Banyak Aktivitas, Tetapi Sangat Menguras Hati
Pelaksanaan Tarwiyah sebenarnya tidak diisi dengan ibadah khusus tertentu.
Aktivitas jamaah lebih banyak diisi dengan salat berjamaah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, lalu beristirahat. Setelah itu kembali salat, mengaji, berdzikir, dan begitu seterusnya hingga malam 9 Dzulhijjah.
Namun justru di tempat seperti inilah kesabaran dan keikhlasan benar-benar diuji.
Karena beberapa KBIHU digabung dalam satu tenda besar, maka toleransi menjadi hal yang sangat penting.
Di dalam tenda terdapat jamaah dari Surabaya, Probolinggo, Banjarmasin, dan daerah lainnya. Semua berbaur menjadi satu tanpa membedakan asal daerah maupun kelompok.
Pelaksanaan salat disepakati menggunakan satu imam dan seluruh jamaah mengikuti bersama. Para imam bergantian memimpin salat sesuai kesepakatan dan suasana berjalan sangat tertib.
Tidak ada perdebatan.
Tidak ada yang merasa paling benar.
Semua saling menghormati demi menjaga kenyamanan bersama sebagai tamu Allah.
Selama di Mina, salat dilaksanakan dengan qashar tanpa jamak. Salat Zuhur, Ashar, dan Isya yang biasanya empat rakaat dipersingkat menjadi dua rakaat dan semuanya dilakukan tepat waktu berjamaah sesaat setelah adzan berkumandang.
Dingin di Dalam Tenda, Panas di Luar Tenda
Saya sendiri lebih banyak bertahan di dalam tenda.
Cuaca di luar terasa sangat panas sehingga aktivitas hanya dilakukan seperlunya, terutama ketika harus menuju kamar mandi.
Semua kegiatan dipusatkan di dalam tenda: makan, istirahat, mengaji, berdzikir, bahkan salat.
Bangunan tenda di Mina ternyata sudah sangat baik. Tenda semi permanen itu dilengkapi pendingin udara portable di banyak titik sehingga suasana di dalam terasa dingin.
Bahkan pada malam hari beberapa AC dimatikan karena udara terlalu dingin.
Namun kondisi kamar mandi menjadi tantangan tersendiri.
Menjelang waktu salat, antrean jamaah sangat panjang sementara jumlah kamar mandi terbatas dibanding jutaan jamaah yang datang.
Karena itu sebagian jamaah membawa botol semprot kecil berisi air untuk membantu bersuci agar lebih praktis dan menghemat waktu.
Semua belajar sabar.
Semua belajar sederhana.
Dan semua belajar bahwa ibadah haji bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga latihan mengendalikan hati dan ego.
Setiap selesai salat, suara talbiyah terus menggema di dalam tenda Mina:
Labbaik Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk, la syarika lak.
Suara itu terdengar lirih, tetapi mampu mengguncang hati siapa saja yang mendengarnya.
Di Mina, jutaan manusia benar-benar merasa kecil di hadapan Allah.





0 Tanggapan
Empty Comments