Halalbihalal Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ngagel Surabaya kali ini sangat istimewa, Ahad (19/4/2026). Bukan hanya karena diselenggarakan di luar bulan Syawal seperti halalbihalal pada umumnya, tapi juga topiknya. Acara itu bertopik Konflik Timur Tengah dan Peradaban Dunia Islam, dengan menghadirkan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Syafiq A. Mughni.
Mengawali ceramahnya, Syafiq menyampaikan bahwa Muhammadiyah mempunyai reputasi cukup baik. Baik di mata nasional maupun internasional. Dalam masalah internasional, Syafiq menceritakan berbagai diskusi yang dilakukan di internal Muhammadiyah.
“Dalam internal Muhammadiyah, seringkali melakukan diskusi bagaimana Muhammadiyah bersikap terhadap persoalan atau isu-isu dunia internasional yang sedang terjadi. Dan, bagaimana dampaknya juga pada masyarakat maupun warga Muhammadiyah,” cerita Syafiq.
Dalam kenyataaanya, lanjut Syafiq, sikap resmi Muhammadiyah pun tidak jarang berbeda pendapat dengan individu yang juga tokoh Muhammadiyah. Sekalipun prinsipnya sama, namun hal ini sering menimbulkan kebingungan warga Muhammadiyah: sikap mana yang diikuti.
“Karena itu, sebaiknya warga Muhammadiyah lebih mengikuti sikap resmi yang diputuskan oleh Muhammadiyah,”
Terkait dengan konflik Timur Tengah, guru besar Universitas Islam Negeri Surabaya (UINSA) ini menyampaikan ada delapan poin. Pertama, persoalan Israel. Faktor pemicu konflik dunia yang berlangsung sejak awal abad ke-20 sampai sekarang itu adalah keberadaan Israel.
Syafiq secara singkat menjelaskan tentang kemunculan Israel ini, hingga sampai kini terus memunculkan perselisihan. Pada zaman Dinasti Turki Utsmani, kata Syafiq, wilayah Timur Tengah keseluruhan dikuasai Dinasti ini, termasuk negara-negara Eropa timur. Semakin hari kekuasaan dinasti ini semakin lemah.
Lama-kelamaan, wilayah dinasti ini dikapling-dikapling menjadi beberapa negara. Negara di Timur Tengah dianggap menjadi “momongan” negara Eropa. Sebab, masih baru dan dianggap belum mampu menjadi negara mandiri. Termasuk negara Palestina yang menjadi “momongan” Inggris. Mereka berdalih jika kelak sudah “dewasa”, akan dibebaskan.
Saat dalam kekuasaan Inggris inilah, ia melanjutkan, sebagian wilayah Palestina diberikan Israel. “Karena kasihan, untuk menampung orang-orang Yahudi,” lanjut Syafiq.
Maka terjadilah ketegangan, orang Palestina diseret, ditendang, diusir dari rumah dan wilayah mereka agar mau pindah dari tempat itu. Penderitaan dialami warga Palestina yang terusir. Berulang kali dilakukan perundingan, namun hingga hari ini tidak ada kesepakatan.
Kedua, sikap Amerika yang menjadi pendukung utama Israel. Tidak bisa dipungkiri lobi orang-orang Yahudi di Washington sangat kuat sehingga mempengaruhi keputusan dan sikap Amerika. “Tiap ada keputusan dari PBB, yang kira-kira tidak menguntungkan Israel, maka sudah pasti akan di veto oleh Amerika,” ungkapnya.
Ketiga, posisi Iran yang tidak mau tunduk terhadap Amerika. Penyerangan terhadap negara Iran dengan dalih Iran punya program nuklir. “Iran punya nuklir, itu bahaya. Namun tidak adil rasanya, negara lain yang punya nuklir tidak dipermasalahkan,” jelasnya.
Keempat, negara-negara teluk yang lebih patuh pada Amerika. Hampir di semua negara-negara teluk terdapat pangkalan militer Amerika. Bagaimana usaha Amerika menekan beberapa negara tersebut agar tunduk, bahkan dengan ancaman. “Nah, apakah itu termasuk juga Indonesia? Wallahu a’lam,” ungkapnya sambil tertawa.

Kelima, embargo Iran. Meski diembargo, Iran hingga saat ini tetap menjadi negara yang bisa survive. Syafiq pun bercerita saat berkunjung ke Iran, ia bisa melihat langsung program pemerintahan bisa dijalankan dengan baik, kebersihan, dan pendidikan tetap berjalan. “Kekuatan Iran saat diembargo adalah kepercayaan rakyatnya terhadap pemerintah. Sehingga mereka mau berkorban baik dengan harta untuk kepentingan negara.”
Keenam, adalah politik Amerika. Segala sesuatu yang menguntungkan bagi Amerika, maka Amerika akan dukung. Justru sebaliknya jika ada kesepakatan yang tidak menguntungkan, ia akan veto.
Ketujuh, nasib lembaga multilateral. Lembaga-lembaga dunia seperti PBB saat ini tidak berfungsi. Sering kali tidak ada kesepakatan jika itu tidak menguntungkan kepentingan Amerika.
Kedelapan adalah sikap Muhammadiyah. Muhammadiyah bukanlah organisasi politik, maka sikap Muhammadiyah adalah jelas berjuang untuk kemerdekaan dan kedaulatan Palestina. Namun, catat Syafiq, support itu memang sebatas soal dukungan moral, diplomasi, dan kemanusiaan.
Mengakhiri ceramahknya, Syafiq menekankan dengan memegang prinsip itulah Muhammadiyah bersikap terhadap persoalan dunia. Termasuk tentang Board of Peace (BOP), konflik Palestina-Israel, dan isu lainnya.
Acara halalbihalal ini diselenggarakan di SMA Muhammadiyah 2 (SMAMDA) Tower lantai 6. Diikuti oleh guru dan karyawan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), anggota Ranting Muhammadiyah dan Aisyiyah se cabang Ngagel.





0 Tanggapan
Empty Comments