Ketua MPKU PWM Jatim Prof. Mundakir di Peking University Shenzhen Hospital. Foto: Rudi Utomo/PWMU.CO
pwmu.co -
Inilah alasan tujuh direktur Muhammadiyah-Aisyiyah Jawa Timur dibawa ke Guangzhou dan Shenzhen, Tiongkok, pada 13–19 April 2026. Langkah ini menjadi strategi Majelis Pembinaan Kesehatan Umum (MPKU) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim untuk menyiapkan pengelolaan layanan kesehatan yang profesional, efisien, dan bermutu melalui pembelajaran langsung digitalisasi, teknologi informasi, serta pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) di institusi kesehatan modern.
Tujuh direktur yang dipercaya sebagai leader tersebut berasal dari RS Siti Khodijah Muhammadiyah Cabang Sepanjang, RSI Aisyiyah Malang, RSM Lamongan, RSM Ahmad Dahlan Kota Kediri, RSU Aisyiyah Ponorogo, RS Aisyiyah Bojonegoro, dan RSI Fatimah Banyuwangi.
Dalam wawancaranya dengan PWMU.CO, Ketua MPKU PWM Jatim Prof. Dr. Mundakir, S.Kep, Ns, M.Kep, menjelaskan, penunjukan tujuh direktur RSMA Jawa Timur itu bukan tanpa alasan. Menurutnya, keikutsertaan mereka dalam kunjungan ke Guangzhou dan Shenzhen merupakan tindak lanjut konkret dari pertemuan pembentukan holding atau grouping RSMA di Jawa Timur.
Mundakir menegaskan, tujuh rumah sakit yang ditunjuk sebagai leader ini diharapkan tidak sekadar hadir sebagai peserta kunjungan, melainkan menjadi pengamat aktif, pembelajar serius, dan penggerak perubahan bagi jaringan RSMAi di Jawa Timur.
“Mereka diminta untuk mengamati secara langsung, mempelajari secara mendalam, bahkan bila perlu meniru dan menindaklanjuti hal-hal baik yang dapat diadopsi dan diimplementasikan di rumah sakit Muhammadiyah-’Aisyiyah di Jawa Timur,” ujar rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) itu.
Foto: Rudi Utomo/PWMU.CO
Selama kunjungan yang berlangsung selama 13–19 April 2026, para direktur mendapatkan kesempatan melihat langsung bagaimana rumah sakit modern dan industri pendukung layanan kesehatan dikelola secara maju, terintegrasi, dan visioner.
Di Guangzhou, rombongan mengunjungi Guangzhou Women and Children Medical Center, The First Affiliated Hospital of Jinan University (Guangzhou Overseas Chinese Hospital), Guangzhou Yikang Medical Equipment Industrial, serta perusahaan mobil listrik GAC AION. Mereka juga menyaksikan secara langsung Canton Fair 2026, salah satu pameran perdagangan terbesar yang menjadi etalase berbagai inovasi teknologi dunia.
Sementara di Shenzhen, para direktur berkunjung ke Peking University Shenzhen Hospital dan kantor Shenzhen Mindray Bio-Medical Electronics, salah satu perusahaan alat kesehatan ternama yang dikenal dengan pengembangan teknologi medis modern.
Dari seluruh rangkaian kunjungan tersebut, lanjut Prof Mundakir yang juga Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), ada pelajaran besar yang sangat relevan bagi masa depan RSMA di Jawa Timur. Hampir seluruh institusi yang dikunjungi, khususnya rumah sakit, telah dikelola dengan optimalisasi digitalisasi, sistem teknologi informasi, dan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI).
Menurutnya, digitalisasi dan AI bukan sekadar simbol modernitas, tetapi telah menjadi instrumen penting untuk mendorong inovasi layanan, efisiensi kerja, optimalisasi proses, pencegahan human error, dan peningkatan mutu pelayanan.
“Dari semua yang kami kunjungi, terlihat bahwa rumah sakit-rumah sakit di sana sudah dikelola dengan sangat baik melalui optimalisasi IT, digitalisasi, dan AI. Ini bukan hanya soal teknologi, tetapi soal bagaimana teknologi digunakan untuk mempercepat layanan, mengefisienkan proses, mengurangi kesalahan manusia, dan menjaga kualitas pelayanan tetap tinggi,” jelas Mundakir.
Bagi dia, pengalaman itu harus menjadi cermin sekaligus motivasi bagi RSMA di Jawa Timur untuk bergerak lebih progresif. Dia menekankan bahwa RSMA ke depan harus dikelola secara profesional, efektif, efisien, dan tetap mengedepankan mutu sebagai inti pelayanan.
Karena itu, optimalisasi IT, digitalisasi, dan AI dipandang sebagai salah satu jawaban strategis dalam menghadapi tuntutan zaman, kompetisi layanan kesehatan, dan harapan masyarakat yang terus meningkat.
Namun transformasi rumah sakit, menurutnya, tidak berhenti pada aspek pelayanan klinis dan manajemen teknologi semata. Efisiensi juga harus dibangun dari sisi penunjang layanan, termasuk dalam hal pengadaan alat kesehatan.
Saat mengunjungi berbagai tempat dan industri alat kesehatan, Prof Mundakir menitipkan pesan penting agar rumah sakit tetap menjaga efisiensi tanpa mengorbankan mutu. Salah satu caranya adalah dengan memastikan pengadaan alat kesehatan dilakukan secara terkonsolidasi, terencana, dan dikelola dengan baik.
Dalam konteks inilah, ia menekankan pentingnya peran PT Surya Medika Timur sebagai instrumen konsolidasi pengadaan alat kesehatan bagi jaringan RSMA di Jawa Timur. Melalui konsolidasi yang kuat, rumah sakit diharapkan dapat memperoleh harga yang lebih terjangkau, produk yang berkualitas, serta layanan purna jual (after sales service) yang terbaik, termasuk perawatan alat secara berkelanjutan.
“Rumah sakit harus tetap efisien. Salah satu kuncinya adalah pengadaan alat kesehatan sebagai penunjang kualitas layanan harus dikonsolidasikan dengan baik melalui PT Surya Medika Timur. Dengan begitu, rumah sakit bisa mendapatkan harga yang sangat terjangkau, produk yang berkualitas, dan layanan after sales yang baik,” tegasnya.
Foto:Isitimewa/PWMU.CO
Lebih dari sekadar kunjungan studi, perjalanan ke Guangzhou dan Shenzhen ini membawa pesan besar tentang pentingnya kepemimpinan, pembelajaran, dan keberanian berubah. Tujuh direktur yang ditunjuk sebagai leader holding tidak hanya diharapkan membawa cerita pulang, tetapi juga membawa gagasan, semangat, dan model transformasi yang bisa ditularkan ke jaringan RSMA lainnya di Jawa Timur.
Di tengah tantangan dunia kesehatan yang kian kompleks, langkah MPKU PWM Jawa Timur ini menunjukkan bahwa penguatan rumah sakit tidak cukup hanya dengan kerja rutin. Diperlukan visi bersama, kolaborasi antar-rumah sakit, tata kelola profesional, efisiensi yang terukur, dan keberanian mengadopsi inovasi untuk menjaga keberlanjutan layanan.
Mundakir berharap hasil kunjungan ini benar-benar tidak berhenti sebagai agenda seremonial. Ia menegaskan bahwa seluruh pengalaman, pelajaran, dan jejaring yang diperoleh selama di Guangzhou dan Shenzhen harus dapat ditindaklanjuti dalam bentuk kerja sama nyata maupun implementasi konkret bagi pengembangan jaringan RS Muhammadiyah-’Aisyiyah di Jawa Timur.
“Kunjungan ini harus ada tindak lanjutnya. Harapannya, ke depan bisa dibangun kerja sama, dan yang paling penting hasil dari kunjungan ini benar-benar bisa diimplementasikan untuk kemajuan jaringan RSMA di Jawa Timur,” pungkasnya.
Langkah ini sekaligus menegaskan bahwa masa depan rumah sakit Muhammadiyah-’Aisyiyah di Jawa Timur tidak hanya dibangun dengan semangat pelayanan, tetapi juga dengan manajemen modern, efisiensi yang cerdas, mutu yang terjaga, dan inovasi yang berkelanjutan. (*)
0 Tanggapan
Empty Comments