Generasi Z kerap mendapat stigma sebagai generasi stroberi, yakni generasi yang terlihat kuat dan menarik dari luar, tetapi dianggap mudah rapuh ketika menghadapi tekanan.
Di tengah derasnya tuntutan era digital, stereotip tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi anak muda masa kini.
Melihat kondisi tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berupaya membangun ketahanan mental mahasiswa melalui pendekatan psikologis yang adaptif dan relevan dengan perkembangan zaman.
Sebagai bentuk komitmen tersebut, Fakultas Psikologi UMM menggelar kuliah tamu internasional bertajuk “From Risk to Resilience: Psychological Approaches in Youth Development” di Aula GKB IV lantai 4 pada Jumat (8/5/2026). Kegiatan ini menghadirkan akademisi dari Universiti Kebangsaan Malaysia, Nasrudin Subhi.
Dalam pemaparannya, Nasrudin menjelaskan bahwa tantangan yang dihadapi mahasiswa saat ini tidak lagi sebatas tugas kuliah atau tekanan akademik.
Menurutnya, generasi muda kini juga dihadapkan pada ancaman di ruang digital, seperti perundungan siber hingga penyalahgunaan zat berbahaya yang dapat memengaruhi kondisi mental.
Ia juga menyoroti pola asuh modern yang dinilai terlalu protektif sehingga membuat sebagian remaja kesulitan beradaptasi ketika memasuki dunia perkuliahan yang menuntut kemandirian.
Kondisi tersebut dapat memicu culture shock dan berpotensi menimbulkan berbagai persoalan psikologis apabila tidak ditangani dengan baik.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, Nasrudin menekankan pentingnya membangun resiliensi mental sejak dini.
Salah satu langkah utama yang perlu dimiliki mahasiswa adalah sikap asertif, yakni kemampuan untuk menentukan batasan dan berani mengatakan “tidak” demi kebaikan diri sendiri.
Selain itu, ia menilai dukungan sosial atau social support memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental mahasiswa.
Menurutnya, lingkungan pertemanan yang sehat dapat menjadi ruang saling menguatkan, terutama ketika menghadapi masa-masa sulit.
Sementara itu, Ketua Program Studi Psikologi UMM, Hanif Akhtar, menyampaikan bahwa kolaborasi internasional tersebut merupakan bagian dari upaya kampus dalam membekali mahasiswa menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
“Mahasiswa saat ini hidup di tengah tantangan yang sangat dinamis. Karena itu, mereka perlu memahami faktor risiko sekaligus memiliki kemampuan resiliensi agar mampu berkembang secara adaptif,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, UMM tidak hanya menghadirkan wawasan akademik, tetapi juga memperluas perspektif mahasiswa melalui jejaring internasional.
Forum tersebut diharapkan dapat menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk membangun mental yang tangguh, adaptif, dan siap menghadapi tantangan masa depan.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments