Majelis Pembinaan Kesehatan Umum (MPKU) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim terus mendorong penguatan tata kelola rumah sakit Muhammadiyah–Aisyiyah di tengah tantangan pembiayaan kesehatan yang semakin kompleks. Salah satu langkah strategis tersebut diwujudkan melalui pelatihan Unit Cost System (UCS) yang digelar bekerja sama dengan Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan.
Kegiatan pelatihan UCS ini dilaksanakan di salah satu hotel di Surabaya pada Jumat–Sabtu, 24–25 April 2026. Pelatihan tersebut menjadi forum penting bagi jaringan RS Muhammadiyah–Aisyiyah se-Jawa Timur untuk memperkuat kemampuan menghitung biaya layanan secara lebih akurat, efisien, dan berbasis data.
Kerja sama MPKU PWM Jatim dengan RSM Lamongan dalam pelatihan ini bukan tanpa alasan. RSM Lamongan dinilai telah memiliki pengalaman nyata dalam menerapkan Unit Cost System serta merumuskan ratusan Panduan Praktik Klinis atau Clinical Pathway berbasis unit cost. Penerapan tersebut terbukti memberikan dampak cukup signifikan terhadap peningkatan kinerja rumah sakit, terutama dalam aspek efisiensi pembiayaan dan penguatan mutu layanan.
Di tengah era Jaminan Kesehatan Nasional atau JKN, rumah sakit dihadapkan pada pola pembiayaan berbasis paket melalui tarif INA-CBGs. Kondisi ini menuntut rumah sakit tidak hanya mampu memberikan pelayanan bermutu, tetapi juga mampu mengendalikan biaya secara tepat.
Karena itu, keberadaan UCS menjadi semakin penting sebagai alat bantu manajemen untuk mengetahui biaya riil setiap layanan, menilai efisiensi, menyusun strategi tarif, serta menjaga keberlanjutan rumah sakit.
Ketua Panitia Pelaksana, Edy Yusuf, M.Kes, melaporkan bahwa pelatihan ini diikuti oleh 30 Rumah Sakit Muhammadiyah–Aisyiyah di Jatim. Masing-masing rumah sakit mengirimkan empat peserta yang terdiri dari direktur, kepala bidang pelayanan medis atau bagian casemix, kepala bagian keuangan, serta bagian IT.
Menurut Edy Yusuf, komposisi peserta tersebut sengaja dirancang agar pelatihan UCS tidak hanya dipahami dari sisi keuangan, tetapi juga menjadi gerakan lintas bidang di rumah sakit.
“Unit cost tidak bisa hanya dikerjakan oleh bagian keuangan. Ini harus menjadi kerja bersama antara manajemen, pelayanan medis, casemix, keuangan, dan IT. Karena itu, setiap rumah sakit mengirimkan tim lengkap agar setelah pelatihan bisa langsung melakukan tindak lanjut di rumah sakit masing-masing,” ujarnya.
Edy Yusuf menambahkan, pelatihan UCS merupakan bagian dari program kerja MPKU PWM Jatim dalam memperkuat kendali biaya di jaringan RSMA.
Menurutnya, efisiensi bukan sekadar menekan pengeluaran, tetapi memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan rumah sakit benar-benar memberi nilai bagi mutu layanan dan keberlanjutan organisasi.
“Pelatihan ini adalah bagian dari ikhtiar MPKU PWM Jatim untuk menjaga keberlanjutan RSMA ke depan. Rumah sakit harus semakin kuat dalam mengelola biaya, apalagi di tengah dinamika regulasi, perubahan sistem BPJS, dan tuntutan mutu layanan yang semakin tinggi,” jelasnya.
Dia juga menyampaikan apresiasi kepada Direktur RSM Lamongan yang telah memberikan dukungan penuh dengan menghadirkan tim terbaik sebagai narasumber dan fasilitator dalam pelatihan ini.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada Direktur RSM Lamongan beserta seluruh tim yang telah bersedia berbagi pengalaman, ilmu, dan praktik baik. Apa yang dilakukan RSM Lamongan menjadi inspirasi penting bagi jaringan RSMA di Jawa Timur,” imbuhnya.
Selain didukung oleh RSM Lamongan, kegiatan ini juga mendapat dukungan dari PT Surya Medika Timur, badan resmi Persyarikatan Muhammadiyah Jawa Timur yang bergerak dalam konsolidasi kebutuhan obat, BMHP, dan alat kesehatan bagi jaringan RSMA. Kehadiran PT Surya Medika Timur diharapkan semakin memperkuat ekosistem efisiensi rumah sakit, baik dari sisi pembiayaan layanan maupun pengadaan kebutuhan medis.
Sementara itu, Ketua MPKU PWM Jatim, Prof. Dr. Mundakir, S.Kep, Ns., M.Kep, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya pelatihan UCS tersebut.
“Pelatihan ini menjadi momentum penting bagi jaringan RSMA Jatim untuk lebih siap menghadapi perubahan sistem layanan kesehatan yang bergerak sangat cepat,” katanya.

Mundakir menegaskan, rumah sakit saat ini tidak cukup hanya bekerja dengan pola lama. Rumah sakit harus mampu membaca perubahan, mengelola risiko, menghitung biaya secara presisi, serta terus belajar dari praktik baik yang sudah terbukti berhasil.
“Pelatihan UCS ini adalah bagian dari upaya strategis jaringan RSMA Jatim untuk menghadapi perubahan sistem BPJS, dinamika regulasi layanan kesehatan, dan tantangan efisiensi pembiayaan rumah sakit. Kita tidak boleh hanya menjadi penonton perubahan, tetapi harus menjadi pelaku perubahan,” tegasnya.
Dia juga memberikan apresiasi khusus kepada tim RSM Lamongan yang dinilainya telah melakukan “ijtihad manajerial” dalam membangun dan menerapkan UCS di rumah sakit. Menurutnya, apa yang dilakukan RSM Lamongan adalah contoh nyata bagaimana rumah sakit mampu menjadi organisasi pembelajar atau learning organization.
“Apa yang sudah dilakukan oleh RSM Lamongan adalah bentuk ijtihad yang sangat penting. Mereka tidak hanya menjalankan pelayanan, tetapi juga berpikir, merumuskan, menguji, memperbaiki, dan membagikan praktik baik kepada rumah sakit lain. Inilah ciri rumah sakit sebagai learning organization,” ungkap Mundakir.
Menurutnya, learning organization menjadi kunci penting untuk menjamin eksistensi dan keberlangsungan rumah sakit Muhammadiyah–Aisyiyah.
Kata dia, rumah sakit yang mau terus belajar akan lebih mampu bertahan, beradaptasi, dan berkembang di tengah tekanan regulasi, pembiayaan, teknologi, serta tuntutan masyarakat.
“Saya berharap seluruh jaringan RSMA Jatim tidak hanya menjadi organisasi pembelajar, tetapi mampu bergerak lebih cepat menjadi Faster Learning Organization. Artinya, rumah sakit tidak hanya belajar, tetapi belajar lebih cepat dari perubahan yang terjadi,” katanya.
Dia menyebutkan setidaknya ada tiga prinsip penting yang harus dibiasakan oleh rumah sakit agar mampu menjadi organisasi pembelajar yang cepat. Pertama, openness to learn, yaitu keterbukaan untuk terus belajar dari siapa pun, termasuk dari rumah sakit lain yang telah berhasil melakukan inovasi.
Kedua, challenge of change, yaitu keberanian menghadapi perubahan sebagai tantangan, bukan ancaman.
Ketiga, stimulating leadership, yaitu kepemimpinan yang mampu merangsang lahirnya inovasi, kolaborasi, dan perubahan positif di lingkungan rumah sakit.
“RSMA Jatim harus terbuka untuk belajar, berani menghadapi perubahan, dan memiliki kepemimpinan yang mampu menstimulasi inovasi. Dengan cara itulah rumah sakit kita akan tetap relevan, kuat, dan berkelanjutan,” pesannya.
Prof. Mundakir juga menekankan bahwa efisiensi tidak boleh dimaknai sebagai pengurangan mutu layanan. Sebaliknya, efisiensi harus diarahkan untuk memastikan rumah sakit mampu memberikan pelayanan yang bermutu, terjangkau, dan berkelanjutan.
“UCS bukan semata-mata alat hitung biaya. UCS adalah instrumen strategis untuk menjaga keseimbangan antara mutu layanan, efisiensi pembiayaan, dan keberlanjutan rumah sakit,” ujarnya.
Di akhir sambutannya, Mundakir secara resmi membuka pelatihan Unit Cost System tersebut. Dia berharap seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan dengan sungguh-sungguh, membawa pulang pengetahuan praktis, dan segera mengimplementasikannya di rumah sakit masing-masing.
Pelatihan UCS ini diharapkan menjadi awal dari gerakan besar penguatan tata kelola biaya di jaringan RS Muhammadiyah–Aisyiyah Jawa Timur. Dengan kolaborasi MPKU PWM Jatim, RSM Lamongan, PT Surya Medika Timur, dan seluruh RSMA, upaya membangun rumah sakit yang efisien, bermutu, dan berkelanjutan semakin menemukan pijakannya.
Pada akhirnya, UCS bukan hanya tentang angka dan biaya. Lebih dari itu, UCS adalah ikhtiar bersama untuk memastikan rumah sakit Muhammadiyah–Aisyiyah tetap kuat melayani umat, mampu bertahan di tengah perubahan, dan terus menghadirkan pelayanan kesehatan yang bermutu bagi masyarakat.





0 Tanggapan
Empty Comments