Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Ya Tahsin Ya Healing, Cara PRA Wage Rawat Al-Qur’an dan Kebersamaan

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Ya Tahsin Ya Healing, Cara PRA Wage Rawat Al-Qur’an dan Kebersamaan
Ya Tahsin Ya Healing, Cara PRA Wage Rawat Al-Qur’an dan Kebersamaan. Foto: Istimewa/PWMU.CO
pwmu.co -

Belajar Al-Qur’an tidak selalu harus berlangsung dalam suasana formal. Majelis Tabligh Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Wage menghadirkan suasana berbeda melalui kegiatan bertajuk “Ya Tahsin Ya Healing” di Resto Ndalem Prabu, Porong, Sidoarjo, Sabtu (12/9/2026).

Sebanyak 15 peserta mengikuti kegiatan yang memadukan pembelajaran tahsin, silaturahmi, dan rekreasi. Mengenakan busana bernuansa jeans biru dengan jilbab warna-warni, para peserta tetap serius memperbaiki bacaan Al-Qur’an dalam suasana santai, hangat, dan akrab.

Rombongan berangkat dari SD Muhammadiyah 3 Ikrom Wage sekitar pukul 09.00 WIB. Setibanya di Ndalem Prabu, kegiatan diawali dengan sambutan Ketua PRA Wage Rista Rahmaniasti.

Ia berharap kegiatan di luar rutinitas tersebut dapat menjadi penyemangat bagi anggota untuk terus mengikuti pembelajaran tahsin secara istiqamah.

“Dengan adanya acara ini, semoga bisa menjadi stimulus dan memberi semangat kepada ibu-ibu PRA untuk hadir dan istiqamah belajar tahsin,” ujarnya.

Mengaji 90 Menit

Sesi utama dipandu Ustadzah Rizki Mei selama sekitar 90 menit. Pembelajaran diawali dengan membaca Buku Wafa pada materi tajwid. Peserta kemudian melanjutkan tilawah Surah Al-Jinn ayat 21–28 dan Surah Muhammad ayat 1–20.

Kegiatan tahsin biasanya dilaksanakan rutin setiap Selasa ba’da Maghrib di Omah Qur’an Wage. Namun, kali ini Majelis Tabligh PRA Wage sengaja membawa pembelajaran keluar dari Wage.

Langkah tersebut bukan untuk mengurangi keseriusan belajar. Sebaliknya, kegiatan ini menjadi upaya menghadirkan suasana baru agar peserta semakin dekat satu sama lain.

Di tengah suasana Porong yang berbeda dari tempat mengaji biasanya, pembelajaran tahsin berlangsung lebih cair tanpa kehilangan tujuan utama, yaitu memperbaiki bacaan Al-Qur’an.

Air Mata di Balik Reward

Suasana haru muncul setelah sesi tahsin. Utamining Ichtiawati, Bendahara PRA Wage sekaligus inisiator dan donatur kegiatan, memberikan reward kepada dua peserta, Surotun dan Sunaring.

Keduanya dinilai memiliki semangat tinggi, aktif mengikuti kegiatan tahsin, dan menunjukkan perkembangan bacaan yang signifikan. Masing-masing menerima reward berupa uang tunai Rp100 ribu.

Surotun dan Sunaring tak kuasa menahan air mata saat menerima penghargaan tersebut. Keduanya merasa bacaan Al-Qur’an masih perlu banyak diperbaiki.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Namun, menurut Ustadzah Rizki Mei, perkembangan keduanya selama mengikuti tahsin sudah terlihat nyata.

Momen tersebut menjadi pengingat bahwa proses belajar Al-Qur’an tidak selalu diukur dari seberapa cepat seseorang menjadi mahir. Kesungguhan untuk terus hadir, belajar, dan memperbaiki diri juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

Mengaji Sekaligus Menguatkan Silaturahmi

Selepas sesi tahsin dan pemberian reward, peserta melanjutkan kegiatan dengan shalat berjamaah, makan siang, dan ramah tamah.

Kebersamaan kemudian berlanjut dengan VW Car Touring menuju Candi Pari. Para peserta menikmati perjalanan bersama sebelum singgah di Pasar Porong untuk membeli sayur dan oleh-oleh.

Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, rombongan kembali menuju Wage.

Bagi Utamining Ichtiawati, melihat kekompakan peserta menjadi kebahagiaan tersendiri. Ia berharap semangat yang muncul selama “Ya Tahsin Ya Healing” tidak berhenti setelah kegiatan berakhir.

“Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar. Sangat senang melihat ibu-ibu semua bisa kompak mengaji meskipun dengan suasana yang berbeda. Saya berharap ibu-ibu semua tetap hadir dan rajin dalam kegiatan tahsin selanjutnya,” ungkapnya.

Kegiatan “Ya Tahsin Ya Healing” akhirnya bukan sekadar memindahkan tempat mengaji dari Wage ke Porong. Kegiatan tersebut menjadi ikhtiar PRA Wage untuk merawat semangat belajar Al-Qur’an sekaligus mempererat silaturahmi antaranggota.

Sebab, semangat untuk istiqamah terkadang tidak hanya tumbuh dari materi yang dipelajari, tetapi juga dari rasa nyaman, kebersamaan, dan dukungan orang-orang yang menjalani proses yang sama. (*)

SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu