Sepuluh hari berada di Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan, Jawa Timur, ternyata belum cukup bagi Hj. Sitti Khasriyani, S.Si., M.Pd. untuk menimba seluruh pengalaman dan pembelajaran yang ada di dalamnya.
Kepala MA Muhammadiyah (MAM) Kota Gorontalo itu resmi berpamitan dari Al Mizan pada Rabu (9/9/2026), setelah mengikuti kegiatan magang atau Up Skilling selama sepuluh hari.
Acara seremonial pamitan berlangsung di Ruang Direksi Al Mizan dan dihadiri Mudir Al Mizan Ustaz Mujianto, M.Pd.I., jajaran direksi, kepala MAM 9 Al Mizan dan MTsM 15 Al Mizan, serta pimpinan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).
Kegiatan Up Skilling tersebut merupakan bagian dari program yang digagas Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen PNF) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Provinsi Gorontalo.
Program ini menjadi tindak lanjut gerakan “Sekolah Cemerlang” PWM Gorontalo yang diarahkan untuk memperkuat penjaminan mutu, tata kelola, serta pengembangan sekolah dan madrasah Muhammadiyah sebagai lembaga pioner atau percontohan di Provinsi Gorontalo.
Berdasarkan surat tugas Majelis Dikdasmen PNF PWM Gorontalo, kegiatan berlangsung pada 30 Agustus hingga 10 September 2026. Para peserta mengikuti metode ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi) melalui kegiatan On The Job Training atau diklat Up Skilling di sejumlah sekolah dan madrasah Muhammadiyah di Jawa Timur.
Sitti Khasriyani menjadi salah satu peserta yang mendapatkan tugas belajar di Al Mizan Muhammadiyah Lamongan.
Awalnya Tak Mencari Tahu Al Mizan
Menariknya, Sitti mengaku sebelum berangkat dirinya tidak secara khusus mencari informasi mengenai Al Mizan melalui internet.
“Kalau teman-teman yang lain sudah mencari seperti apa sekolah yang akan ditempati untuk magang. Kalau saya secara pribadi tidak pernah search,” ujarnya.
Ia baru mengetahui lebih jauh tentang Al Mizan setelah tiba di lokasi. Menurutnya, kondisi tersebut justru membuat dirinya mendapatkan pengalaman yang tidak terduga.
Sebab, MAM Kota Gorontalo tempatnya bertugas bukan merupakan sekolah boarding school dan tidak memiliki latar belakang pondok pesantren maupun panti asuhan.
“Allah memang tahu apa yang kami butuhkan. Hari ini kami melihat bahwa Al Mizan memang merupakan tempat yang pas untuk kami,” tuturnya.
Ia juga melihat adanya kesamaan dalam hal kerja sama dengan panti dalam penerimaan peserta didik baru. Hal tersebut membuat pengalaman yang diperoleh selama berada di Al Mizan semakin relevan untuk dibawa pulang dan dikembangkan di MAM Kota Gorontalo.

Sepuluh Hari Terasa Singkat
Saat pertama kali mengetahui harus meninggalkan tempat tugas dan keluarga selama sepuluh hari, Sitti mengaku waktu tersebut terasa cukup lama.
Namun, kesan itu berubah setelah ia menjalani aktivitas sehari-hari bersama keluarga besar Al Mizan.
“Awalnya kami merasa sepuluh hari itu merupakan waktu yang cukup lama untuk meninggalkan tempat tugas, keluarga, dan lain-lain. Tetapi setelah merasakan keseharian dan aktivitas serta pembiasaan baik di Al Mizan, waktu sepuluh hari itu tidak terasa,” katanya.
Menurutnya, banyak hal yang dapat dipelajari, mulai dari pembiasaan ibadah, aktivitas pagi, tata kelola pesantren, manajemen kepala madrasah, hingga manajemen direksi.
Namun, satu hal yang paling membekas baginya adalah kebersamaan dengan para santri serta ustaz dan ustazah.
“Sepuluh hari itu tidak cukup bagi kami untuk menimba ilmu dan mengambil banyak manfaat dari Al Mizan,” ungkapnya.
Bertemu Ratusan Santri Setiap Hari
Bagi Sitti, bertemu dengan ratusan santri setiap hari menjadi pengalaman tersendiri.
Ia mengaku senang melihat karakter dan pembiasaan baik yang tumbuh dalam kehidupan para santri Al Mizan.
“Saya memang suka dengan anak-anak. Melihat pembiasaan baik dari sisi karakter, bagaimana ketika bertemu dengan orang yang lebih tua atau senior, semuanya sudah terbentuk. Alhamdulillah,” ujarnya.
Menurutnya, suasana tersebut membuat dirinya merasa nyaman selama berada di Al Mizan.
Ia tidak hanya menikmati interaksi dengan para santri, tetapi juga aktivitas mereka sehari-hari.
“Senang dan bahagia, happy dengan anak-anak dan happy dengan kegiatan anak-anak. Sehingga tidak terasa sepuluh hari berada di Al Mizan,” katanya.
Harapan untuk Al Mizan
Setelah mendapatkan berbagai pengalaman selama magang, Sitti berharap Al Mizan terus berkembang dan menjadi lembaga pendidikan Muhammadiyah yang semakin maju.
“Harapan kita bersama adalah bagaimana ke depan Al Mizan lebih sukses, kemudian lebih banyak lagi siswanya,” ungkapnya.
Ia juga berharap sarana dan prasarana Al Mizan semakin lengkap dan baik, serta sumber daya manusia terus mengalami peningkatan.
“Dari sisi sumber dayanya juga insyaallah ke depan bisa lebih baik lagi dan lebih dari semuanya,” tambahnya.
Pesan untuk Al Mizan
Sebelum meninggalkan Al Mizan, Sitti menyampaikan pesan kepada seluruh keluarga besar Al Mizan, terutama para santri.
Ia berpesan agar berbagai pembiasaan dan budaya positif yang telah dibangun selama ini terus dipertahankan.
“Untuk Al Mizan dan para santri, tetap mempertahankan, tetap istiqamah dan komitmen dengan hal-hal baik yang sudah dibangun sejak awal,” pesannya.
Namun, menurutnya, istiqamah bukan berarti berhenti melakukan evaluasi. Justru setiap lembaga perlu terus membuka diri terhadap masukan dan koreksi untuk menjadi lebih baik.
“Tentu saja kita selalu mengevaluasi diri untuk melakukan hal-hal yang lebih baik ke depan dan tidak menutup diri dengan masukan serta koreksi dari semua unsur dan semua pihak,” pungkasnya.
Sepuluh hari mungkin terasa singkat. Namun bagi Sitti Khasriyani, pengalaman di Al Mizan telah menjadi ruang belajar yang tidak sekadar menghadirkan pengetahuan tentang tata kelola lembaga pendidikan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana pembiasaan, kebersamaan, karakter, dan keteladanan menjadi bagian penting dalam membangun madrasah dan pesantren Muhammadiyah. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments