
Ustadz Ahmad Hariyadi berceramah di Pengajian Ahad Pagi PCM Lakarsantri.
PWMU.CO-Banyak jalan menuju surga. Allah menyediakan beberapa pintu yang bisa dilewati manusia. Salah satunya melalui pintu shalat. Syaratnya, shalat dengan sadar memahami makna tiap bacaan dan gerakan.
Hal itu disampaikan Ustadz Ahmad Hariyadi MSi dalam Pengajian Ahad Pagi di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) 28 Jl. Raya Bangkingan Surabaya, Ahad (9/9/2018). Pengajian bulanan ini diadakan Majelis Tabligh PCM Lakarsantri.
Ustadz Ahmad Hariyadi menukilkan sebuah hadits, barangsiapa yang berinfak dengan sepasang hartanya di jalan Allah maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, Hai hamba Allah, inilah kebaikan. Orang golongan ahli shalat maka ia dipanggil dari pintu shalat. Golongan ahli jihad dipanggil dari pintu jihad. Orang golongan ahli puasa dipanggil dari pintu Ar-Rayyan. Golongan ahli sedekah dipanggil dari pintu sedekah.
”Dengan shalat yang kita lakukan setiap hari bisa membangun jalan menuju surga,” ujar Ustadz Ahmad. ”Tentu saja shalat yang dilakukan secara benar,” kata penulis buku Tips Melejitkan Potensi Anak dengan Pendekatan Ilahiyah ini.
Shalat secara benar, sambung dia, bukan saja meniru bacaan dan gerakan seperti yang Nabi Muhammad lakukan namun juga bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Rasulullah sewaktu shalat. ”Caranya memahami bacaannya,” tandasnya.
Dia mencontohkan, karena shalat ini sudah jadi kebiasaan seringkali orang melaksanakan menjadi otomatis bergerak dan membaca begitu saja.
”Begitu baca takbir Allahu akbar langsung baca doa iftitah kemudian Al Fatihah dan seterusnya bergerak sesuai urutannya. Kadang kaget lho aku tadi sudah baca iftitah ya. Sudah membaca tapi gak sadar. Padahal kalau dipahami makna bacaannya rasa shalatnya bisa menjadi luar biasa,” tutur
Shalat model seperti itu, kata dia, seperti orang mabuk karena tidak sadar. Sebagaimana disebutkan dalam surat An Nisa : 43 Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendekati shalat, saat kamu mabuk, hingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.
Karena itu dia menyarankan ketika shalat mulai dari niat hingga salam pahami makna bacaan dan gerakan seperti Rasulullah melakukannya.
”Begitu kita ucapkan takbiratul ikram, maka fokus dengan kebesaran Allah. Semua kesombongan kita seperti kekuasaan, kekayaan, kegantengan rontok dengan kebesaran Allah,” tegasnya.
Begitu juga saat membaca doa iftitah, Allahumma ba’id baini wa baina khothoyaya kamaa ba’adta bainal masyriqi wal magribi sadari bahwa kita sedang meminta kepada Allah dijauhkan kesalahan dari diri kita sejauh-jauhnya seperti jarak antara timur dan barat.
”Bahkan saat membaca doa itu ingat-ingat kesalahan dan kejelekan apa saja yang berulang-ulang kita lakukan tak pernah hilang. Saat itu benar-benar mintalah kepada Allah agar kesalahan itu dibuang jauh,” ujarnya.
Pilihan doa iftitah lainnya ada kalimat wajjahtu wajhiya lilladzii fatharas samaawaati wal-ardha. Aku hadapkan wajahku dan hatiku kepada pencipta langit dan bumi.
”Secara psikologis makna kalimat itu seorang hamba benar-benar berhadapan dengan Allah. Dia fokus kepada Allah sehingga tidak mau diganggu oleh lainnya. Suasana merasakan menghadap Allah inilah menjadikan shalat kita punya makna,” kata Ustadz Ahmad yang juga konsultan pendidikan ini.
Apalagi ketika sampai pada kalimat inna shalati wa nusuki wamahyaaya wama maati lillaahi rabbil alamiin. ”Ada kata inna, artinya sungguh-sungguh shalat, ibadah, hidup dan mati hanya untuk Tuhan penguasa alam,” tuturnya. (sgp)





0 Tanggapan
Empty Comments