Beberapa tokoh Muhammadiyah yang pernah saya baca sejarahnya, mereka sangat khusuk shalatnya. Tak pernah meninggalkan tilawah Alquran; tidak pernah meremehkan amalan sunnah dan dzikirnya lama. (baca Matahari-Matahari Muhammadiyah).
Tahun 1990-an saat masih aktifis IPM, penulis melihat pemandangan yang sangat syahdu. Di dalam tas para pimpinan, ada mushaf alquran. Jika istirahat, mereka membaca alquran. Sekarang? Pembaca tahu sendiri jawabannya.
(Baca juga: Tiga Langkah Mengubah Diri Menjadi Pribadi Sukses)
Kita perlu belajar lagi dengan sosok kharismatik seperti Buya Hamka. Ketika dalam penjara, dia minta dibawakan buku Tasawuf Modern, karyanya sendiri. “Bukankah itu buku ayahanda?” tanya anaknya. “Betul, sekarang Hamka perlu belajar pada Hamka,”, jawabnya serius. Subhaanallah.
Saat ini kita juga perlu “belajar” dan bertanya lagi: kita berjuang untuk siapa? Apa yang kita perjuangkan? Betulkah kita benar benar berjuang? Ini bukan pertanyaan main-main!
Selamat berjuang kawan!
Opini Mohamad Su’ud, Sekretaris Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Lamongan





0 Tanggapan
Empty Comments