Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor teknologi global mulai memunculkan kekhawatiran baru. Perusahaan-perusahaan besar mengurangi jumlah karyawan seiring meningkatnya investasi pada kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Laporan dari Bloomberg Technoz menyebutkan bahwa Oracle Corporation melakukan PHK besar-besaran yang berdampak pada sekitar 30 ribu karyawan secara global. Langkah ini merupakan bagian dari restrukturisasi perusahaan sekaligus pengalihan anggaran miliaran dolar ke pengembangan AI.
Fenomena serupa juga terjadi di perusahaan teknologi lainnya. Amazon memangkas sekitar 16.000 karyawan, sementara Meta Platforms mengurangi sekitar 20 persen tenaga kerjanya dalam beberapa bulan terakhir.
Dosen Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta, Widi Widayat, menilai tren ini sebagai bagian dari transformasi industri yang didorong oleh perkembangan teknologi.
“Fenomena gelombang PHK di perusahaan teknologi global perlu dilihat sebagai bagian dari fase transformasi industri yang didorong oleh kemajuan teknologi, terutama kecerdasan buatan,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).
Menurut Widi, kecerdasan buatan memungkinkan otomatisasi berbagai tugas rutin seperti analisis data, pengujian perangkat lunak, hingga layanan pelanggan digital. Hal ini membuat kebutuhan tenaga kerja pada peran tertentu berkurang, meski faktor ekonomi global juga turut memengaruhi.
“Tools AI kini makin banyak digunakan dalam aktivitas kerja sehari-hari, tidak hanya di bidang teknologi, tetapi juga administrasi, pemasaran, hingga produksi konten digital,” jelasnya.
Ia mencontohkan penggunaan AI untuk membuat presentasi (PPT) secara otomatis, menyusun laporan, hingga menghasilkan materi visual dalam waktu singkat. Teknologi ini dinilai mampu meningkatkan produktivitas sekaligus mengubah struktur pekerjaan secara signifikan.
Meski efisiensi meningkat, Widi menegaskan bahwa AI belum mampu sepenuhnya menggantikan peran manusia. Kreativitas, pemikiran kritis, serta kemampuan kolaborasi masih menjadi keunggulan manusia yang belum bisa ditiru teknologi.
“Peran manusia tetap penting dalam mengendalikan, mengawasi, dan memanfaatkan teknologi secara strategis,” ujarnya.
PHK akibat adopsi AI juga berpotensi terjadi di Indonesia, meskipun dampaknya diperkirakan tidak secepat di negara maju. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat adopsi teknologi yang masih berkembang serta struktur industri yang beragam.
“Jika pun terjadi, dampaknya cenderung lebih bertahap dan tidak seagresif di perusahaan global,” kata Widi.
Beberapa sektor yang berisiko terdampak antara lain layanan pelanggan, perbankan, telekomunikasi, hingga industri kreatif—terutama pekerjaan yang bersifat rutin dan repetitif.
Di balik ancaman PHK, perkembangan teknologi juga membuka peluang baru. Permintaan tenaga kerja di bidang data science, machine learning, dan pengembangan AI justru meningkat.
“Transformasi digital tidak selalu menghilangkan pekerjaan, tetapi juga menciptakan profesi baru yang sebelumnya tidak ada,” ungkapnya.
Namun demikian, kesenjangan antara tenaga kerja dengan keterampilan tinggi dan rendah berpotensi melebar. Oleh karena itu, peningkatan literasi digital dan program reskilling menjadi sangat penting.
Widi mengimbau masyarakat untuk tidak melihat AI sebagai ancaman, melainkan peluang. Pekerja yang mampu beradaptasi dan memanfaatkan teknologi akan memiliki keunggulan kompetitif.
“AI tidak menggantikan manusia, tetapi manusia yang tidak beradaptasi dengan AI akan berisiko tertinggal,” tegasnya.
Dengan demikian, tenaga kerja di Indonesia perlu meningkatkan keterampilan digital, memahami perkembangan teknologi, serta memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas kerja.






0 Tanggapan
Empty Comments