Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Amien Rais adalah Kita

Iklan Landscape Smamda
Amien Rais adalah Kita
Oleh : Nurudin Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), penulis buku “Andai Pemerintah Mau”

Judul tulisan ini mungkin terasa unik, atau mungkin juga ada yang menganggap terlalu menjustifikasi. Namun, kita perlu melihat persoalan secara jernih dan jujur, itu pun jika masih mau bersikap jujur. Tidak ada paksaan untuk itu. Lagi pula, saya juga bukan pembela Amien Rais.

Tetapi sebenarnya, Amien Rais adalah kita. Bukan dalam arti fisik bernama Amien Rais, melainkan keberanian untuk bersuara.

Sesekali, cobalah melihat dengan kacamata lain dari yang biasanya. Lepaskan atribut politik, lepaskan “baju pendukung”, lalu pikirkan masa depan bangsa ini secara lebih luas.

Singkirkan pula segala bentuk kepentingan materi yang selama ini mungkin melekat pada kekuasaan.

Lepaskan juga Amien Rais dari Muhammadiyah, organisasi yang selama ini menaunginya.

Jika tidak, orang dari kelompok lain mungkin akan sulit bersikap objektif terhadap apa pun yang ia katakan.

Lepaskan pula beliau dari partai yang pernah ia dirikan dan segala identitas politik lainnya. Setelah itu, barulah kita mencoba melihat persoalan dengan lebih jernih.

Jika Anda adalah pendukung Jokowi ataupun Prabowo, tentu tidak mudah menerima sosok Amien Rais.

Mengapa? Karena selama ini ia memang terkenal keras mengkritik Jokowi. Namun, orang sekelas Amien Rais tentu tidak asal mengkritik.

Ia memiliki pertimbangan atau hitung-hitungan. Yang jelas, ia konsisten bersikap kritis terhadap kekuasaan, siapa pun penguasanya.

Sejarah mencatat hal itu. Soeharto yang begitu kuat saja pernah ia kritik, apalagi penguasa setelahnya.

Jokowi? Prabowo? Tetap layak untuk dikritisi.

Jika kita jujur dan tidak terlalu bergantung secara materi kepada kekuasaan, kita akan mengakuinya.

Sebaliknya, jika hidup sangat bergantung pada kekuasaan, maka kecenderungannya adalah membela apa pun yang menjadi kehendak penguasa. Bukankah ketergantungan ekonomi sering kali melahirkan ketergantungan sikap?

Alergi Kritik

Di negeri ini, kritik kerap dianggap sebagai gangguan. Orang yang terlalu vokal mudah dicap pembuat gaduh.

Padahal, dalam demokrasi, kritik merupakan tanda bahwa masyarakat masih peduli. Bahaya justru muncul ketika semua orang memilih diam.

Di tengah situasi seperti itu, nama Amien Rais selalu memiliki tempat tersendiri dalam percakapan publik Indonesia.

Ia bukan tokoh yang lahir dari budaya diam. Sejak lama, ia menjadi pribadi yang keras terhadap penyalahgunaan kekuasaan.

Ia berbicara ketika banyak orang takut bersuara dan mengkritik saat sebagian elite memilih aman.

Karena itu, ketika hari ini Amien Rais kembali melontarkan kritik kepada penguasa, publik sebenarnya tidak melihat sesuatu yang baru.

Sikap kritis itu sudah melekat sejak lama, bahkan jauh sebelum media sosial hadir seperti sekarang.

Generasi muda mungkin hanya mengenalnya dari potongan video di internet atau pernyataan kontroversial di televisi.

Namun sejarah Indonesia mencatat namanya jauh lebih besar daripada sekadar politisi biasa.

Ia merupakan salah satu tokoh penting Reformasi 1998.

Banyak orang menyebutnya sebagai “Bapak Reformasi” karena keberaniannya melawan rezim Orde Baru ketika ketakutan masih menguasai ruang publik.

Saat itu, tidak banyak orang berani berdiri di depan kekuasaan. Kritik terhadap pemerintah bukan perkara ringan.

Risiko sosial dan politik sangat besar. Banyak orang memilih diam demi keselamatan dan kenyamanan.

Namun, Amien Rais mengambil jalan berbeda. Ia tampil di garis depan menyuarakan perubahan.

Ia berbicara tentang demokrasi ketika istilah itu terasa menakutkan. Ia menuntut transparansi ketika kekuasaan begitu tertutup.

Amien Rais juga mengingatkan bahaya korupsi dan penyalahgunaan wewenang saat sebagian besar elite memilih aman di lingkar kekuasaan.

Karena itu, karakter Amien Rais sebenarnya tidak pernah berubah. Ia memang keras sejak dulu. Ia terbiasa melawan arus.

Salah satu contoh yang paling terkenal adalah kasus Busang pada akhir 1990-an. Saat itu, publik Indonesia heboh dengan kabar penemuan cadangan emas raksasa di Busang, Kalimantan Timur.

Banyak pihak percaya begitu saja. Euforia besar terjadi dan perusahaan tambang tersebut menjadi perhatian dunia.

Namun, di tengah gegap gempita itu, Amien Rais justru mempertanyakan banyak hal.

Ketika sebagian besar orang ikut arus, ia berani menyuarakan adanya kejanggalan. Ia meminta transparansi dan mengingatkan publik agar tidak mudah percaya.

Belakangan, dunia mengetahui bahwa skandal Busang merupakan salah satu penipuan tambang terbesar dalam sejarah.

Apa yang dahulu dianggap sekadar suara nyinyir ternyata terbukti benar.

Dari peristiwa itu, publik bisa melihat satu hal penting: Amien Rais bukan tipe orang yang nyaman menjadi penonton.

Ia merasa perlu berbicara ketika melihat persoalan dalam kekuasaan maupun kebijakan publik. Sikap itu terus terbawa hingga hari ini.

Ketika ia mengkritik Seskab Teddy, misalnya, reaksi publik langsung terbelah.

SMPM 5 Pucang SBY

Kritik itu memang mengarah pada sosok tertentu. Namun, pertanyaan yang lebih penting sebenarnya adalah: ada apa di balik kritik tersebut?

Banyak orang diam-diam merasa apa yang disampaikan Amien Rais mewakili kegelisahan mereka.

Ia sedang mencoba membongkar status quo di lingkar kekuasaan.

Perlebar Ruang

Kita juga tentu ingat Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Pada 1997, Gus Dur pernah melontarkan isu kontroversial tentang “Operasi Naga Hijau”.

Ia mencoba membongkar dugaan keterlibatan aparat berseragam hijau dalam berbagai kerusuhan.

Gus Dur memang juga terkenal berani dan sering menggunakan cara-cara unik untuk membuka kesadaran publik.

Istilah “Operasi Naga Hijau” merujuk pada dugaan operasi intelijen militer yang disebut-sebut memicu kerusuhan di sejumlah kantong Nahdlatul Ulama (NU), seperti Peristiwa Tasikmalaya dan Situbondo.

Gus Dur meyakini operasi tersebut digunakan untuk mendiskreditkan kelompok Islam dan NU pada masa Orde Baru.

Begitu pula dengan Cak Nun. Ia sangat keras mengkritik Jokowi, bahkan pernah mengidentikkannya dengan Fir’aun yang didukung Haman dan Qarun.

Banyak orang mencibirnya, meskipun setelah itu publik mulai lebih kritis melihat kekuasaan.

Cak Nun juga bukan sosok baru dalam tradisi kritik terhadap penguasa.

Amien Rais, Gus Dur, dan Cak Nun sama-sama melontarkan kritik secara terbuka.

Tidak semua orang memiliki keberanian seperti itu.

Biasanya, mereka yang sudah terlanjur nyaman dengan fasilitas kekuasaan cenderung sulit menerima suara-suara kritis tersebut.

Hari ini kita hidup di zaman yang paradoks. Media sosial membuat semua orang bisa berbicara, tetapi juga membuat banyak orang takut berbicara.

Sedikit berbeda pendapat bisa langsung mendapat serangan. Sedikit kritis bisa mendapat label anti-pemerintah atau pembenci negara.

Akibatnya, budaya aman tumbuh semakin kuat. Banyak orang memilih menjadi penonton. Mereka melihat persoalan, tetapi enggan bicara karena takut tekanan sosial.

Di sinilah sosok seperti Amien Rais menjadi penting.

Ia mengingatkan bahwa demokrasi tidak dibangun dari ketakutan.

Demokrasi hidup dari keberanian warga untuk mengawasi kekuasaan.

Tentu saja, kritik tidak selalu benar, jadi juga bisa diperdebatkan.

Namun hak untuk mengkritik harus tetap dijaga. Sebab, ketika semua orang dipaksa setuju, demokrasi perlahan kehilangan rohnya.

Generasi muda perlu memahami bahwa bangsa besar bukan bangsa yang semua warganya diam. Bangsa besar adalah bangsa yang memberi ruang pada perbedaan pendapat.

Amien Rais mungkin kontroversial. Gaya bicaranya mungkin keras, sama seperti Gus Dur. Tidak semua orang menyukai caranya.

Namun sejarah menunjukkan bahwa banyak perubahan besar lahir dari orang-orang yang berani berbeda suara.

Yang menarik, keberanian seperti itu kini mulai terasa langka. Banyak tokoh berubah setelah dekat dengan kekuasaan. Dulu kritis, sekarang diam. Dulu vokal, kini sibuk menjaga posisi.

Amien Rais justru tetap sama. Usia boleh bertambah, tetapi keberaniannya mengkritik kekuasaan tidak benar-benar hilang.

Ia tetap berbicara tentang apa yang menurutnya salah. Ia tetap menjadi suara yang mengganggu kenyamanan penguasa.

Mungkin karena itulah banyak orang merasa dekat dengannya.

Amien Rais adalah kita” bukan sekadar kalimat politik.

Ia menggambarkan suara rakyat biasa yang sering dipendam.

Suara orang-orang yang memiliki keresahan tetapi tidak memiliki panggung. Suara masyarakat yang ingin kekuasaan tetap diawasi.

Kita tidak harus selalu setuju dengan Amien Rais. Namun, keberanian untuk bersuara di tengah tekanan adalah sesuatu yang patut dihormati.

Bangsa yang sehat bukan bangsa yang dipenuhi tepuk tangan tanpa kritik.

Bangsa yang sehat adalah bangsa yang tetap memberi ruang bagi suara-suara berbeda.

Dalam sejarah Indonesia modern, Amien Rais telah menunjukkan hal itu sejak lama: ketika banyak orang takut mengkritik kekuasaan, ia memilih berdiri dan berbicara.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 25/05/2026 11:00
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡