Selasa sore yang cerah. Suara bola basket yang memantul terdengar dari lapangan SD Muhammadiyah 1 & 2 Taman (SD Mumtaz). Selasa, 29 September 2026, sekitar pukul 14.00 WIB, peserta didik Talent Basket tampak bersemangat mengikuti latihan bersama Coach Ferdi.
Mereka merupakan anak didik Coach Ferdi yang mengikuti kegiatan Talent Basket dengan penuh antusias. Latihan berlangsung dalam suasana menyenangkan sekaligus menjadi kesempatan bagi peserta didik untuk mengembangkan keterampilan dasar bermain basket.
Dalam latihan tersebut, peserta didik tidak hanya belajar memasukkan bola ke dalam ring. Mereka juga belajar menguasai bola, melakukan dribel, passing, shooting, serta membangun keberanian dan kepercayaan diri.
Coach Talent Basket Akhmad Ferdiyan Syah, S.Pd., yang akrab disapa Coach Ferdi, menjelaskan bahwa keterampilan pertama yang perlu dikuasai peserta didik adalah mengenal dan mengontrol bola.
“Pertama anak-anak dikenalkan dengan bola atau ball handling, kemudian dribel dan passing,” jelas Coach Ferdi.
Menurutnya, pengenalan bola menjadi dasar sebelum peserta didik mempelajari teknik basket lainnya. Setelah terbiasa mengontrol bola, anak-anak mulai berlatih dribel dan passing secara bertahap.
Latihan tersebut dilakukan agar peserta didik tidak hanya mengenal teori, tetapi juga terbiasa menggunakan bola dalam berbagai gerakan.
Agar peserta didik tidak merasa bosan, Coach Ferdi mengemas latihan dengan berbagai permainan dan perlombaan.
“Diberi latihan yang berbau fun and busy, dan perlombaan untuk memasukkan bola. Di dalamnya dimasukkan unsur dribel, passing, dan shooting,” tuturnya.
Melalui permainan tersebut, peserta didik dapat berlatih berbagai teknik basket sambil bersenang-senang. Mereka ditantang melakukan gerakan dengan tepat sekaligus menyelesaikan permainan yang diberikan.
Suasana latihan pun menjadi lebih hidup. Anak-anak terlihat berusaha mengikuti arahan dan mencoba melakukan setiap gerakan yang diberikan.
Bagi Gwen, peserta didik kelas 4C, mengikuti Talent Basket menjadi pengalaman yang menyenangkan. Ia mengaku mengikuti Talent Basket karena menyukai olahraga tersebut dan ingin belajar bermain basket dengan lebih baik.
“Aku senang ikut Talent Basket karena aku suka bermain basket dan ingin belajar teknik-teknik basket supaya bisa bermain lebih baik,” ujar Gwen.
Gwen juga merasa senang karena dapat berlatih bersama teman-temannya sekaligus mencoba berbagai gerakan baru.
Hal serupa disampaikan Rajendra atau Jendra, peserta didik kelas 3D. Ia mengikuti Talent Basket karena tertarik dengan olahraga basket dan ingin meningkatkan kemampuannya.
“Aku ikut Talent Basket karena aku suka basket dan ingin makin jago bermain basket. Aku juga senang bisa latihan bersama teman-teman,” tutur Jendra.
Menurut Jendra, latihan membuatnya semakin berani mencoba. Ketika menemukan gerakan yang belum dikuasai, ia memilih untuk terus berlatih.
“Kalau awalnya belum bisa, aku coba lagi sampai bisa,” katanya.
Bagi Gwen dan Jendra, mengikuti Talent Basket bukan hanya tentang belajar memasukkan bola ke ring. Mereka mendapatkan kesempatan mengenal teknik dasar basket, berlatih bersama teman, dan belajar berani mencoba.
Dalam melatih peserta didik, Coach Ferdi menemukan salah satu tantangan yang cukup sering muncul. Anak-anak terkadang merasa kurang percaya diri sebelum mencoba gerakan.
“Anak-anak selalu kurang percaya diri dan selalu bilang sulit sebelum melakukan gerakan,” ungkapnya.
Rasa kurang percaya diri tersebut membuat sebagian anak merasa ragu untuk mencoba. Padahal, menurut Coach Ferdi, banyak gerakan yang sebenarnya dapat dilakukan anak apabila mereka mau mencoba dan berlatih.
Karena itu, pelatih memberikan motivasi sekaligus pemahaman kepada peserta didik agar tidak takut mencoba.
Coach Ferdi membantu peserta didik yang masih mengalami kesulitan dengan memberikan trik sederhana dan motivasi.
“Memotivasi anak-anak dengan memberikan trik dan pemahaman bahwa gerakan itu mudah, tidak sulit. Yang sulit itu kalau kita tidak mau berusaha,” jelasnya.
Pesan tersebut menjadi salah satu pembelajaran penting dalam kegiatan Talent Basket. Peserta didik diajak untuk tidak mudah mengatakan “sulit” sebelum mencoba.
Melalui latihan yang dilakukan secara bertahap, mereka belajar bahwa kemampuan membutuhkan proses. Kesalahan dalam latihan bukan menjadi alasan untuk berhenti, tetapi menjadi kesempatan untuk mencoba kembali.
Kegiatan Talent Basket menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan olahraga sekaligus karakter.
Gwen dan Jendra bersama teman-temannya belajar mengikuti arahan, berlatih dengan disiplin, mencoba teknik baru, dan membangun kepercayaan diri.
Basket juga mengajarkan kerja sama. Dalam permainan, peserta didik belajar bahwa setiap pemain memiliki peran dan perlu saling membantu untuk mencapai tujuan bersama.
Bagi SD Mumtaz, kegiatan Talent menjadi bagian dari pembelajaran yang memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik sesuai minat dan bakat mereka.
Dari lapangan basket, Gwen dan Jendra belajar bahwa sebuah kemampuan tidak datang secara tiba-tiba. Ada latihan, keberanian, dan kemauan untuk terus mencoba di balik setiap dribel, passing, dan shooting.
Selasa sore itu, lapangan basket tidak hanya menjadi tempat anak-anak berlatih dribel, passing, dan shooting. Di sana, mereka juga belajar berani mencoba, tidak mudah menyerah, bekerja sama, dan percaya pada kemampuan diri sendiri.
Dari setiap pantulan bola, tersimpan proses belajar. Dari setiap percobaan shooting, tumbuh keberanian. Dan dari setiap latihan, perlahan terbentuk karakter anak-anak yang disiplin, percaya diri, dan pantang menyerah.





0 Tanggapan
Empty Comments