SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo menggelar kegiatan Dakwah Terpadu bersama SMP Muhammadiyah 3 Waru pada Selasa–Kamis, 26–27 Mei 2026.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian syiar dan pembinaan keislaman dalam menyambut iduladha 1447 Hijriah.
Berbagai agenda dilaksanakan dalam kegiatan Dakwah Terpadu, mulai dari kajian keislaman, pembinaan karakter, hingga pelaksanaan Shalat iduladha bersama.
Dalam pelaksanaan Shalat iduladha, hadir sebagai khatib sekaligus guru ISMUBA, Nur Chasan Bashri.
Dalam khutbahnya, ia menyampaikan pesan mendalam tentang makna iduladha sebagai momentum pengorbanan, kepedulian sosial, dan pendidikan generasi umat.
Menurutnya, salah satu pesan penting dalam iduladha adalah jangan sampai umat meninggalkan generasi yang lemah.
Kelemahan yang dimaksud bukan hanya dalam aspek spiritual, tetapi juga ekonomi, pendidikan, dan kualitas diri.
Nur Chasan Bashri menegaskan bahwa kekuatan ekonomi menjadi salah satu penopang penting agar umat Islam mampu terus menebar amal jariyah dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
Dalam khutbahnya, ia juga menyinggung upaya SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo dalam membangun kualitas pendidikan melalui berbagai kerja sama internasional.
Salah satunya adalah kolaborasi dengan Universitas Kairo sebagai bagian dari ikhtiar membentuk generasi muda Islam yang memiliki daya saing global namun tetap berpegang teguh pada nilai-nilai keislaman.
Menurutnya, pendidikan Islam harus mampu melahirkan generasi yang unggul secara intelektual sekaligus kuat secara spiritual dan moral.
Dalam khutbahnya, Nur Chasan Bashri juga mengingatkan bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah.
Karena itu, umat Islam perlu bersyukur apabila dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan yang baik serta penuh nilai-nilai Islam.
Rasa syukur tersebut diwujudkan melalui upaya memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, dan melakukan muhasabah dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, ia menekankan pentingnya pendidikan yang dimulai dari lingkungan keluarga.
Menurutnya, seorang ibu memiliki peran besar sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya sebagaimana ungkapan:
“Al-ummu madrasatul ula.”
Pendidikan keluarga, lanjutnya, menjadi pondasi utama dalam membentuk generasi saleh, berakhlak, dan tangguh menghadapi tantangan zaman.
Di akhir khutbah, jamaah diajak meneladani Nabi Ibrahim AS yang senantiasa berdoa dan berharap kepada Allah SWT dalam membangun generasi terbaik.
Salah satu doa yang disampaikan adalah:
“Robbi habli minash shalihin.”
Doa tersebut dipanjatkan Nabi Ibrahim AS pada usia 86 tahun sebagai harapan untuk memperoleh keturunan yang saleh.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa doa, ikhtiar, dan kesabaran merupakan kunci penting dalam membangun generasi umat yang unggul dan berkemajuan.





0 Tanggapan
Empty Comments