Tanpa Utang Bank, Raup Miliaran dari Bisnis Kue Kering (Bagian 2)
Kadang Allah tidak langsung mengangkat derajat seseorang melalui kemudahan. Kadang justru lewat kehilangan. Lewat rasa cemas yang panjang. Lewat malam-malam penuh tanya tentang esok hari.
PHK yang menimpa suaminya menjadi titik sunyi dalam hidup Diah Arfianti—titik ketika ia belajar bahwa sandaran manusia bisa runtuh sewaktu-waktu. Namun dari titik itulah keyakinannya tumbuh.
Ia memilih tidak menjadikan ujian sebagai alasan untuk menyerah. Ia percaya, rezeki bukan hanya soal angka, tetapi soal keberkahan. Dan dari keyakinan itulah, langkah kecil dari dapur rumahnya perlahan berubah menjadi jalan besar yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Kerja keras, ulet, belajar, dan mau mendengar. Itulah sosok Diah Arfianti. Namun di balik sifat-sifat itu, ada satu hal yang diam-diam menjadi penyangganya: keyakinan bahwa setiap usaha manusia tetap berada dalam kuasa Allah.
Sebelum menjadi pelaku usaha, Diah sempat bekerja di salah satu tempat hiburan di kawasan Kedungdoro, Surabaya. Ketika itu, suaminya, Mochammad Rofik, juga bekerja di tempat yang sama. Diah menjadi staf keuangan, sedangkan Rofik menjadi salah satu manajer di sana.
Tahun 2000, Diah memilih resign. Ia ingin fokus membesarkan anak-anaknya. Diah meyakini ada peluang menggapai kesuksesan bila ia bisa berusaha sendiri alias berbisnis. Sekalian ia ingin merawat ayahnya, Achmad Rifai, yang sakit.
Keputusan itu bukan sekadar pilihan ekonomi. Di benaknya, merawat orang tua adalah panggilan hati. Dalam ajaran yang ia yakini, berbakti kepada orang tua bukan beban, melainkan jalan keberkahan. Ia percaya, langkah yang dimulai dengan niat baik akan dijaga oleh Allah.
Merasa punya keahlian memasak dan membuat kue, ia mencoba peruntungan melakoni usaha kuliner. Ia menjajal jualan nasi bebek, nasi campur, ayam goreng, nasi krawu, rice box, frozen food, dan banyak lagi. Berbagai pesanan nasi kotak, tumpeng, dan nasi bungkus juga diterima.
Hampir sepuluh tahun ia menjalani usaha kuliner tersebut. Namun perkembangannya tak cukup menggembirakan. Biasa-biasa saja. Bahkan kerap kali tidak jelas mendapat untung atau rugi. Uang yang diterima dari jualan seakan “menguap” tanpa pernah ia tahu rincian pemasukan dan pengeluarannya.
Di fase itu, Diah belum banyak memahami pentingnya pencatatan dan manajemen. Ia hanya tahu satu hal: terus bergerak. Kadang manusia memang belajar bukan dari keberhasilan, melainkan dari rasa lelah yang berulang-ulang.
Ketika itu, meski ada kekurangan dari bisnis yang dirintisnya, kebutuhan hidupnya masih bisa tertutupi. Pasalnya, pendapatan Rofik sebagai manajer tempat hiburan masih mencukupi. Bahkan sering ada kelebihan uang yang dipakai untuk rekreasi dan makan-makan di mal.
Masa itu terasa aman. Terasa cukup. Namun hidup tidak selalu berjalan di jalur yang nyaman. Dan sering kali, Allah menguji justru saat manusia merasa paling stabil.
Diah juga mencoba peruntungan lain. Salah satunya, ia memberanikan diri menyewa stan open space di Jembatan Merah Plaza Surabaya.
Diah menjual kue dan makanan yang dibuat sendiri di rumah. Saban hari ada yang laku, ada juga yang retur.
Biasanya, kue atau makanan yang tidak laku dijual dengan harga miring kepada tetangga sekitar. Namun tak jarang Diah juga membagikannya secara cuma-cuma.
Ia tidak tega membuang makanan. Ada rasa sayang di situ. Dan mungkin tanpa ia sadari, kebiasaan berbagi itu menjadi tabungan kebaikan yang tak terlihat. Ia belum memikirkan pahala atau balasan. Ia hanya merasa lebih ringan jika makanan itu tidak sia-sia.
Usaha di Jembatan Merah Plaza tak bertahan lama. Setelah dihitung, kebutuhan operasional dengan pendapatan yang diperoleh tidak seimbang alias njomplang. Untuk membayar service charge saja, Diah sudah ngos-ngosan. Ujungnya, Diah memutuskan tak memperpanjang sewa alias tutup.
“Hasilnya nggak nyucuk dengan uang operasional yang saya keluarkan setiap bulannya. Mau apalagi? Daripada rugi terus, mending saya tutup saja,” ucap Diah, mengenang.

Syok Suami Di-PHK
Keputusan itu pahit, tetapi perlu. Dalam hidup, tidak semua yang sudah dimulai harus dipertahankan. Kadang mundur adalah bentuk ikhtiar agar tidak terjerumus lebih dalam.
Tahun 2011, kehidupan Diah terguncang. Suaminya, Mochammad Rofik, terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Tempat kerjanya di Kedungdoro, Surabaya, bangkrut karena masalah keuangan. Rofik hanya mendapat sedikit pesangon.
PHK itu benar-benar membuat Diah terpukul. Selama ini, ia sangat mengandalkan pendapatan suaminya untuk menutupi kebutuhan usaha dan biaya berobat ayahnya.
“Saat itu, saya sangat bingung. Bagaimana caranya mencari pemasukan agar mencukupi kebutuhan keluarga saya sehari-hari. Saya syok betul,” ucap Diah.
Di titik itulah ia merasakan betapa rapuhnya sandaran manusia. Gaji yang selama ini terasa aman, tiba-tiba hilang. Namun di tengah keguncangan itu, ia memilih tidak menyalahkan keadaan. Ia percaya, setiap ujian pasti membawa maksud, meski belum langsung terlihat.
Diah tak bisa mengandalkan pesangon suaminya untuk menjalani hari-hari ke depan karena lambat laun pasti akan menipis dan habis.
Sementara, ia harus memenuhi kebutuhan tiga anaknya, termasuk biaya sekolah yang tidak sedikit.
Namun Diah sadar, ia tak boleh larut dalam kesedihan. Mengeluh dan meratap tak akan mengubah apa pun. Karena itu, ia harus memutar otak agar bisa bertahan. Harus ada upaya serius dan cepat untuk mendapatkan penghasilan.
Ia memegang satu prinsip sederhana: Allah tidak mungkin memberi ujian tanpa memberi kemampuan untuk melewatinya.
Di tengah kegalauan itu, Diah dihadapkan pada dua pilihan: suaminya melamar kerja lagi atau berwirausaha. Pilihan pertama awalnya dirasa paling realistis, meski tidak mudah untuk segera mendapat pekerjaan.
Rofik sendiri menyampaikan adanya tawaran bekerja di sebuah tempat hiburan di Kalimantan Timur. Ia sudah menyatakan oke, tinggal meminta persetujuan Diah.
Tawaran itu membuat Diah makin bingung. Ia dan anak-anaknya akan jauh dari suaminya. Selain itu, ia memikirkan siapa yang akan merawat ayahnya yang sedang sakit stroke. Pasalnya, selain dirinya, Rofik juga ikut membantu merawat sang ayah.
Setelah dipertimbangkan matang-matang, Diah meminta Rofik tidak menerima tawaran kerja di Kalimantan Timur. Lebih baik mencari kerja di Surabaya. Atau, jika sulit, ia mengajaknya berwirausaha.
Diah tahu betul merintis usaha tak semudah bayangan orang—lebih enak, lebih bebas, lebih mandiri, tidak diperintah orang, dan seterusnya.
“Namun saya harus optimistis. Sebab Allah pasti akan memberi jalan keluar ketika manusia menghadapi ujian kesulitan,” tutur Diah, mengingat pesan orang tuanya.
Kalimat itu bukan sekadar penghibur. Itu pegangan. Ia memilih yakin meski belum melihat hasilnya.
Ketetapan hati Diah disampaikan kepada Rofik. Prinsipnya, ia tak ingin jauh dari suaminya. Untuk sementara, Rofik bisa membantunya menjalankan bisnis kuliner yang sudah ada.
Rofik tak bisa menampik keinginan istrinya. Bagaimanapun, ia pun tak cukup kuat jika harus jauh dari keluarganya, meski pendapatan yang dijanjikan relatif lebih tinggi dibandingkan bekerja di Surabaya.
Rofik pasrah. Suatu malam, ia sempat bertanya kepada istrinya: apakah Diah tidak malu punya suami yang tidak bekerja? Punya suami pengangguran?
Diah sempat tertegun mendengar pertanyaan itu. Namun ia menjawab tegas: tidak.
“Saya lebih senang Papa kerja di sini. Kerja apa saja. Pokoknya di Surabaya. Yang penting halal dan barokah. Saya yakin ini cobaan. Kita pasti bisa melewatinya, Pa,” tutur Diah. Keduanya larut dalam haru. Bulir-bulir air mata Diah pun tumpah.
Air mata itu bukan tanda kelemahan. Itu tanda kelegaan. Ia memilih menjaga keutuhan keluarga daripada mengejar angka yang belum tentu membawa ketenangan.

Gadaikan Serifikat Rumah
Mereka bertekad bulat berwirausaha. Dengan modal menggadaikan sertifikat rumah, Diah memberanikan diri fokus pada usaha kue kering. Awalnya, ia dilanda keraguan: apakah produk kue keringnya bisa laku? Terlebih, ada anggapan bahwa kue kering hanya laris pada momen tertentu seperti Lebaran dan Natal.
Namun Diah telah membulatkan niat. Tidak ada salahnya mencoba. Ia yakin rezeki bisa datang dari mana saja, asal serius mengurusnya. Yang ada di benaknya saat itu hanyalah berusaha dan terus berusaha.
Baginya, tugas manusia adalah ikhtiar. Soal hasil, ia serahkan pada Yang Maha Mengatur.
Diah memulai langkah dengan menitipkan produk kue keringnya di beberapa toko di kawasan Ketandan. Hasilnya baru dinikmati jika laku.
Selain itu, ia juga menawarkannya kepada kawan-kawan lamanya lewat WhatsApp dan BBM dengan membagikan foto produk beserta daftar harga. Ada yang merespons, ada juga yang tidak. Namun yang terpenting, ada transaksi.
Setiap kali mengirim pesan penawaran, ada rasa deg-degan. Menunggu balasan. Kadang hanya centang biru. Kadang dibaca tanpa jawaban. Tapi Diah belajar menahan gengsi.
Ia tahu, dalam berusaha, harga diri bukan untuk dijual, tapi juga bukan untuk dipelihara berlebihan. Yang ia jaga adalah niat: mencari rezeki yang halal untuk keluarganya.
Namanya juga bisnis, ada yang laku, ada juga yang kembali. Barang yang tidak laku di toko dibawa pulang lalu ditawarkan ke pihak lain. Jika sudah mendekati masa kedaluwarsa, ia makan sendiri atau diberikan kepada tetangga.
Tidak ada yang terbuang sia-sia. Diah selalu merasa sayang membuang makanan. Di dalam hatinya ada keyakinan sederhana: rezeki harus dihormati.
Jika belum menjadi uang, setidaknya menjadi kebaikan. Ia tidak menghitungnya sebagai kerugian semata, tetapi sebagai bagian dari proses.
Diah menginsafi semua itu sebagai proses yang harus dijalani. Bahkan ia merasakan manfaatnya, karena banyak mendapat masukan: terlalu asin, kurang manis, kebanyakan tepung, kemasan kurang menarik, dan lain-lain.
Ia tidak defensif. Ia tidak tersinggung. Setiap kritik ia simpan. Ia coba lagi. Ia perbaiki lagi. Dalam diam, ia sedang ditempa.
Bukan hanya soal rasa kue, tetapi juga rasa sabar dalam dirinya. Ia belajar bahwa keberhasilan tidak lahir dari pujian, melainkan dari kesediaan menerima kekurangan.
Hasil penjualan kue kering ia kumpulkan. Sebagian digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, sebagian lagi untuk biaya produksi. Jika ada sisa, Diah menabungnya.
Ia mulai lebih disiplin. Uang usaha dipisahkan dari uang pribadi. Tidak lagi bercampur seperti dulu. Ia sadar, rezeki yang ingin tumbuh harus dikelola dengan tertib.
Baginya, ini bukan sekadar soal manajemen, tapi soal amanah. Uang yang berputar di tangannya bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depan anak-anaknya.

Banyak Tuai Dicibir
Usaha terus berjalan. Diah sadar ada momen-momen bagus untuk menggenjot produksi, yakni Hari Raya Idulfitri, Imlek, Natal, dan Tahun Baru. Pada momen-momen itu, produksi bisa meningkat hingga dua kali lipat.
Ia memaksimalkan momentum. Bekerja lebih panjang. Tidur lebih sedikit. Dapur menjadi lebih sibuk dari biasanya. Namun di sela-sela kesibukan itu, ada rasa syukur yang tumbuh pelan-pelan. Ia melihat tanda-tanda kecil bahwa jerih payahnya tidak sia-sia.
Di tengah mengatur momentum itu, Diah berpikir: kenapa kue kering hanya laris pada momen tertentu? Bukankah orang bisa makan kue kering setiap hari tanpa harus menunggu Lebaran atau Natal?
Pikiran itu terus mengganggunya. Ia tidak mau bisnisnya hanya hidup musiman. Ia ingin stabil. Ia ingin usahanya tidak sekadar “ramai sesaat”. Di situlah keberaniannya diuji lagi—berani berbeda dari kebiasaan pasar.
Ia pun berupaya mendobrak anggapan tersebut dengan lebih gencar menjual kue di luar Lebaran dan Natal.
“Awalnya saya dienyek (dicibir). Wong nggak riyoyo dodolan roti kering (Lha belum lLebaran kok jualatan kuering, red),” ucapnya.
Cibiran itu sempat terdengar tajam. Tapi Diah memilih tidak memelihara sakit hati. Ia sadar, setiap langkah baru memang sering dianggap aneh di awal.
Ia tidak ingin energinya habis untuk membalas komentar orang. Ia lebih memilih menghabiskan tenaga untuk memperbaiki kualitas dan memperluas pasar.
Diah cuek saja. Baginya tak perlu sakit hati dengan omongan orang. Ia dan keluarganya menanamkan prinsip tidak bergantung pada orang lain serta meyakini impian bisa diraih dengan kerja keras dan konsisten.
Prinsip itu bukan muncul tiba-tiba. Ia lahir dari masa-masa sulit yang pernah mereka lalui. Dari PHK. Dari kebingungan. Dari malam-malam penuh perhitungan. Mereka sudah pernah berada di bawah. Maka kini, mereka tidak mudah goyah hanya karena komentar.
Ia kemudian membuat ajakan melalui media sosial, seperti: “Kenapa harus nunggu Lebaran kalau bisa makan nastar tiap hari?” Postingan demi postingan terus dilakukan. Respons positif dan negatif ia terima. Yang positif ia balas dengan terima kasih, yang negatif ia terima dengan lapang dada. Berbulan-bulan ia menjalani itu tanpa kenal lelah.
Konsistensi itu tidak instan membuahkan hasil. Tapi Diah percaya, usaha yang terus-menerus tidak akan sia-sia. Setiap unggahan adalah ikhtiar. Setiap balasan adalah peluang. Ia tidak lagi hanya menjual kue. Ia sedang membangun kebiasaan baru di benak konsumennya.
Diah terus mempromosikan kue kering di luar momen Lebaran dan Natal. Lambat tetapi pasti, hasilnya mulai terasa. Di luar hari besar, pembeli mulai bertambah, pesanan pun mengalir.
Perubahan itu tidak datang seperti ledakan. Ia datang pelan-pelan. Tapi justru karena pelan itulah terasa kokoh. Diah merasakan satu hal: ketika manusia bersungguh-sungguh, Allah sering membuka jalan sedikit demi sedikit, agar hati tetap rendah dan tidak lupa diri.
“Saya bersyukur, karena tiap hari ada saja yang beli kue kering. Tidak harus nunggu Lebaran dan Natal,” cetus perempuan berjilbab ini.
Syukur itu sederhana, tapi tulus. Ia tahu betul bagaimana rasanya menunggu pesanan yang tak kunjung datang. Maka ketika kini ada pembeli setiap hari, ia tidak menganggapnya biasa. Ia melihatnya sebagai karunia yang harus dijaga.
Diah sadar, untuk mendapatkan hasil lebih besar, ia harus memperluas pasar. Ia menawarkan produknya ke beberapa instansi di Surabaya. Ada yang membeli, ada juga yang tidak merespons. Beberapa kantor pun menjadi langganan, di antaranya Bank Mandiri Pondok Tjandra, Bank Mandiri Basuki Rachmat, dan lainnya.
Mengetuk pintu kantor demi kantor bukan perkara mudah. Ada rasa canggung. Ada kemungkinan ditolak. Tapi ia tidak lagi takut pada penolakan. Ia pernah mengalami yang lebih berat dari itu. Kini, setiap penolakan hanya ia anggap sebagai satu langkah mendekati penerimaan di tempat lain.
Ia terus melangkah. Dengan sabar. Dengan doa yang tidak selalu terdengar orang lain. Dengan keyakinan bahwa rezeki tidak pernah salah alamat. (bersambung)






0 Tanggapan
Empty Comments