Pagi di Dusun Donggi, Desa Ngrandu, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, berjalan seperti biasa. Udara desa yang bersih, langkah-langkah pelan para warga, dan suara aktivitas pagi yang sederhana—semuanya tampak biasa. Namun, dari sebuah rumah yang tak mencolok, tersimpan kisah luar biasa tentang keteguhan iman yang tak lekang oleh usia.
Di rumah itu, tinggal seorang perempuan sepuh bernama Sadiyem. Usianya 86 tahun. Rambutnya memutih. Langkahnya tak lagi secepat dulu. Namun, satu hal yang tak berubah: semangatnya untuk memenuhi panggilan Allah ke Tanah Suci.
Tahun ini, pada musim haji 1447 Hijriah atau 2026 Masehi, Sadiyem tercatat sebagai calon jamaah haji tertua di Kabupaten Bojonegoro. Sebuah capaian yang bukan sekadar angka usia, tetapi tentang perjalanan panjang iman, kesabaran, dan keteguhan hati. Dia tergabung di Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Masyarakat Madani.
Sadiyem lahir pada 11 Desember 1940. Ia telah melewati berbagai fase kehidupan: masa muda yang sederhana, perjuangan membesarkan anak-anak, hingga kehilangan pasangan hidup.
Sejak suaminya, Basar, wafat pada tahun 2010, hidupnya lebih banyak diisi dengan doa dan kesunyian yang khusyuk. Namun, kesunyian itu bukanlah kehampaan, melainkan ruang yang dipenuhi harapan kepada Allah.
Haji, bagi Sadiyem, bukan sekadar perjalanan fisik. Ia adalah impian yang disimpan lama, dipupuk dengan doa-doa yang mungkin tak pernah didengar manusia, tetapi diyakini sampai ke langit.
Dan kini, di usia yang tak lagi muda, panggilan itu akhirnya datang.
Banyak yang mungkin bertanya, bagaimana mungkin seseorang di usia 86 tahun berangkat haji?
Jawabannya ada pada satu kata: istitha’ah. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan sesuatu yang mengejutkan sekaligus mengagumkan. Sadiyem dinyatakan memenuhi syarat istitha’ah kesehatan, syarat utama bagi calon jemaah haji.
Menurut Ketua KBIHU Masyarakat Madani, Drs. H. Sholikin Jamik, SH, MH, tidak ditemukan satu pun dari 11 penyakit yang menjadi hambatan kesehatan haji. Tekanan darahnya stabil. Gula darahnya normal. Kolesterol dan asam uratnya pun terkendali.
Seolah-olah, tubuh renta itu dijaga langsung oleh kekuatan yang tak kasatmata—kekuatan dari doa, kesabaran, dan keikhlasan yang ia rawat sepanjang hidupnya.
Meski demikian, kehati-hatian tetap diutamakan. Untuk mobilitas jarak jauh di Tanah Suci, kursi roda telah disiapkan. Ia juga tidak akan sendiri. Putranya, Tamaji, akan mendampingi setiap langkahnya.
Sebuah perjalanan suci, ditemani oleh anak yang dulu ia besarkan dengan penuh kasih.
Ibu yang Melahirkan Keteguhan
Namun, kisah Sadiyem tidak berhenti pada dirinya sendiri. Ia adalah akar dari sebuah keluarga yang tumbuh dengan nilai-nilai kuat.
Ia bukan hanya calon jemaah haji tertua. Ia adalah seorang ibu yang berhasil mendidik anak-anaknya menjadi pribadi-pribadi yang memberi manfaat bagi banyak orang.
Kelima putranya adalah cermin dari didikan panjang seorang ibu desa yang mungkin tak pernah menulis buku, tetapi menanamkan nilai hidup melalui teladan.
Zainuri menapaki dunia usaha kuliner. Marzuki (kini sudah almarhum) pernah mengabdi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kementerian Agama. Tamaji mengabdikan diri di Pengadilan Agama.
Berikutnya Munahar. Dia kini menjadi Sekretaris Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim sekaligus Kepala SD Muhammadiyah 6 Surabaya. Yang bungsu Abdul Latif Aziz berkarier di sektor perbankan.
Di balik kiprahnya, ada doa seorang ibu yang tak pernah putus. Doa yang mungkin diucapkan dalam sunyi. Doa yang mungkin tak pernah dituliskan. Namun, nyata menjelma dalam kehidupan anak-anaknya.
Perjalanan yang Lebih dari Sekadar Jarak
Pada 2 Mei 2026, Sadiyem dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci. Bagi sebagian orang, perjalanan haji adalah tentang jarak ribuan kilometer. Tentang pesawat, hotel, dan rangkaian ibadah.
Namun, Sadiyem, perjalanan ini jauh lebih dalam dari itu. Ini adalah perjalanan dari masa muda menuju usia senja. Dari kesabaran menuju pengabulan. Dari doa yang panjang menuju jawaban yang nyata.
Ia mengajarkan bahwa haji bukan soal kuat atau lemahnya fisik semata, tetapi tentang kesiapan hati untuk memenuhi panggilan Allah.
Di tengah dunia yang serba cepat dan instan, kisah Sadiyem hadir sebagai pengingat: bahwa tidak semua hal harus segera. Ada yang perlu ditunggu dengan sabar, dijaga dengan iman, dan diraih dengan ketulusan.
Dan ketika waktu itu tiba, bahkan di usia 86 tahun, Allah akan membuka jalan.
Doa yang Mengiringi
Kini, bukan hanya keluarga yang menanti keberangkatannya. Warga Kedungadem, Bojonegoro, dan lingkungan Muhammadiyah Jawa Timur turut mendoakan.
Semoga langkah-langkahnya dimudahkan. Semoga kesehatannya terjaga. Dan semoga ia kembali dengan predikat haji yang mabrur.
Karena pada akhirnya, kisah Sadiyem bukan hanya tentang satu orang yang berangkat haji. Ini adalah kisah tentang harapan yang tak pernah tua. Tentang iman yang tetap menyala, bahkan ketika tubuh mulai melemah.
Dan tentang keyakinan sederhana, bahwa panggilan Allah akan selalu menemukan jalannya, kepada siapa pun yang bersungguh-sungguh menjawabnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments