Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dari Panggung Famfest, Sekolah Kreatif Tunjukkan Wajah Pendidikan Inklusif

Iklan Landscape Smamda
Dari Panggung Famfest, Sekolah Kreatif Tunjukkan Wajah Pendidikan Inklusif
Latihan Famfest 2026 di halaman SD Muhammadiyah 16 Surabaya. (Ahmad Mahmudi/PWMU.CO)
pwmu.co -

Gemuruh musik memenuhi halaman SD Muhammadiyah 16 Surabaya, Rabu (20/5/2026). Barisan siswa tampil rapi memerankan drama musikal dengan penuh semangat dalam latihan intensif Family Festival (Famfest) 2026.

Kegiatan tahunan Sekolah Kreatif Baratajaya itu tahun ini mengusung tema “Kami Muslim, Kami Pemimpin” dan akan digelar pada Sabtu (23/5/2026) di Airlangga Convention Center Surabaya.

Sejak pukul 08.00 WIB, siswa kelas I hingga kelas VI bergantian memadati halaman sekolah. Mereka berlatih dialog, gerak, tarian, hingga penghayatan karakter tokoh-tokoh besar dalam sejarah Islam.

Namun, lebih dari sekadar pertunjukan seni, Famfest menjadi ruang belajar inklusif yang memperlihatkan bagaimana siswa reguler dan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) tumbuh bersama tanpa sekat.

Pada H-3 pelaksanaan, seluruh panitia tampak bekerja secara terpadu. Tim multimedia, tata panggung, audio visual, lighting, hingga pengarah drama memastikan setiap detail berjalan sesuai konsep.

Koordinator multimedia, Ahmad Saifuddin Zuhri, S.Kom., S.Pd., menjelaskan bahwa sinkronisasi menjadi fokus utama latihan tahun ini.

“H-3 ini kami fokus pada sinkronisasi audio, visual background, lighting, smoke effect, sampai penentuan detik live view agar seluruh tampilan berjalan presisi,” ujar Zuhri sambil memantau layar monitor di selasar sekolah.

Sementara itu, Koordinator Acara Famfest 2026 Abdul Rozak, S.Pd., mengatakan bahwa seluruh kelas telah menyiapkan konsep penampilan sejak satu bulan terakhir.

Guru kelas bersama siswa menyusun sinopsis, menentukan pemeran, hingga menyiapkan properti pendukung.

“Tahun ini kami mengangkat tokoh dan peradaban besar Islam, mulai Khulafaur Rasyidin, Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyah, kejayaan Ottoman oleh Muhammad Al Fatih, kisah perempuan hebat Fatimah Al Fahri, hingga cerita Sultan Malik Al Saleh,” jelas Rozak.

Menurutnya, drama musikal dipilih karena mampu menghadirkan pembelajaran sejarah secara kontekstual dan menyenangkan bagi siswa.

Anak-anak tidak hanya membaca sejarah, tetapi juga memerankannya secara langsung melalui ekspresi, dialog, dan kolaborasi tim.

Yang paling menarik dari Famfest 2026 adalah keterlibatan seluruh siswa tanpa terkecuali. Setiap anak diberi ruang tampil sesuai kemampuan dan potensinya masing-masing, termasuk siswa ABK yang menjadi bagian penting dalam setiap pertunjukan.

Suyono, S.Si., sebagai Wakil Kepala menegaskan bahwa konsep inklusi di Sekolah Kreatif bukan sekadar slogan, melainkan budaya yang dijalankan dalam keseharian pembelajaran.

“Setiap anak mempunyai peran. Banyaknya karakter siswa tidak menjadikan keterbatasan mereka sebagai penghalang untuk berkarya,” ujar Suyono.

SMPM 5 Pucang SBY

Ia menambahkan, keberadaan siswa ABK dalam drama musikal justru menghadirkan warna tersendiri dalam setiap adegan.

Siswa reguler belajar membangun empati, sementara siswa ABK memperoleh ruang berekspresi dan kepercayaan diri.

“Ketika siswa ABK dan reguler tampil bersama, di situlah pembelajaran sosial terjadi. Anak-anak belajar saling membantu, memahami kondisi teman, dan tumbuh dengan rasa empati yang kuat,” imbuhnya.

Dalam proses latihan, guru pendamping terlihat aktif mengarahkan siswa ABK memahami alur adegan, menghafal gerakan, hingga membangun keberanian tampil di depan umum.

Beberapa siswa tampak berlatih berulang kali dengan pendampingan intensif, namun suasana latihan tetap hangat dan penuh dukungan dari teman-teman sekelasnya.

Tidak sedikit orang tua yang mengaku terharu melihat perkembangan anak-anak mereka. Bagi siswa ABK, tampil dalam drama musikal berskala besar menjadi capaian penting dalam perkembangan sosial dan emosional mereka.

Penggagas Sekolah Kreatif Baratajaya, Heru Tjahyono, turut memantau jalannya latihan sejak pagi. Menurutnya, Famfest merupakan bentuk pembelajaran kontekstual yang menggabungkan seni, sejarah, karakter, dan nilai kemanusiaan dalam satu panggung pendidikan.

“Famfest ini mengangkat sejarah kejayaan Islam dengan pendekatan yang menarik bagi siswa karena didukung drama musikal dan pengalaman langsung,” ujar pria yang akrab disapa Babe Heru tersebut.

Ia menegaskan bahwa sejak berdiri pada tahun 2002, Sekolah Kreatif telah menjadi sekolah inklusi yang mempertemukan siswa reguler dan ABK dalam satu lingkungan belajar yang setara.

Model pendidikan inilah yang kemudian menjadikan Sekolah Kreatif sebagai salah satu rujukan sekolah inklusi di Surabaya.

“Di sini setiap anak adalah juara. Siswa ABK dan reguler tumbuh bersama sesuai tahap perkembangannya masing-masing. Mereka belajar bersosialisasi, bekerja sama, dan saling menghargai. Ketika mereka mampu tampil bersama di atas panggung, itu adalah prestasi besar yang harus kita apresiasi,” tegas Babe Heru.

Melalui Famfest 2026, Sekolah Kreatif kembali menunjukkan bahwa pendidikan inklusif bukan hanya tentang menerima perbedaan, tetapi tentang menghadirkan ruang agar setiap anak merasa dihargai, mampu berkembang, dan percaya bahwa semua akan baik-baik saja.(*)

Revisi Oleh:
  • Zahrah Khairani Karim - 20/05/2026 22:04
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡