Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Sarasehan Pemuda ICMI DIY: Intelektual Jangan Takut Menempuh Jalan Sunyi

Iklan Landscape Smamda
Sarasehan Pemuda ICMI DIY: Intelektual Jangan Takut Menempuh Jalan Sunyi
Sarasehan Pemuda ICMI DIY: Intelektual Jangan Takut Menempuh Jalan Sunyi
pwmu.co -

Majelis Pengurus Wilayah Pemuda Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar Rapat Kerja dan Sarasehan di Gedung AR A Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Selasa (19/5/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan UMY, Prof. Dr. Zuly Qodir, M.Ag., serta Ketua Majelis Pengurus Wilayah Pemuda ICMI DIY, Dr. Bachtiar Dwi Kurniawan, MPA.

Sarasehan diikuti kader muda ICMI dari berbagai perguruan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dalam pengantarnya, Bachtiar menyoroti melemahnya suara intelektual di tengah dominasi kekuasaan yang semakin menguat.

Menurutnya, dunia saat ini tidak lagi dipandu moralitas dan etika, melainkan oleh siapa yang paling kuat.

“Suara-suara second opinion, bahkan dari kampus, dari intelektual dan cendekiawan, seperti angin lalu,” ujarnya.

Bachtiar mengajak peserta menjadi intelektual organik sebagaimana konsep yang diperkenalkan Antonio Gramsci, yakni cendekiawan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga terlibat langsung dalam mengartikulasikan gagasan demi kepentingan masyarakat.

Ia juga mengkritik kecenderungan sebagian akademisi yang lebih fokus pada publikasi jurnal internasional tanpa memiliki sensitivitas terhadap persoalan nyata di tengah masyarakat.

Sementara itu, Prof. Zuly Qodir menegaskan bahwa gelar akademik dan jumlah publikasi bukan satu-satunya ukuran seorang intelektual.

Ia mencontohkan Kuntowijoyo dan Sartono Kartodirdjo sebagai intelektual besar Indonesia yang kontribusi pemikirannya diakui luas, meski tidak dikenal melalui publikasi jurnal internasional bereputasi.

“Kalau Anda berani mengatakan Kuntowijoyo bukan intelektual, Anda terlalu berani,” tegasnya.

SMPM 5 Pucang SBY

Zuly juga menyoroti fenomena yang ia sebut sebagai “prostitusi akademik”, yakni praktik membayar reviewer demi memperoleh jabatan guru besar.

Menurutnya, praktik tersebut mencederai martabat dunia akademik dan merusak integritas keilmuan.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kritik tidak dapat disamakan dengan kebencian.

“Mengkritik itu tidak sama dengan membenci. Kalau saya mengkritik berdasarkan fakta lapangan, itu tidak sama dengan saya sedang membenci pemimpin negara,” ujarnya.

Dalam forum tersebut, Zuly juga menyinggung sejumlah kebijakan pemerintah yang menurutnya perlu ditinjau ulang, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan koperasi desa yang dinilai belum sepenuhnya berpihak kepada masyarakat luas.

Mengutip pemikiran Edward Said, ia mengingatkan bahwa intelektual sejati harus siap berjalan di “jalan sunyi”, tanpa silau terhadap pujian, jabatan, maupun materi.

“Berada di jalan sunyi, memberikan perhatian kepada kegelisahan yang ada di hati rakyat. Itulah tugas seorang cendekiawan,” pungkasnya.

Sarasehan kemudian ditutup dengan rapat komisi untuk merumuskan program kerja Pemuda ICMI DIY ke depan.

Revisi Oleh:
  • Satria - 20/05/2026 22:52
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡