Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Di Tengah Hamalatul Qur’an, Ummul Mukminin dan Darul Arqam Menyiapkan Kader Ulama Muhammadiyah Masa Depan

Iklan Landscape Smamda
Di Tengah Hamalatul Qur’an, Ummul Mukminin dan Darul Arqam Menyiapkan Kader Ulama Muhammadiyah Masa Depan
Di Tengah Hamalatul Qur’an, Ummul Mukminin dan Darul Arqam Menyiapkan Kader Ulama Muhammadiyah Masa Depan
Oleh : Haidir Fitra Siagian Wakil Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan / Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar

Di tengah ratusan Hamalatul Qur’an, para penjaga cahaya wahyu di muka bumi, tampak jelas tumbuhnya tunas-tunas kader ulama Muhammadiyah masa depan.

Suasana tersebut terasa dalam dua agenda wisuda hafidz Al-Qur’an yang berlangsung di Sulawesi Selatan pada Mei 2026. Momentum itu bukan sekadar seremoni penamatan santri, melainkan gambaran nyata keberhasilan pesantren Muhammadiyah dalam melahirkan generasi Qurani yang siap menjaga nilai-nilai Islam dan melanjutkan dakwah Persyarikatan.

Saya memperoleh amanah mewakili Lembaga Pengembangan Pesantren Muhammadiyah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan untuk menghadiri dua kegiatan tersebut.

Pertama, Wisuda Santri Hafidz Qur’an Pondok Pesantren Putri Ummul Mukminin Aisyiyah Sulawesi Selatan yang dilaksanakan pada Jumat, 22 Mei 2026 di Makassar.

Kedua, Penamatan Pesantren Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Gombara dalam rangka ramah tamah Fastwersa49 yang berlangsung pada Ahad, 24 Mei 2026.

Kedua lembaga pendidikan tersebut merupakan amal usaha Muhammadiyah dan Aisyiyah yang selama ini konsisten membina generasi muda melalui pendidikan pesantren berbasis Al-Qur’an dan pembentukan karakter.

Pada dua momentum tersebut, sekitar 300 santri Muhammadiyah dan Aisyiyah menyelesaikan pendidikan setingkat SMA.

Sebagian besar dari mereka merupakan penghafal Al-Qur’an dengan capaian hafalan yang beragam.

Berada di tengah ratusan santri penghafal Al-Qur’an menghadirkan rasa haru sekaligus kebahagiaan tersendiri.

Saya melihat lahirnya generasi muda yang tidak hanya unggul dalam hafalan, tetapi juga dipersiapkan menjadi kader Muhammadiyah yang memiliki integritas, semangat dakwah, dan kepedulian sosial.

Para santri tersebut bukan sekadar lulusan pesantren yang telah menyelesaikan pendidikan formal.

Mereka adalah penjaga bumi, harapan umat dan Persyarikatan, yang diharapkan mampu melanjutkan perjuangan dakwah melalui ilmu pengetahuan, akhlak mulia, dan pengabdian kepada masyarakat.

Kehadiran mereka menjadi sumber optimisme di tengah tantangan sosial dan moral yang semakin kompleks.

Dari generasi inilah diharapkan lahir pemimpin-pemimpin umat yang mampu menghadirkan Islam yang menebarkan kedamaian dan pencerahan.

Kebahagiaan tersebut terasa semakin dekat secara personal ketika menghadiri wisuda di Pondok Pesantren Putri Ummul Mukminin Aisyiyah Sulawesi Selatan.

Di antara para santri yang diwisuda, ternyata terdapat keponakan saya sendiri, Salwa Humairah Lubis, putri dari adik kandung saya yang berasal dari Duri, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau.

Selama kurang lebih tiga tahun, ia datang ke Makassar untuk menempuh pendidikan dan memperdalam hafalan Al-Qur’an di pesantren tersebut.

Melihatnya menyelesaikan pendidikan sebagai bagian dari generasi penghafal Al-Qur’an menghadirkan rasa syukur yang sangat mendalam bagi keluarga kami.

Sementara itu, di Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Gombara, saya juga merasakan kegembiraan ketika mengetahui bahwa beberapa santri yang tamat merupakan anak-anak pasangan kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) generasi akhir 1990-an dan awal 2000-an.

Hal tersebut menunjukkan bahwa proses kaderisasi Muhammadiyah berjalan secara berkelanjutan lintas generasi.

Anak-anak para aktivis dakwah kini tumbuh menjadi generasi baru penghafal Al-Qur’an yang siap melanjutkan perjuangan orang tua mereka di tengah masyarakat.

Bagi Muhammadiyah, Islam tidak ditempatkan hanya sebatas ritual ibadah atau hafalan teks keagamaan.

SMPM 5 Pucang SBY

Muhammadiyah berupaya menghadirkan Islam sebagai gerakan amaliah yang membawa kemajuan, kesejahteraan, dan pencerahan bagi umat manusia.

Karena itu, sistem pendidikan pesantren Muhammadiyah tidak hanya fokus pada hafalan Al-Qur’an, tetapi juga pembentukan karakter, penguatan ilmu pengetahuan, dan kemampuan menjawab tantangan zaman.

Semangat tersebut sejalan dengan tujuan Muhammadiyah untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam demi terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Dalam konteks Persyarikatan, para penghafal Al-Qur’an memiliki posisi sangat strategis.

Mereka menjadi penjaga kemurnian nilai dan ideologi Muhammadiyah dalam upaya mengembalikan praktik keagamaan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Selain itu, mereka juga menjadi penggerak utama perkembangan Muhammadiyah Boarding School (MBS) yang kini tumbuh di berbagai daerah.

Dari lingkungan pesantren itulah diharapkan lahir kader-kader ulama yang kelak memperkuat Majelis Tarjih dan Tajdid dalam merumuskan pandangan keagamaan serta menjawab problematika umat yang terus berkembang.

Para penghafal Al-Qur’an juga diharapkan mampu menjadi sumber kekuatan spiritual di tengah amal usaha Muhammadiyah.

Mereka akan hadir sebagai imam masjid, pembimbing rohani, guru, dai, maupun penggerak dakwah di berbagai institusi Muhammadiyah seperti sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan lembaga sosial.

Karena perannya yang sangat penting, penghafal Al-Qur’an dipandang sebagai aset strategis Persyarikatan yang perlu mendapatkan perhatian serius melalui penguatan pesantren dan dukungan pendidikan lanjutan.

Muhammadiyah memahami bahwa kualitas kader ulama dan intelektual menjadi salah satu penentu masa depan gerakan dakwah ini.

Melalui koordinasi LP2M PWM Sulsel, termasuk melalui daurah dan kemah tahfidz yang rutin dilaksanakan, pengembangan pesantren Muhammadiyah diarahkan pada integrasi ilmu agama dan ilmu umum secara harmonis.

Para santri tidak hanya dipersiapkan menjadi penjaga hafalan Al-Qur’an, tetapi juga diarahkan menjadi profesional, akademisi, ilmuwan, dan ulama berkemajuan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Klaster pesantren tahfidz yang dibina LP2M diharapkan menjadi sumber lahirnya ulama tarjih yang kuat hafalannya, luas wawasan keilmuannya, dan progresif dalam melakukan ijtihad menghadapi perubahan zaman.

Dengan demikian, pesantren Muhammadiyah dapat terus menjadi pusat kaderisasi ulama sekaligus pusat lahirnya generasi unggul bangsa.

Perkembangan pesantren Muhammadiyah dan Aisyiyah di Sulawesi Selatan tidak hanya terlihat di dua pesantren tersebut.

Pada tahun ini, terdapat sekitar 30 pesantren Muhammadiyah dan Aisyiyah lainnya di Sulawesi Selatan yang juga menamatkan para santrinya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa gerakan pendidikan Qurani dan kaderisasi ulama terus berkembang dengan penuh optimisme.

Dari pesantren-pesantren itu diharapkan lahir generasi Hamalatul Qur’an yang tidak hanya menjaga hafalan, tetapi juga membawa cahaya Al-Qur’an untuk membangun masyarakat, memperkuat Persyarikatan, dan menghadirkan Islam berkemajuan bagi Indonesia dan dunia.

Revisi Oleh:
  • Satria - 26/05/2026 13:54
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡