Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Refleksi Idul Kurban: Taat, Tulus, dan Sabar dalam Berorganisasi Muhammadiyah

Iklan Landscape Smamda
Refleksi Idul Kurban: Taat, Tulus, dan Sabar dalam Berorganisasi Muhammadiyah
Refleksi Idul Kurban: Taat, Tulus, dan Sabar dalam Berorganisasi Muhammadiyah
Oleh : Ali Fauzi Kepala SMA Muhammadiyah 4 Surabaya

Iduladha bukan sekadar perayaan penyembelihan hewan Kurban. Lebih dari itu, iduladha merupakan momentum refleksi tentang makna ketaatan, pengorbanan, ketulusan, dan kesabaran dalam menjalani kehidupan.

Nilai-nilai tersebut diwariskan melalui keteladanan Nabi Ibrahim AS ketika menerima ujian besar dari Allah SWT untuk mengorbankan putranya, Nabi Ismail AS.

Nabi Ibrahim tidak membantah perintah tersebut. Ia memilih taat sepenuhnya kepada Allah. Nabi Ismail pun menjawab dengan penuh keridaan. Dari peristiwa itu lahirlah teladan sami’na wa atha’na — “kami mendengar dan kami taat”.

Sikap itulah yang seharusnya menjadi spirit dalam kehidupan berorganisasi, termasuk di Muhammadiyah.

Muhammadiyah lahir dari kesadaran untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, beramal, berjuang, dan berkorban demi menegakkan agama Allah di muka bumi.

Karena itu, organisasi bukanlah milik pribadi, melainkan wasilah perjuangan.

Dalam konteks tersebut, cara berorganisasi di Muhammadiyah semestinya meneladani spirit Nabi Ibrahim: taat, tulus, dan sabar.

Ketaatan Nabi Ibrahim merupakan ketaatan tanpa syarat.

Dalam Muhammadiyah, ketaatan itu diwujudkan melalui kepatuhan terhadap Khittah, Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, serta keputusan-keputusan musyawarah.

Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar. Namun setelah keputusan ditetapkan bersama, seluruh kader seharusnya bergerak dalam satu barisan.

Berorganisasi bukan ruang untuk memenangkan ego pribadi. Sebab jika setiap kader membawa kepentingannya sendiri, maka organisasi akan mudah retak.

Spirit sami’na wa atha’na yang termuat dalam Mars Muhammadiyah menjadi pengingat bahwa setelah mendengar keputusan, maka tugas berikutnya adalah melaksanakan dengan penuh tanggung jawab.

Kurban Nabi Ibrahim adalah bentuk pengorbanan yang sangat besar: anak, kenyamanan, dan seluruh rasa cinta duniawi.

Muhammadiyah pun berdiri di atas pengorbanan para pendiri dan kader terdahulu yang membangun sekolah, rumah sakit, masjid, hingga panti asuhan tanpa menghitung keuntungan pribadi.

Karena itu, berorganisasi di Muhammadiyah berarti siap mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan materi demi kemaslahatan umat.

Namun pengorbanan tersebut harus dilakukan dengan ketulusan.

Tidak mengharap jabatan, pujian, ataupun balas jasa. Sebab ketulusan berarti bekerja karena Allah SWT, bukan demi pengakuan manusia.

Jalan dakwah Muhammadiyah tidak selalu berjalan mulus.

Dalam perjalanan organisasi, sering muncul kritik, keterbatasan sumber daya, perbedaan pandangan, hingga berbagai ujian lainnya.

SMPM 5 Pucang SBY

Nabi Ibrahim AS telah memberikan teladan kesabaran dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Kesabaran dalam organisasi berarti tidak mudah kecewa ketika hasil belum sesuai harapan, tidak mudah meninggalkan perjuangan saat menghadapi persoalan, serta tidak mudah mencaci ketika terjadi perbedaan pandangan.

Sabar juga berarti menjaga lisan, merawat ukhuwah, dan menyelesaikan amanah hingga tuntas.

Organisasi besar lahir dari kader-kader yang sabar dan istiqamah dalam perjuangan.

Dalam praktiknya, kader Muhammadiyah seharusnya menjadi pribadi yang mendengar aturan lalu melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab.

Bekerja dengan hati, bukan sekadar hadir secara administratif.

Berkorban tanpa pamrih dan tetap bertahan meski menghadapi berbagai ujian.

Mars Muhammadiyah sendiri menegaskan:

“Kami semua Muhammadiyah, taat setia pada pimpinan. Sami’na wa atha’na, bekerja giat sentosa.”

Filosofi tersebut mengandung makna mendalam bahwa ketaatan melahirkan kesetiaan, kesetiaan melahirkan kerja keras, dan kerja keras yang tulus akan membawa organisasi menuju kemajuan.

iduladha mengingatkan bahwa Allah SWT tidak melihat darah dan daging hewan Kurban, melainkan ketakwaan manusia.

Demikian pula Muhammadiyah tidak hanya membutuhkan kader yang pandai berbicara, tetapi kader yang menghadirkan ketakwaan dalam amal organisasi: taat, tulus berkorban, dan sabar berjuang.

Momentum iduladha seharusnya menjadi sarana evaluasi diri bagi seluruh kader Muhammadiyah.

Sudahkah semangat Nabi Ibrahim benar-benar hidup dalam cara kita berorganisasi?

Jika belum, maka inilah saat yang tepat untuk memperbaiki diri. Sebab Muhammadiyah akan terus maju apabila setiap kader hidup dengan spirit Kurban: taat, tulus, dan sabar.

Wallahu a’lam.

Revisi Oleh:
  • Satria - 26/05/2026 14:14
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu