Ada yang menarik dari kemunculan teknologi Samsung dalam film Spider-Man: Brand New Day. Spider-Man—karakter yang sangat lekat dengan Sony Pictures—justru tampil dalam kampanye dan film yang menonjolkan perangkat Samsung Galaxy.
Sekilas, ini seperti sebuah paradoks. Bukankah Sony juga memiliki lini smartphone Xperia? Mengapa karakter yang menjadi salah satu aset hiburan penting Sony justru dipasangkan dengan merek pesaing?
Jawabannya sederhana: bisnis modern tidak selalu bekerja dengan logika “kalau bersaing, berarti harus saling menjauh”.
Justru sebaliknya. Di tengah persaingan yang semakin ketat, perusahaan bisa menemukan nilai ekonomi yang lebih besar melalui kolaborasi.
Samsung dan Sony Pictures memperlihatkan contoh menarik tentang bagaimana kompetisi dan kolaborasi dapat berjalan bersamaan.
Samsung secara resmi menggandeng Sony Pictures dalam kampanye Spider-Man: Brand New Day. Lini Galaxy Z dan Galaxy Watch menjadi bagian dari dunia film tersebut. Samsung bahkan mengembangkan pengalaman interaktif bernama Spidey Tracker, yang dalam cerita digunakan Ned Leeds untuk melacak Spider-Man.
Kolaborasi itu kemudian diperluas melalui film pendek yang menampilkan Peter Parker dan Ned Leeds. Ceritanya dibuat sedemikian rupa agar teknologi Samsung tidak terasa seperti iklan yang ditempelkan begitu saja ke dalam cerita. Di sinilah menariknya.
Produk Tidak Lagi Sekadar Dipajang
Dalam kampanye Samsung, kehidupan Spider-Man digambarkan penuh risiko. Aktivitas sebagai superhero membuat telepon seluler Peter Parker berulang kali rusak. Masuk akal.
Berayun dari gedung ke gedung, bertarung dengan penjahat, terjatuh, terkena benturan, ledakan, hingga berada di lingkungan ekstrem tentu bukan situasi ideal bagi sebuah telepon pintar.
Masalah tersebut kemudian menjadi bagian dari cerita. Melalui teknologi Fabricator, Peter mendapatkan perangkat Galaxy yang disiapkan untuk menghadapi kehidupan seorang superhero.
Samsung menyebut film pendek itu sebagai cerita orisinal yang memadukan inovasi Galaxy dengan dunia Spider-Man: Brand New Day.
Ini bukan lagi sekadar product placement konvensional. Produk tidak hanya muncul di layar. Produk diberi alasan untuk hadir dalam cerita. Itulah salah satu perubahan penting dalam pemasaran modern.
Dulu, sebuah merek cukup menampilkan logo dalam film atau membuat tokoh utama memegang produknya selama beberapa detik. Sekarang, pendekatan seperti itu semakin mudah dikenali penonton sebagai iklan.
Karena itu, produk harus menjadi bagian dari pengalaman. Samsung memahami hal tersebut. Galaxy tidak sekadar diposisikan sebagai telepon yang digunakan Spider-Man. Ia ditempatkan sebagai bagian dari kehidupan karakter, teknologi yang membantu menyelesaikan persoalan, sekaligus elemen yang memperluas cerita.
Dengan kata lain, Samsung tidak hanya menjual perangkat. Samsung menjual konteks.
Mengapa Spider-Man?
Pilihan Spider-Man juga bukan tanpa alasan. Peter Parker adalah salah satu superhero yang paling dekat dengan kehidupan manusia biasa. Ia bukan miliarder seperti Tony Stark. Bukan pula dewa seperti Thor.
Peter adalah anak muda yang harus menghadapi persoalan sehari-hari, tetapi pada saat yang sama memiliki kemampuan luar biasa.
Dia cerdas, kreatif, adaptif, dan sering harus menemukan jalan keluar dari situasi sulit. Karakter seperti ini sangat cocok dengan citra teknologi yang ingin dibangun Samsung.
Samsung tidak sekadar ingin mengatakan bahwa perangkatnya memiliki layar besar, kamera bagus, atau teknologi kecerdasan buatan. Lebih jauh, perusahaan ingin mengaitkan produknya dengan inovasi, kreativitas, ketangguhan, dan kemampuan beradaptasi.
Samsung sendiri menyebut Spider-Man sebagai karakter yang merepresentasikan kecerdikan, ketangguhan, dan kemampuan melihat berbagai kemungkinan. Nilai tersebut dianggap selaras dengan karakter merek Galaxy.
Maka, ketika Spider-Man menggunakan Galaxy, yang bekerja bukan hanya fungsi perangkat. Yang bekerja adalah asosiasi merek.
Penggemar Spider-Man membawa kekaguman mereka terhadap karakter itu. Samsung kemudian berusaha mentransfer sebagian asosiasi tersebut kepada produknya.
Di situlah kekuatan pemasaran berbasis cerita.
Sony Tidak Kalah
Lantas, apakah Sony kalah karena karakter Spider-Man justru dipakai untuk mempromosikan Samsung?
Tidak sesederhana itu. Kesalahan yang sering terjadi adalah melihat bisnis hanya berdasarkan identitas merek.
Sony Pictures dan Sony Xperia memang berada di bawah payung Sony, tetapi kepentingan bisnis keduanya tidak otomatis sama. Sony Pictures bergerak di industri hiburan, sementara bisnis perangkat bergerak dalam ekosistem teknologi yang berbeda.
Dalam konteks kerja sama Spider-Man, kepentingan Sony Pictures adalah bagaimana sebuah film dan aset intelektualnya memperoleh nilai komersial serta jangkauan pemasaran yang maksimal.
Samsung memiliki sesuatu yang dibutuhkan Sony Pictures: kekuatan pemasaran global dan basis konsumen teknologi.
Sebaliknya, Sony Pictures memiliki sesuatu yang dibutuhkan Samsung: Spider-Man. Di titik itulah terjadi pertukaran nilai.
Samsung memperoleh akses ke salah satu karakter budaya pop paling kuat di dunia. Sony Pictures mendapatkan mitra yang dapat membantu memperluas gaung film sekaligus menghadirkan nilai komersial tambahan.
Jadi, tidak ada yang harus “menang” dengan cara membuat pihak lain kalah. Keduanya bisa menang karena menemukan kepentingan yang beririsan.
Rival Bisa Menjadi Mitra
Fenomena tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang aneh dalam dunia bisnis. Perusahaan dapat bersaing keras di satu wilayah, tetapi bekerja sama di wilayah lain.
Apple dan Samsung, misalnya, merupakan rival besar dalam industri smartphone. Namun, rantai pasok teknologi tidak selalu mengenal batas sesederhana itu.
Microsoft memiliki berbagai aplikasi dan layanan yang berjalan di perangkat Apple. Google pun menyediakan layanan yang digunakan jutaan pengguna iPhone.
Artinya, hubungan antarkorporasi tidak selalu berbentuk garis lurus.
Hari ini kompetitor. Besok mitra. Lusa bisa kembali menjadi kompetitor. Dunia bisnis memang penuh paradoks.
Karena itu, kolaborasi Samsung dan Sony Pictures melalui Spider-Man sebaiknya tidak dilihat sebagai keanehan. Justru di situlah terlihat bagaimana ekonomi kreatif bekerja.
Hak kekayaan intelektual tidak harus dikunci dalam satu ekosistem merek. Sebuah karakter dapat menjadi aset yang nilainya justru meningkat ketika dipertemukan dengan merek lain.
Dari Iklan Menjadi Pengalaman
Hal lain yang patut dicermati adalah perubahan cara perusahaan beriklan. Samsung tidak hanya mengandalkan iklan produk.
Kolaborasi dengan Spider-Man diperluas menjadi pengalaman bagi penggemar. Spidey Tracker, misalnya, tidak berhenti sebagai elemen dalam film. Samsung membawanya ke dunia nyata sebagai pengalaman interaktif yang memungkinkan penggemar mengikuti jejak Spider-Man.
Ini menunjukkan satu hal penting: pemasaran modern tidak cukup hanya membuat orang melihat. Pemasaran harus membuat orang terlibat.
Ketika konsumen hanya melihat iklan, hubungan yang terbentuk mungkin sebentar.
Namun, ketika konsumen ikut bermain, mengikuti cerita, menemukan easter egg, membagikan pengalaman, atau merasa menjadi bagian dari dunia karakter, hubungan dengan merek menjadi jauh lebih kuat.
Inilah yang membuat kolaborasi budaya pop dan teknologi semakin menarik. Produk menjadi bagian dari cerita. Cerita menjadi bagian dari pengalaman. Pengalaman kemudian menjadi bagian dari ingatan konsumen. Dan pada akhirnya, ingatan itulah yang diburu sebuah merek.
Kompetisi Tidak Harus Berujung Permusuhan
Galaxy Z Fold 8 dan lini Galaxy Z terbaru menjadi bagian penting dari momentum kampanye tersebut. Samsung bahkan menggunakan sosok Spider-Man untuk membangun perhatian terhadap desain dan generasi baru perangkat lipatnya menjelang peluncuran Galaxy Unpacked pada 22 Juli 2026.
Film Spider-Man: Brand New Day sendiri mulai tayang di bioskop pada 31 Juli 2026, sehingga momentum antara film, kampanye, dan produk dibangun dalam rentang waktu yang berdekatan.
Di sini terlihat bahwa pemasaran tidak lagi berdiri sendiri. Film menjadi kanal promosi. Promosi menjadi bagian dari cerita. Teknologi menjadi properti naratif. Dan karakter menjadi jembatan menuju konsumen. Semuanya saling menguatkan.
Itulah mengapa kolaborasi semacam ini jauh lebih menarik daripada sekadar memasang logo Samsung di layar.
Pada akhirnya, kisah Spider-Man, Samsung, dan Sony Pictures memberi pelajaran yang lebih luas tentang dunia bisnis.
Kompetisi tetap penting. Namun, kompetisi bukan satu-satunya cara untuk menciptakan nilai. Ada saatnya perusahaan harus beradu. Ada saatnya perusahaan harus berkolaborasi. Bahkan, perusahaan yang sama dapat melakukan keduanya secara bersamaan.
Spider-Man yang hadir bersama teknologi Samsung tidak otomatis berarti Sony kehilangan gengsi. Justru sebaliknya, fenomena ini memperlihatkan bahwa aset kreatif dapat menghasilkan nilai lebih besar ketika dibuka untuk kolaborasi strategis.
Di era ekonomi kreatif, pertanyaannya bukan lagi semata-mata: “Siapa pesaing kita?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Dengan siapa kita bisa menciptakan nilai yang lebih besar?”
Sebab, dalam bisnis modern, perusahaan yang paling kuat belum tentu perusahaan yang paling keras bersaing.
Bisa jadi, pemenangnya adalah perusahaan yang paling cerdas membaca kapan harus berkompetisi dan kapan harus bergandengan tangan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments