Suasana pelepasan purnasiswa Pondok Karangasem mencapai titik paling sunyi sekaligus paling menggetarkan ketika KH Anwar Mu’rob berdiri memimpin doa. (Ahad, 10 Mei 2026)
Di usia beliau yang telah melewati 94 tahun, tubuh renta itu masih tegak menyaksikan anak-anak pondok yang selama ini tumbuh dalam pelukan ilmu dan doa kini bersiap meninggalkan Karangasem untuk menghadapi luas dan kerasnya kehidupan.
Di wajah beliau tampak keteduhan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ada kebahagiaan karena masih diberi umur panjang untuk melihat pondok terus hidup. Namun, tersimpan pula haru yang begitu dalam karena harus kembali merelakan santri-santrinya pergi.
Ketika kedua tangan beliau terangkat perlahan, suasana mendadak berubah menjadi sangat hening. Suara doa yang lirih, pelan, dan bergetar itu seperti mengalir langsung dari kedalaman hati seorang guru yang sepanjang hidupnya dihabiskan untuk menjaga pesantren dan membesarkan generasi.
Tak ada suara selain isak tangis yang mulai pecah diam-diam.
Banyak santri menundukkan kepala. Sebagian menutup wajahnya dengan tangan. Sebagian lain menggigit bibir, berusaha menahan dada yang sesak oleh rasa kehilangan.
Karena mereka sadar, doa itu bukan sekadar penutup acara.
Doa itu adalah cinta yang tidak pernah pandai diucapkan.
Doa itu adalah pelukan terakhir seorang kiai kepada anak-anaknya sebelum mereka turun gunung menghadapi kehidupan.
Setiap kalimat yang keluar dari bibir beliau terasa begitu dalam, seolah membawa seluruh kenangan tentang pondok: malam-malam panjang mengaji, langkah menuju masjid saat dini hari, suara nasihat para guru, hingga hari-hari sederhana yang kelak justru menjadi hal paling dirindukan dalam hidup.
Dan ketika doa itu terus mengalun, banyak hati runtuh tanpa mampu bertahan.
Sebab di hadapan mereka berdiri seorang ulama sepuh, murid langsung pendiri Pondok Pesantren Karangasem, KH Abdur Rahman Syamsury, yang telah menghabiskan hidupnya untuk merawat warisan ilmu dan menyalakan cahaya pendidikan bagi ribuan santri.
Hari itu, para santri tidak hanya menangis karena akan berpisah dengan pondok. Mereka menangis karena merasakan betapa tulusnya doa-doa yang dipanjatkan untuk kehidupan mereka.
Tangis itu lahir dari kesadaran bahwa mungkin, di dunia yang begitu keras nanti, tidak akan banyak lagi orang yang mendoakan mereka sedalam dan setulus seorang kiai kepada murid-muridnya.
Di bawah langit Karangasem yang teduh, doa KH Anwar Mu’rob menjelma lebih dari sekadar munajat. Ia menjadi suara cinta, restu, dan pengorbanan panjang seorang guru tua yang sedang mengikhlaskan anak-anaknya pergi membawa ilmu, iman, dan kenangan pondok menuju jalan kehidupan yang sesungguhnya.





0 Tanggapan
Empty Comments