Dalam menuntut ilmu kita dituntut untuk meluruskan niat. Ilmu yang dipelajari karena Allah SWT tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga melahirkan karya-karya besar yang membawa manfaat luas bagi kehidupan manusia.
Menurut Ustaz Adi Hidayat atau (UAH), kekuatan terbesar dalam menuntut ilmu terletak pada niat yang benar karena Allah SWT.
“Niat yang lurus tidak hanya menghadirkan nilai ibadah, tetapi juga melahirkan keberkahan ilmu dan karya-karya besar yang bermanfaat bagi umat manusia,” kataya sdperti dikutip dari kanal Youtube Adi Hidayat Official.
UAH menuturkan, para ulama klasik dan ilmuwan Muslim terdahulu mampu melahirkan peradaban besar karena membangun ilmu di atas fondasi keikhlasan.
Dia menyebut sejumlah tokoh besar Islam seperti Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad bin Hanbal, hingga ilmuwan Muslim seperti Ibnu Sina, Al-Kindi, Al-Farabi, Al-Khawarizmi, dan Jabir bin Hayyan.
“Mereka membangun ilmu dengan niat yang tertancap kuat hanya untuk Allah. Karena itu karya-karya mereka tetap hidup dan bermanfaat sampai hari ini,” ujar UAH.
UAH juga menjelaskan, ketika ilmu diniatkan sebagai ibadah, maka dunia justru akan mengikuti. Sebaliknya, jika dunia dijadikan tujuan utama, maka keberkahan ilmu akan hilang.
UAH kemudian mengutip pandangan Ibn Qayyim al-Jawziyyah tentang hakikat dunia. Dia mengibaratkan dunia seperti bayangan yang tidak akan pernah bisa diraih jika dikejar, namun akan mengikuti ketika ditinggalkan demi tujuan akhirat.
“Kalau dunia dikejar seperti bayangan, tidak akan pernah didapat. Tapi kalau kita berbalik meninggalkannya karena Allah, maka dunia akan mengikuti,” jelas UAH.
Ilmu Harus Melahirkan Manfaat
UAH juga mengingatkan para pelajar dan mahasiswa agar sejak dini meluruskan niat belajar karena Allah SWT. Kata dia, niat yang benar akan membimbing seseorang menggunakan ilmunya untuk kemaslahatan.
Dia mencontohkan seorang arsitek yang belajar dengan niat ibadah tidak akan mudah menggunakan kemampuannya untuk membangun tempat-tempat maksiat. Begitu pula ahli hukum, ekonomi, politik, maupun bidang ilmu lainnya.
“Kalau niatnya benar karena Allah dan diiringi ketakwaan, maka arah ilmunya pasti menuju kebaikan,” katanya.
Menurut UAH, keberkahan ilmu akan terlihat dari manfaat yang dihasilkan. Ilmu bukan sekadar menghasilkan pekerjaan atau penghasilan, tetapi juga menghadirkan nilai tambah kebaikan bagi banyak orang.
Ia juga mengingatkan bahwa penyimpangan bisa terjadi pada siapa saja, termasuk orang yang mempelajari ilmu agama. Karena itu, menjaga niat merupakan perjuangan yang tidak mudah.
Bahaya Popularitas dan Pencitraan
Pada bagian lain tausiyahnya, UAH mengingatkan bahaya riya dan orientasi dunia dalam berdakwah maupun beramal.
Dia mengutip hadis tentang tiga golongan pertama yang dihisab pada hari kiamat, yakni orang berilmu, orang kaya, dan orang yang tampak membela kebenaran, tetapi seluruh amalnya dilakukan demi popularitas dan pujian manusia.
Dikatakan UAH, fenomena tersebut juga relevan pada era digital saat ini, ketika sebagian orang lebih mengejar popularitas, jumlah pengikut, hingga keuntungan materi dibanding keikhlasan.
“Kalau semua difokuskan ke dunia, akhirat tidak akan didapat. Tapi kalau diniatkan karena Allah, dunia bisa datang sekaligus diarahkan menjadi maslahat,” ujarnya.
UAH mengajak umat Islam untuk terus mengevaluasi niat dan memperbanyak renungan tentang kehidupan akhirat. Ia menilai manusia sering terlena oleh kehidupan dunia hingga lupa pada tujuan utama hidup.
UAH juga mengingatkan pentingnya memperbanyak mengingat surga dan neraka agar hati tetap hidup dan terjaga dari kesombongan.
“Sering-seringlah merenung. Bisa jadi Allah sedang mengembalikan kita kepada fitrah yang benar, kepada jalan yang lurus untuk kembali kepada-Nya,” titupnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments