Saya membayangkan John Lennon duduk di depan piano. Jemarinya bergerak pelan. Dia sedang membayangkan dunia yang berbeda.
Dunia tanpa batas negara. Tanpa agama yang menjadi alasan permusuhan. Tanpa keserakahan yang membuat manusia saling berebut.
Dari imajinasi itu lahir Imagine. Ada satu penggalan lirik yang menjadi jantung lagu tersebut:
Imagine there’s no countries/It isn’t hard to do
Nothing to kill or die for/And no religion, too
Imagine all the people/Living life in peace
Bayangkan semua orang hidup dalam damai. Kalimat itu terdengar begitu mudah. Hanya sebuah ajakan untuk membayangkan. Namun, justru di situlah persoalannya. Membayangkan perdamaian jauh lebih mudah daripada mewujudkannya.
Lebih dari setengah abad berlalu. Lagu itu masih dinyanyikan. Tetapi perang tetap berlangsung. Kebencian terus diproduksi. Manusia masih sibuk membangun pagar, baik di perbatasan negara maupun di dalam pikirannya sendiri.
Saya lalu bertanya: jangan-jangan dunia tanpa sekat itu hanya ilusi?
Dari imajinasi itu lahir Imagine. Lagu yang dirilis pada 1971 itu, kemudian menjelma menjadi salah satu lagu perdamaian paling dikenal di dunia.
Melodinya tenang. Liriknya mengajak orang membayangkan sesuatu yang jauh dari kenyataan. Dunia yang begitu indah. Sampai-sampai kita ingin mempercayainya.
Lebih dari setengah abad berlalu. Lagu itu masih dinyanyikan. Tetapi perang tetap berlangsung. Kebencian terus diproduksi. Manusia masih sibuk membangun pagar. Baik di perbatasan negara maupun di dalam pikirannya sendiri.
Saya lalu bertanya: jangan-jangan dunia tanpa sekat itu hanya ilusi?
Kita pandai membayangkan perdamaian. Sayangnya, kita sering kesulitan mempraktikkannya. Kita memang berbeda
Ada satu hal yang menarik. Dunia yang dibayangkan Lennon seolah-olah baru bisa damai jika sekat-sekat yang memisahkan manusia lenyap.
Padahal, perbedaan tidak selalu menjadi sumber masalah. Yang sering menjadi masalah adalah cara kita memperlakukan perbedaan itu.
Al-Qur’an justru mengingatkan bahwa manusia memang diciptakan berbeda.
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (QS Al-Hujurat: 13).
Perhatikan ujung ayat itu: lita’arafu. Agar saling mengenal. Bukan agar saling meniadakan. Bukan agar satu kelompok merasa paling unggul. Apalagi agar perbedaan menjadi alasan untuk saling membenci.
Allah tidak meminta seluruh manusia menjadi satu bangsa dengan satu bahasa dan satu kebudayaan.
Manusia tetap berbeda. Yang diminta adalah bagaimana perbedaan itu tidak menghalangi kita untuk saling mengenal dan menghormati.
Maka, saya kira, dunia tanpa sekat bukan berarti dunia tanpa identitas. Kita tetap bisa menjadi Muslim tanpa membenci orang yang berbeda agama.
Kita bisa mencintai bangsa sendiri tanpa merendahkan bangsa lain. Kita bisa memegang keyakinan dengan teguh tanpa kehilangan keadilan. Itu yang sering kita lupakan. Sekat yang pindah ke dalam hati
***
Saya kadang merasa, sekat paling sulit diruntuhkan bukanlah tembok di perbatasan. Bukan pula pagar tinggi di depan rumah orang kaya. Sekat paling sulit justru yang kita pelihara dalam hati.
Kita bisa tersenyum kepada seseorang, tetapi diam-diam merendahkannya. Kita bisa berbicara tentang persaudaraan, tetapi hanya mau berteman dengan orang yang sepemikiran.
Kita bisa mengutip ayat tentang kasih sayang, lalu merasa tidak perlu berlaku adil kepada orang yang tidak kita sukai.
Allah mengingatkan dalam QS Al-Ma’idah ayat 8 agar kebencian terhadap suatu kaum tidak mendorong kita berlaku tidak adil. Berlaku adil, kata ayat itu, lebih dekat kepada takwa.
Ayat ini terasa menampar. Sebab, berlaku adil kepada orang yang kita sukai barangkali tidak terlalu sulit. Yang berat adalah tetap adil kepada orang yang kita benci.
Mengakui kebenaran dari mulut orang yang tidak kita sukai. Membela hak seseorang meskipun dia bukan bagian dari kelompok kita. Di sinilah ukuran kemanusiaan diuji.
Rasulullah saw bersabda bahwa Allah tidak melihat rupa dan harta manusia, tetapi melihat hati dan amal mereka (HR Muslim no. 2564).
Bukan bendera yang kita kibarkan. Bukan kelompok yang kita bela. Bukan pula seberapa fasih kita berbicara tentang perdamaian.
Hati dan amal. Dua hal yang tidak selalu tampak ketika kita berdiri di tengah kerumunan sambil menyanyikan lagu tentang persaudaraan.
***
Lantas, apakah Imagine keliru? Saya tidak berpikir demikian.
Yang perlu dikritik bukan impiannya, melainkan anggapan bahwa dunia damai akan hadir dengan sendirinya setelah manusia membayangkannya.
Perdamaian tidak cukup dengan lagu. Perdamaian membutuhkan keadilan. Membutuhkan keberanian mengakui kesalahan. Membutuhkan kesediaan berbagi.
Dan kadang-kadang, membutuhkan keputusan berat untuk menghentikan ketidakadilan yang sudah terlalu lama dianggap biasa.
Bayangkan dua orang yang bertengkar karena haknya dirampas. Menyuruh keduanya berdamai tanpa memulihkan hak yang hilang bukanlah perdamaian. Itu hanya cara halus untuk menutupi masalah.
Begitu pula ketika kita meminta orang yang tertindas melupakan luka, namun tidak meminta orang yang menindas berhenti melakukannya.
Perdamaian tanpa keadilan hanya membuat keadaan tampak tenang. Luka tetap ada. Kebencian tinggal menunggu waktu untuk kembali meledak.
Karena itu, dunia tanpa sekat mungkin memang ilusi jika yang kita maksud adalah dunia yang sama sekali bebas dari pertentangan.
Manusia punya kepentingan, keyakinan, dan cara pandang yang tidak selalu sama. Tidak semua perbedaan harus dilebur. Tidak semua perselisihan bisa dihapus.
Namun, ada perbedaan antara ilusi yang membuat kita terlena dan cita-cita yang mendorong kita bergerak.
Kita mungkin tidak sanggup menghapus semua sekat. Tetapi kita bisa berhenti menambahnya.
Kita mungkin tidak bisa mendamaikan seluruh dunia. Akan tetapi kita bisa berhenti menyulut permusuhan di lingkungan sendiri.
Kita bisa mulai dari hal yang dekat. Tidak menyebarkan fitnah. Tidak merendahkan orang yang berbeda pilihan. Tidak membiarkan kebencian mengalahkan keadilan.
Dan tidak menjadikan agama sebagai pembenaran untuk merasa lebih mulia daripada sesama manusia.
Barangkali itu terdengar kecil. Tetapi bukankah sekat-sekat besar juga dibangun dari prasangka kecil yang dibiarkan tumbuh?
Setelah lagu berhenti Saya membayangkan orang-orang berdiri bersama ketika Imagine diputar. Mereka mengangkat tangan. Sebagian mungkin terharu. Untuk beberapa menit, dunia terasa lebih ramah.
***
Lalu lagu selesai. Mereka pulang ke rumah masing-masing. Kembali ke pekerjaan. Kembali ke perdebatan. Kembali ke dunia yang tidak selalu ramah.
Di situlah ujian sesungguhnya dimulai. Apakah kita masih bisa menghormati orang yang berbeda setelah musik berhenti?
Apakah kita tetap adil ketika kepentingan kita terganggu? Apakah kita masih menganggap orang lain sebagai sesama manusia ketika ia tidak sepakat dengan kita?
Saya kira, dunia tanpa sekat tidak akan pernah selesai dibangun. Selalu ada tembok yang perlu diruntuhkan. Selalu ada prasangka yang harus diperiksa. Selalu ada keadilan yang belum ditunaikan.
Mungkin John Lennon benar ketika mengajak kita membayangkan dunia yang berbeda. Tetapi Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia tidak diciptakan untuk menjadi seragam.
Kita diciptakan agar saling mengenal, sementara kemuliaan di sisi Allah ditentukan oleh ketakwaan.
Maka, saya tidak ingin membayangkan dunia tanpa perbedaan. Saya hanya ingin dunia yang tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menyakiti.
Sebab, yang perlu kita hilangkan bukan perbedaan di antara manusia, melainkan kesombongan yang membuat kita merasa lebih tinggi daripada sesama.
Dan kalau dunia tanpa sekat itu memang ilusi, setidaknya jangan sampai kita ikut menjadi bagian dari tembok yang membuatnya semakin mustahil. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments