Menjaga lingkungan bukan sekadar menanam pohon atau mempertahankan kampus tetap bersih. Di balik persoalan ekologis, ada manusia, satwa, dan masa depan yang ikut dipertaruhkan.
Perspektif tersebut disampaikan konten kreator sekaligus public speaker Ferry Irwandi kepada ribuan mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada penutupan Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) Gen 26 di Hall Dome UMM, Kamis (11/9/2026).
Dalam sesi talkshow bersama Gen 26, pendiri Malaka Project tersebut mengapresiasi komitmen UMM terhadap lingkungan.
Ia menyebut UMM sebagai salah satu kampus swasta dan kampus Muhammadiyah yang dikenal di Indonesia. Menurutnya, perhatian terhadap lingkungan yang dibangun kampus tidak semestinya berhenti pada capaian atau penghargaan semata.
“Seharusnya kita nggak berhenti di penghargaan. Tapi bagaimana kita menjaga lingkungan itu tetap nyaman untuk diri kita sendiri,” ujarnya.
Ferry menilai lingkungan memiliki hubungan langsung dengan kualitas kehidupan manusia. Lingkungan yang baik akan menghadirkan suasana yang baik sekaligus memengaruhi kenyamanan dan perasaan orang yang berada di dalamnya.
Karena itu, menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan bukan sekadar kewajiban atau aturan yang harus dipatuhi.
“Ketika kita mempertahankan hal yang baik dari lingkungan sekitar kita, itu bukan cuma karena aturan, tapi untuk diri kita sendiri,” tuturnya.
Perspektif tersebut kemudian ia tarik pada persoalan lingkungan yang lebih luas, salah satunya kebakaran hutan dan kabut asap di Kalimantan.
Ia menyebut persoalan tersebut telah berlangsung menahun dan hingga kini masih menjadi masalah yang perlu mendapat perhatian bersama.
“Kita pengen kontribusi sebagai sesama warga negara Indonesia, warga jaga warga. Kita coba lakukan yang terbaik untuk saudara-saudara kita di Kalimantan,” katanya.
Ferry menegaskan, kepedulian terhadap lingkungan bukan hanya tentang menyelamatkan hutan.
Menurutnya, masyarakat, satwa, hingga generasi penerus turut terdampak ketika lingkungan mengalami kerusakan. Ia pun mengajak Gen 26 melihat isu lingkungan sebagai bagian dari persoalan kemanusiaan.
“Karena kalau bukan kita, siapa lagi yang menjaga lingkungan sekeliling kita,” tegasnya.
Di hadapan mahasiswa baru, pesan tersebut menjadi relevan dengan semangat Green and Clean yang diusung dalam rangkaian Pesmaba Gen 26.
Baginya, gerakan lingkungan akan lebih bermakna ketika tumbuh menjadi kebiasaan dan kesadaran bersama, bukan sekadar identitas ataupun program seremonial.
Kepedulian tersebut juga menjadi bagian dari pesannya kepada generasi muda agar tidak hanya menjadi penonton atas berbagai persoalan di sekitarnya.
Ia mendorong mahasiswa untuk berani berpikir, kritis, sekaligus mengambil tanggung jawab atas apa yang terjadi di lingkungan mereka.
Menariknya, Ferry juga mengungkap kedekatan dirinya dengan dunia pendidikan Muhammadiyah.
Meski pernah menempuh pendidikan di STAN, ia menyebut pendidikan S1-nya berasal dari Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).
Ia mengaku membawa sejumlah nilai dari pendidikan Muhammadiyah yang menurutnya memberi perspektif berbeda dalam memahami kehidupan dan ilmu pengetahuan.
Kehadirannya pada penutupan Pesmaba Gen 26 pun ditutup dengan penyematan topi kebanggaan UMM oleh Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si.
Ferry didaulat menjadi bagian dari keluarga Kampus Putih sekaligus membawa semangat kepedulian terhadap kelestarian lingkungan dan alam Indonesia. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments