Ada masa ketika seseorang bangun pagi dengan iman yang terasa kokoh. Namun, sebelum malam tiba, keyakinannya goyah hanya karena sebuah video, komentar, atau informasi yang belum tentu benar.
Begitulah zaman yang kita jalani. Bukan sekadar zaman yang ramai. Tetapi zaman ketika manusia berhadapan dengan begitu banyak ujian yang datang hampir tanpa jeda.
Rasulullah saw. telah mengingatkan umatnya tentang fitnah yang datang silih berganti. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:
“Bersegeralah beramal sebelum datang fitnah-fitnah seperti penggalan malam yang gelap gulita. Seseorang di pagi hari beriman, dan di sore hari menjadi kafir. Di sore hari beriman, dan di pagi hari menjadi kafir.” (HR. Muslim)
Hadis ini bukan sekadar peringatan tentang masa depan. Ia juga mengajak kita bercermin pada kehidupan hari ini.
Bayangkan seseorang duduk sendirian di ruang tamu setelah salat Isya. Ia membuka telepon genggam dengan niat mencari ilmu.
Satu video muncul. Kemudian video lain. Satu orang mengatakan begini. Yang lain mengatakan sebaliknya. Potongan ceramah beredar tanpa konteks. Pendapat ulama diperdebatkan di kolom komentar. Sesuatu yang benar dianggap salah. Sebaliknya, sesuatu yang keliru justru mendapatkan ribuan dukungan.
Akhirnya ia bertanya kepada dirinya sendiri: “Sebenarnya, mana yang benar?”
Inilah salah satu bentuk fitnah syubhat: ujian yang membuat manusia ragu dan rancu dalam memahami kebenaran.
Di tengah derasnya informasi, kita tidak cukup hanya memiliki akses kepada ilmu. Kita membutuhkan kemampuan untuk memilah ilmu, merujuk kepada sumber yang terpercaya, dan tidak mudah menjadikan potongan informasi sebagai kebenaran utuh.
Ketika Hawa Nafsu Masuk melalui Layar
Fitnah berikutnya adalah fitnah syahwat. Dahulu seseorang harus keluar rumah untuk mencari sesuatu yang buruk. Kini, sesuatu itu bisa masuk ke kamar hanya dengan satu sentuhan jari. Dosa dapat disuguhkan selama 24 jam melalui layar.
Ghibah bisa dikemas sebagai “sharing”. Riba dibungkus dengan istilah yang terdengar ringan. Pergaulan tanpa batas dianggap biasa. Bahkan sesuatu yang dulu membuat manusia malu, kini justru dipamerkan sebagai gaya hidup.
Masalahnya bukan hanya pada teknologi. Masalahnya adalah ketika hati mulai kehilangan kepekaan.
Seseorang mungkin masih merasa dirinya baik karena tetap salat, tetapi perlahan membiarkan matanya menikmati yang haram, lisannya menyakiti orang lain, dan pikirannya dipenuhi sesuatu yang menjauhkan dirinya dari Allah.
Di sinilah kita perlu sering bertanya: Apakah teknologi yang kita gunakan semakin mendekatkan kita kepada Allah, atau justru semakin menjauhkan kita dari-Nya?
Ketika Saudara Berubah menjadi Lawan
Ada pula fitnah perpecahan. Kita bisa menyaksikan orang yang sebelumnya saling menyapa tiba-tiba saling mencela hanya karena perbedaan pilihan. Persaudaraan menjadi renggang karena perbedaan pendapat.
Padahal Allah SWT telah berfirman: “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS Ali Imran: 103)
Perbedaan tidak selalu harus berakhir dengan permusuhan. Kita boleh berbeda pendapat tanpa kehilangan adab. Kita boleh tidak sepakat tanpa harus merendahkan. Sebab, menjaga persaudaraan sering kali jauh lebih penting daripada memenangkan perdebatan.
Lalu, bagaimana kita menyelamatkan diri?
Fitnah akhir zaman mungkin tidak bisa kita hentikan. Tetapi kita bisa mempersiapkan diri agar tidak mudah terseret olehnya.
Pertama, berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunah. Jangan menjadikan tren sebagai ukuran kebenaran. Jangan pula menjadikan banyaknya pengikut sebagai ukuran kebenaran.
Kebenaran harus dicari dengan ilmu dan dirujukkan kepada sumber yang dapat dipercaya.
Kedua, perbanyak zikir dan doa agar hati diteguhkan. Sebab hati manusia mudah berubah.
Di antara doa yang diajarkan Nabi saw: Yā Muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.
“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
Doa ini terasa semakin penting ketika dunia membuat kita mudah berubah hanya karena sebuah berita, komentar, atau tekanan lingkungan.
Ketiga, jaga lisan dan sibukkan diri dengan memperbaiki diri. Tidak semua hal harus dikomentari. Tidak semua perdebatan harus diikuti. Tidak semua informasi harus diteruskan. Ada kalanya diam adalah bentuk keselamatan.
Rasulullah saw juga mengingatkan tentang pentingnya menjaga lisan dan memperbaiki diri. Karena itu, mungkin kita perlu mengurangi waktu untuk scrolling dan menambah waktu untuk bersujud.
Mengurangi kesibukan menilai kehidupan orang lain dan memperbanyak kesibukan mengevaluasi diri sendiri.
Fitnah Seperti Hujan
Fitnah akhir zaman barangkali seperti hujan. Kita tidak bisa memerintahkan hujan untuk berhenti. Tetapi kita bisa mencari tempat berteduh.
Iman adalah payungnya. Ilmu adalah jalannya. Amal adalah langkahnya. Doa adalah kekuatannya.
Jangan menunggu berkata, “Nanti saja saya bertobat.”
Sebab kita tidak pernah tahu kapan hati berubah. Kita tidak pernah tahu apakah kesempatan memperbaiki diri masih diberikan esok hari. Karena itu, setiap Jumat dapat menjadi momentum untuk berhenti sejenak.
Membaca Al-Kahfi. Memperbanyak istigfar. Berselawat. Berdoa. Bersedekah. Memohon kepada Allah agar hati kita tidak mudah dibolak-balikkan oleh fitnah zaman.
Ya Allah, tunjukkan kepada kami yang benar sebagai sesuatu yang benar dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya. Tunjukkan kepada kami yang batil sebagai sesuatu yang batil dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya.
Ya Allah, jagalah kami dan keluarga kami dari berbagai fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi.
Ampunilah dosa dan kesalahan para murabbi dan guru-guru kami. Ampunilah kedua orang tua kami, keluarga kami, dan saudara-saudara kami.
Ya Allah, sembuhkanlah saudara dan sahabat kami yang sedang sakit. Jadikan sebaik-baik amal kami sebagai bekal menghadap-Mu.
Berikan kesehatan lahir dan batin kepada kami dan keluarga kami. Lindungilah kami dari penyakit, bencana, kesulitan, dan berbagai keburukan.
Jadikan kami insan yang pandai bersyukur, mudah berbuat baik, dan mampu membahagiakan orang lain. Jadikan hidup kami lebih baik dan lebih bermanfaat. Jadikan negeri ini semakin baik.
Rabbana taqabbal minna, innaka antas-samī‘ul-‘alīm. Ya Allah, terimalah amal kami. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments