Guna meningkatkan kualitas Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), SD Muhammadiyah Plus (SDMP) Taman Siswa Kota Mojokerto menggelar kegiatan Pembinaan dan Refleksi Etos Kerja, pada Sabtu (7/11/2026).
Bertajuk “Bekerja sebagai Ibadah: Internalisasi Nilai Ikhlas dan Smart dalam Pelayanan Pendidikan”, sekolah menghadirkan pemateri Drs. Sofyan, M.M., selaku Pengawas Sekolah Muhammadiyah Kota Mojokerto untuk membahas Pola Pikir Bertumbuh (Growth Mindset).
Sebelum memaparkan materi, Abah Sofyan panggilan akrabnya mengajak para GTK untuk mengisi lembar kerja yang berisi 20 soal pernyataan untuk pemetaan profil pola pikir. Setelah itu, menganalisis hasil jawaban para GTK masuk dalam kategori pola pikir apa.
Menurutnya, ada beberapa kategori Pola Pikir dalam dunia pendidikan, diantaranya F (Fixed Mindset/Pola Pikir Tetap), FG (Fixed-Growth), GF (Growth-Fixed), dan G (Growth Mindset/Pola Pikir Bertumbuh).
Di awal pemaparannya, Drs. Sofyan, M.M., mengawali materi dengan kutipan Prof. Abdul Mu’ti, Mendikdasmen RI.
“Kalau orang berpikir dengan Growth Mindset maka dia yakin masalah yang hanya sedikit itu jalan keluarnya banyak. Karena itu jangan menyerah, jangan putus asa, yakinlah ada jalan keluarnya,” tuturnya.
Sofyan mengatakan, pola pikir adalah cara pandang atau keyakinan dasar yang mempengaruhi cara seseorang menilai situasi, mengambil keputusan, dan merespons tantangan.
“Ada dua jenis pola pikir berdasarkan Teori Carol Dweck, yaitu Fixed Mindset dan Growth Mindset,” katanya.
Ia menambahkan, Fixed Mindset (Pola Pikir Tetap), yaitu keyakinan bahwa bakat, kecerdasan, dan kemampuan dasar seseorang bersifat tetap dan tidak bisa diubah.
“Orang dengan pola pikir ini cenderung menghindari tantangan, cepat menyerah, dan menganggap kegagalan sebagai cerminan kelemahan diri,” jelasnya.
Growth Mindset
Selanjutnya, Growth Mindset (Pola Pikir Berkembang, yaitu keyakinan bahwa kemampuan dan kecerdasan dapat diasah melalui usaha, latihan, ketekunan, dan belajar dari kesalahan.
“Mereka menyambut tantangan dan melihat kritik sebagai masukan untuk berkembang,” terangnya.
Menurutnya, seorang pendidik perlu memiliki pola pikir bertumbuh agar mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih inovatif, kreatif, dan bermakna bagi peserta didik.
“Tantangan dalam dunia pendidikan hendaknya tidak dipandang sebagai hambatan, melainkan sebagai peluang untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas pelayanan pendidikan,” tuturnya.
Selain belajar pola pikir, GTK juga harus menanamkan nilai ikhlas dalam setiap pekerjaan.
“Bekerja dengan ikhlas berarti menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab, ketulusan, dan kesungguhan, tanpa semata-mata berorientasi pada penghargaan atau imbalan. Nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam memberikan pelayanan pendidikan yang berkualitas”, ucapnya.
Dengan pola pikir bertumbuh, guru dan tenaga kependidikan diharapkan tidak berhenti pada kemampuan yang dimiliki saat ini, tetapi terus berupaya meningkatkan kompetensi, memperbaiki kualitas diri, dan menghadirkan inovasi dalam proses pembelajaran maupun pelayanan kepada peserta didik.
Dengan semangat growth mindset, SD Muhammadiyah Plus Kota Mojokerto berkomitmen untuk terus berbenah lebih baik lagi untuk menghadirkan pendidikan berkualitas demi mencetak generasi unggul, berkarakter islami, dan berkemajuan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments