Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ikuti Kajian Subuh Abdul Mu’ti, Kepala MAM 9 Al-Mizan Lamongan Serap Pesan Penguatan Pendidikan Muhammadiyah

Iklan Landscape Smamda
Ikuti Kajian Subuh Abdul Mu’ti, Kepala MAM 9 Al-Mizan Lamongan Serap Pesan Penguatan Pendidikan Muhammadiyah
Pak mu'ti ketika memberikan tausiyah ba'da Subuh. Dok: Anton Wahyudin
pwmu.co -

Rangkaian Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Sekolah/Madrasah Unggul Muhammadiyah yang berlangsung pada 28–30 September 2026 menjadi momentum penting bagi para pengelola pendidikan Muhammadiyah untuk memperkuat komitmen, memperluas jejaring, sekaligus menyegarkan kembali gagasan dalam membangun pendidikan yang unggul dan berkemajuan.

Salah satu momen yang memberikan kesan mendalam bagi peserta adalah agenda Kajian bakda Subuh yang disampaikan Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.

Kajian tersebut diikuti para peserta Rakornas, termasuk Kepala MA Muhammadiyah 9 Lamongan, Anton Wahyudin, M.Pd. Suasana Subuh yang tenang menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan motivasi bagi para pemimpin sekolah dan madrasah Muhammadiyah yang hadir.

Dalam tausiyahnya, Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa kepemimpinan yang hebat membutuhkan kemampuan untuk terus belajar, membangun jejaring, serta beradaptasi dengan perubahan zaman.

Ia menekankan dua karakter penting yang harus dimiliki seorang pemimpin, yaitu luas dan luwes.

“Pemimpin yang hebat itu harus luas dan luwes. Luas artinya harus banyak jaringan, kenal banyak orang, bisa belajar dari siapa pun dan di mana pun. Luwes artinya pemimpin harus fleksibel, cepat merespons perubahan zaman dan mampu membaca peluang sekecil apa pun untuk dijadikan jalan keberhasilan,” pesan Abdul Mu’ti.

Pesan tersebut menjadi relevan bagi para kepala sekolah dan madrasah yang berada di tengah perubahan dunia pendidikan yang berlangsung begitu cepat.

Kemajuan teknologi, perkembangan kecerdasan buatan, perubahan karakter peserta didik, serta tuntutan kompetensi global menuntut pemimpin pendidikan untuk tidak berhenti belajar.

Seorang pemimpin pendidikan tidak cukup hanya memiliki kemampuan administratif dan manajerial. Ia juga perlu memiliki wawasan yang luas, terbuka terhadap gagasan baru, mampu membangun kolaborasi, serta memiliki kepekaan dalam membaca berbagai peluang untuk mengembangkan lembaganya.

Abdul Mu’ti juga memberikan penekanan mengenai pentingnya keberanian dalam mengambil risiko.

“Pemimpin hebat adalah mereka yang berani mengambil resiko, bukan bermain aman. Berani mengambil resiko artinya tidak takut gagal. Saat gagal, kemudian mampu cepat belajar dari kegagalan,” lanjutnya.

Pesan tersebut memberikan perspektif bahwa inovasi dalam pendidikan tidak selalu berjalan tanpa hambatan. Setiap upaya melakukan perubahan memiliki kemungkinan menghadapi kegagalan.

Namun, kegagalan tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti bergerak.

Justru dari kegagalan, seorang pemimpin dapat melakukan evaluasi, menemukan kekurangan, memperbaiki strategi, kemudian mencoba kembali dengan pendekatan yang lebih baik.

Bagi Anton Wahyudin, pesan tersebut menjadi refleksi penting dalam menjalankan amanah sebagai kepala madrasah.

Mengelola lembaga pendidikan di tengah perubahan zaman membutuhkan keberanian untuk mencoba hal-hal baru, selama tetap memiliki tujuan yang jelas dan berpijak pada nilai-nilai pendidikan.

SMPM 5 Pucang SBY

Menurutnya, kepala madrasah harus mampu keluar dari zona nyaman. Kemajuan lembaga tidak mungkin dicapai jika pemimpin hanya mempertahankan pola lama tanpa berani melakukan pembaruan.

“Pesan tentang luas dan luwes ini sangat relevan dengan kepemimpinan madrasah. Kita harus mau membuka diri, membangun jejaring, belajar dari banyak pihak, dan tidak merasa cukup dengan apa yang sudah kita miliki,” ungkap Anton.

Ia menambahkan, jejaring bukan sekadar memperbanyak kenalan, tetapi menjadi sumber pembelajaran dan kolaborasi.

Dari berbagai jaringan tersebut, sekolah dan madrasah dapat memperoleh inspirasi, menemukan praktik baik, membuka peluang kerja sama, hingga menghadirkan pengalaman baru bagi peserta didik.

Semangat tersebut juga menjadi bagian dari perjalanan MA Muhammadiyah 9 Lamongan dalam mengembangkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga penguatan karakter, literasi, riset, teknologi, kreativitas, dan wawasan global.

Hal ini sejalan dengan visi madrasah, yaitu “Terwujudnya generasi Islami yang berprestasi dan berdaya saing global.”

Bagi Anton, visi tersebut membutuhkan kepemimpinan yang terus bergerak dan tidak takut melakukan inovasi.

Madrasah harus mampu membaca perubahan dan mengubah tantangan menjadi peluang untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan.

Rakornas juga menjadi ruang penting untuk memperluas perspektif tersebut. Bertemu dengan para pengelola sekolah dan madrasah unggul Muhammadiyah dari berbagai daerah memberikan kesempatan untuk saling berbagi pengalaman, praktik baik, tantangan, dan strategi pengembangan lembaga.

Karena itu, kehadiran Anton dalam Rakornas tidak hanya dimaknai sebagai agenda koordinasi, tetapi juga sebagai kesempatan untuk belajar, membangun jejaring, memperluas wawasan, dan membawa pulang inspirasi untuk pengembangan MA Muhammadiyah 9 Lamongan.

Pesan Abdul Mu’ti dalam kajian Subuh tersebut pun menjadi pengingat bahwa menjadi pemimpin pendidikan berarti siap untuk terus belajar dan bertumbuh.

Semangat itulah yang diharapkan dapat dibawa pulang oleh para peserta Rakornas ke lembaga masing-masing.

Sebab, pendidikan yang berkemajuan membutuhkan pemimpin yang tidak hanya mampu menjaga apa yang sudah baik, tetapi juga berani membuka jalan bagi sesuatu yang lebih baik.

Dari Subuh, lahir refleksi. Dari Rakornas, tumbuh inspirasi. Dan dari kepemimpinan yang luas, luwes, serta berani mengambil risiko, diharapkan lahir perubahan nyata bagi pendidikan Muhammadiyah.

Revisi Oleh:
  • Satria - 30/09/2026 15:51
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu