Studi yang telah ada tentang Masyarakat Madani dan Society 5.0 sejauh ini cenderung fokus pada tiga aspek.
Pertama, yaitu studi yang mengkaji konsep masyarakat madani dalam pendidikan Islam baik pada peran dan fungsi dari adanya pendidikan tersebut (Khalim, 2019).
Institusi pendidikan seperti pesantren merupakan salah satu bentuk dari masyarakat madani yang juga memiliki keragaman etnis dan kultur sehingga para santri diajarkan untuk bersikap toleran dan tanggung jawab antar sesama. Pendidikan Islam dalam hal ini juga diperlukan pembaharuan untuk mewujudkan masyarakat madani (ideal) (Armina, 2020).
Kedua, studi tentang konsep masyarakat madani dalam perspektif al-Quran. Kajian al-Quran mengenai konstruksi sosial menuju masyarakat madani dapat terwujud jika mampu untuk membentuk kesejahteraan sosial (Mustaniruddin, dkk., 2021).
Nilai karakteristik masyarakat madani yang diambil dari al-Quran berkaitan dengan keimanan, musyawarah, toleransi, kerukunan, perdamaian, amar makruf nahi munkar, transformasi sosial, etos kerja, dan menjaga lingkungan hidup (Mustaniruddin, 2019).
Ketiga, studi yang mengaitkan antara konsep masyarakat madani dengan dunia politik secara umum berkenaan dengan demokrasi dan ideologi Pancasila (Ridho, dkk., 2021).
Hubungan agama dan negara untuk membangun demokrasi yang tidak hanya pada proseduralnya namun juga sisi substansial dari demokrasi tersebut (Juliardi, 2020).
Kemudian studi yang juga berkaitan dengan aspek kebijakan politik mengenai tata kota dengan memanfaatkan perkembangan teknologi.
Masyarakat madani merupakan manifestasi dari cita-cita masyarakat Indonesia saat ini khususnya umat Muslim. Yaitu masyarakat yang memiliki peradaban tinggi, berkeadilan, mandiri, dan menjunjung tinggi nilai-nilai moralitas sesama manusia.
Relasi sosialnya pun dilandaskan pada nilai-nilai Islam agar masyarakatnya bertakwa kepada Allah SWT. Masyarakat madani merupakan tatanan masyarakat ideal berdasarkan tinjauan al-Quran surat Saba’ ayat 15 tentang idealnya suatu masyarakat yaitu “Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghofur”.
Secara etimologis madani berasal dari kata yang sama dengan “madaniyah” dan “tamaddun” yang artinya adalah “peradaban” (Madjid, 2019). Maka secara harfiah masyarakat madani adalah masyarakat yang berperadaban atau suatu kehidupan yang ber-“adab”.
Kata madani ini juga tidak lepas kaitannya tentang bagaimana Nabi Muhammad membangun sebuah masyarakat maju dan berperadaban di Kota Madinah, yang berdimensi kepada akidah, ibadah, dan akhlak.
Society 5.0 sebagai sebuah resolusi dari revolusi industri 4.0 yang merupakan masyarakat informasi yang bertujuan untuk mewujudkan masyarakat makmur yang berpusat kepada manusia. Sehingga dapat memajukan potensi hubungan individu dan masyarakat dengan teknologi yang semakin berkembang.
Society 5.0 ini memperhitungkan dampak sosial dari adanya industri 4.0. Industri 4.0 merupakan sebuah inisiatif strategis negara Jerman dalam sebuah kelompok kerja yang terdiri dari beberapa tokoh pemerintahan maupun akademisi, dipimpin oleh Henning Kagermann pada bulan April 2013.
Melalui forum tersebut, mereka memberikan rekomendasi dalam bentuk laporan yang berjudul “Recommendations for implementing the strategic initiative Industrie 4.0”.
Teknologi yang terbesar dari revolusi ini adanya Internet of Things, Artificial Intelligence, dan Big Data yang dapat menambah nilai pada aktivitas produksi dan kerja pabrik lebih efisien.
Industri 4.0 juga akan menciptakan siklus data informasi-pengetahuan, agar setiap data yang memiliki keterkaitan dengan manusia dapat dikumpulkan dan dibagikan di antara bidang dan organisasi.
Sehingga, untuk membuat sebuah kerangka kerja selalu berasal dari data yang nantinya akan diekstrapolasi.
Masyarakat madani sebagai konsep masyarakat unggul perlu ditinjau korelasinya dengan gagasan Society 5.0 dengan masyarakat super cerdasnya.





0 Tanggapan
Empty Comments