Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Jangan Menunggu Hidup Tanpa Masalah, Belajarlah Menghadapinya

Iklan Landscape Smamda
Jangan Menunggu Hidup Tanpa Masalah, Belajarlah Menghadapinya
Ustaz Moh. Ernam saat menyampaikan tausiyah di di Masjid An-Nur Sidoarjo. Foto: tangkapanlayar youtube
Oleh : Wildan Nanda Rahmatullah Guru Sejarah SMA Muhammadiyah 1 Taman

Kapan sebenarnya manusia bisa benar-benar merasa tenang? Pertanyaan itu sering muncul ketika masalah datang silih berganti. Persoalan keuangan belum sepenuhnya selesai, masalah kesehatan muncul. Ketika kesehatan membaik, persoalan keluarga datang. Setelah itu, muncul lagi persoalan lain.

Namun, menurut mubaligh Muhammadiyah Ustaz Moh. Ernam, M.Pd, ketenangan hidup bukan berarti terbebas dari masalah. Justru manusia perlu memahami bahwa masalah merupakan bagian dari kehidupan dan ujian dari Allah.

“Jangan pernah berharap bahwa masalah itu tidak akan pernah hilang sama sekali dari diri kita. Yang kita butuhkan adalah memohon kepada Allah agar kita kuat menghadapi dan menyelesaikannya,” ujarnya dalam ceramah Subuh yang ditayangkan di kanal Youtube Masjid An-Nur Sidoarjo.

Ustaz Ernam mengingatkan, Allah telah menjelaskan bahwa kehidupan manusia memang akan diwarnai berbagai ujian.

Dalam Surat al-Baqarah ayat 155, Allah berfirman bahwa manusia akan diuji dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Kabar gembira diberikan kepada orang-orang yang bersabar.

“Karena itu, seseorang tidak perlu merasa menjadi manusia paling malang hanya karena menghadapi persoalan bertubi-tubi. Selama masih hidup, ujian akan datang dalam bentuk dan kadar yang berbeda,” jelas dia.

Ustaz Ernam menyebut setidaknya ada lima kenyataan yang perlu diterima manusia agar tidak mudah kehilangan ketenangan.

Pertama, tidak semua orang akan menyukai kita. Seseorang bisa saja sudah berusaha bersikap baik, sopan, dan berteman dengan banyak orang. Namun, tetap akan ada orang yang tidak menyukai, iri, bahkan membencinya.

“Ketika kita sukses, ada yang menganggap kita curang. Ketika kita tidak berhasil, ada yang menjadikan kita bahan tertawaan,” tuturnya.

Karena itu, manusia tidak perlu menghabiskan hidup untuk memastikan semua orang memiliki penilaian baik terhadap dirinya. Ada hal-hal yang memang berada di luar kendali.

Yang penting, kata dia, seseorang terus memperbaiki dirinya dan tidak menjadikan penilaian orang lain sebagai ukuran utama dalam menjalani kehidupan.

Kedua, masalah akan terus datang dengan bentuk yang berbeda. Ustaz Ernam menggambarkan kehidupan seperti rangkaian persoalan yang harus dikelola. Ketika satu masalah selesai, bukan berarti kehidupan berhenti menghadirkan persoalan.

“Masalah keuangan selesai, muncul masalah pekerjaan. Masalah pekerjaan selesai, datang masalah keluarga. Masalah keluarga lewat, muncul lagi masalah-masalah yang lain,” katanya.

Kata dia, datangnya masalah bukan berarti Allah sedang meninggalkan manusia. Sebaliknya, persoalan dapat menjadi bagian dari proses manusia belajar menjadi lebih kuat.

Ustaz Ernam mengingatkan firman Allah dalam Surat al-Baqarah ayat 286: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

Karena itu, ketika masalah datang, seseorang tidak seharusnya langsung mengatakan bahwa dirinya tidak sanggup.

“Sejauh perjalanan hidup kita, kita sudah menyelesaikan masalah demi masalah sehingga kita bisa bertahan sampai hari ini,” ujarnya.

Gagal Bukan Berarti Selesai

Ketiga, masih kata Ustaz Ernam, manusia harus siap menghadapi kegagalan. Perencanaan yang matang tidak selalu menghasilkan apa yang diharapkan.

Perhitungan bisa meleset, strategi bisa tidak berjalan, dan target bisa tidak tercapai. Namun, kegagalan tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti.

Ustaz Ernam mengajak jamaah menjadikan kegagalan sebagai bahan evaluasi. Jika ada kesalahan, diperbaiki. Jika terjatuh, bangkit kembali.

Dia mengingatkan pesan Allah dalam Surat az-Zumar ayat 53 agar manusia tidak berputus asa dari rahmat Allah.

“Jika evaluasi kita gagal, jika salah kita perbaiki. Jika jatuh, kita harus bangkit lagi. Jika belum berhasil, Allah masih menyediakan banyak jalan untuk mencapai keberhasilan,” katanya.

Dengan cara pandang itu, kegagalan tidak lagi dilihat sebagai akhir perjalanan, melainkan salah satu bagian dari proses menuju keberhasilan.

SMPM 5 Pucang SBY

Keempat, manusia harus belajar menghadapi kehilangan. Orang-orang yang hadir dalam kehidupan kita tidak semuanya akan tinggal selamanya. Ada yang menemani perjalanan dalam waktu panjang, ada pula yang hanya hadir untuk sementara.

Demikian pula orang-orang yang kita cintai. Perpisahan pada akhirnya menjadi bagian yang tidak dapat dihindari dari kehidupan manusia.

Karena itu, ketika kehilangan datang, seorang Muslim diajarkan untuk mengembalikan semuanya kepada Allah. “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”

“Bukan kehilangan yang kita takutkan, tetapi bagaimana kita menguatkan diri untuk menghadapi kehilangan itu,” ujar Ustaz Ernam.

Kesadaran bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya menjadi pegangan ketika manusia berhadapan dengan kehilangan yang tidak bisa dihindari.

Tidak Semua Omongan Harus Dijawab

Kelima, manusia tidak akan pernah mampu mengendalikan omongan orang lain. Ketika gagal, bisa menjadi bahan pembicaraan. Ketika sukses, juga bisa menjadi bahan pembicaraan. Diam bisa dianggap sombong, sementara terlalu banyak bicara bisa dinilai mencari perhatian.

Karena itu, Ustaz Ernam mengajak jamaah membedakan mana persoalan yang memang harus diselesaikan dan mana yang cukup dilewati.

“Ada masalah-masalah yang harus kita perjuangkan, kita carikan solusi dan jalan keluarnya. Tetapi ada masalah-masalah yang cukup kita senyumi, cukup kita diamkan, dan masalah itu akan berlalu dengan sendirinya,” katanya.

Menurut dia, kemampuan memilih respons menjadi penting. Tidak setiap perkataan harus dibalas dan tidak setiap penilaian harus diluruskan.

Ustaz Ernam juga mengajak jamaah mengubah cara memandang masalah. Masalah memang melelahkan.

Namun, bagi seorang mukmin, kesulitan tidak selalu berarti keburukan. Ia dapat menjadi ruang untuk melatih kesabaran, memperkuat iman, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Rasulullah saw bersabda bahwa sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Ketika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur dan itu baik baginya. Ketika mendapatkan kesusahan, ia bersabar dan itu juga baik baginya.

“Setiap masalah adalah kebaikan,” ujarnya.

Dia juga mengingatkan firman Allah dalam Surat asy-Syarh ayat 5–6: “Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

Ustaz Ernam menuturkan, ayat tersebut memberi harapan bahwa kesulitan tidak pernah berdiri sendirian. Di balik persoalan selalu ada kemungkinan jalan keluar yang disediakan Allah.

Dia mengutip pandangan Prof. Dr. Abdul Mu’ti bahwa dari ayat tersebut manusia dapat belajar bahwa satu masalah bisa memiliki berbagai jalan penyelesaian.

Karena itu, ketika persoalan datang, tugas manusia bukan menuntut agar hidup segera bebas dari masalah. Tugasnya adalah mencari jalan keluar, berikhtiar, berdoa, bersabar, dan menyerahkan hasilnya kepada Allah.

“Yang terpenting adalah bagaimana masalah-masalah itu kita pasrahkan kepada Allah. Mari kita selalu berharap kepada Allah agar diberikan kekuatan menghadapi berbagai masalah yang terus datang silih berganti,” pesannya.

Dengan demikian, ketenangan bukanlah ketika semua masalah berhenti. Ketenangan justru tumbuh ketika seseorang menyadari bahwa ia tidak menghadapi masalah seorang diri.

“Ada ikhtiar yang harus dilakukan, ada kesabaran yang harus dijaga, dan ada Allah tempat seluruh persoalan dikembalikan,” tutupnya. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 13/09/2026 16:02
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

1 Tanggapan

Search
Menu