Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Jejak Digital Tak Mudah Hilang, Siswa SMA Muhammadiyah 3 Tulangan Diingatkan Jaga Diri

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Jejak Digital Tak Mudah Hilang, Siswa SMA Muhammadiyah 3 Tulangan Diingatkan Jaga Diri
Mantan Kepsek SD Muhammadiyah 2 Tulangan, Ustadz Nofan Afrianto MPd, saat menjadi pembicara dalam kajian rutin siswa pekan Smamuga, Jumat (16/10/2026). Foto: Zulkifli.
pwmu.co -

Remaja memiliki banyak peluang untuk meraih masa depan gemilang. Namun, di balik peluang itu, terbentang pula berbagai godaan yang dapat merusak karakter, prestasi, dan masa depan mereka.

Pesan itulah yang mengemuka dalam pengajian rutin siswa pekan ketiga pada Jum’at (16/10/2026) di SMA Muhammadiyah 3 Tulangan (Smamuga), Sidoarjo.

Pengajian tersebut kembali digelar setelah para siswa mengikuti Sumatif Tengah Semester (STS) pekan sebelumnya.

Ratusan siswa kelas X hingga XII mengikuti kajian yang berlangsung pukul 13.00 – 14.00 (Ba’da Sholat Jum’at) di aula lantai 3 sekolah tersebut dengan penuh semangat dan khidmat.

Kajian kali ini menghadirkan guru SD Muhammadiyah 2 Kemantren, Tulangan, Sidoarjo, Nofan Arifianto SPdI MPd.

Mengangkat tema “Yuk, Bentengi Diri dari Hal-Hal yang Merusak!”, kajian ini mengajak para siswa memahami pentingnya menjaga iman, memilih pergaulan yang sehat, dan memanfaatkan teknologi secara bijak di tengah perubahan zaman.

Satu Jam Harus Dimanfaatkan dengan Baik

Sebelum kajian dimulai, Wakil Kepala Sekolah bidang Ismuba (Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab) yang diwakili stafnya, Anik Ariyani MPd memberikan sambutan pembukaan.

Guru senior Bahasa Arab yang akrab disapa Bu Anik itu mengajak seluruh siswa Smamuga untuk fokus dan berkonsentrasi mengikuti kajian hingga selesai.

Menurutnya, materi yang disampaikan dalam pengajian rutin tersebut sangat baik dan bermanfaat bagi kehidupan para siswa.

Karena itu, kesempatan yang hanya berlangsung sekitar satu jam tersebut hendaknya dimanfaatkan sebaik mungkin.

“Materi kajian ini sangat bagus dan bermanfaat bagi kita semua. Untuk itu, mari kita ikuti dengan penuh khidmat, tidak ribut atau berbicara sendiri di belakang. Artinya, kita harus fokus mengikuti kajian yang hanya digelar maksimal satu jam ini” ujar Anik Ariyani.

Ia menjelaskan, pengajian rutin siswa setiap pekan ketiga merupakan agenda wajib sekolah yang dilaksanakan bersama Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Pelaksanaannya didukung dan dibantu oleh Pimpinan Ranting IPM Smamuga.

Anik menambahkan, setelah mengikuti kajian pada pekan ketiga tersebut, para siswa diperbolehkan langsung pulang.

Karena itu, ia berharap seluruh siswa benar-benar mengikuti kajian dengan penuh keikhlasan, menyerap hikmah dan manfaat yang disampaikan pemateri, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Harapannya, anak-anak tidak sekadar hadir, tetapi juga mengambil hikmah dari kajian yang disampaikan ustaz dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari” harap guru Bahasa Arab yang berdomisili di Krembung, Sidoarjo, itu.

Masa SMA, Waktu Membangun Masa Depan

Dalam pemaparannya, Novan Afrianto mengingatkan bahwa masa SMA merupakan periode penting untuk membangun karakter, mengembangkan potensi, dan mempersiapkan masa depan.

Di tengah perkembangan teknologi dan persaingan global, generasi muda perlu membekali diri dengan kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan zaman.

Namun, penguasaan ilmu dan teknologi harus tetap diiringi prinsip hidup yang kuat.

Setiap siswa memiliki kecenderungan dan potensi yang berbeda. Ada yang tertarik pada bahasa, sains, teknologi, otomotif, maupun bidang lainnya. Potensi tersebut perlu dikenali dan dikembangkan melalui kebiasaan positif serta kesungguhan dalam belajar.

Di sisi lain, masa remaja juga menghadirkan beragam pengaruh, mulai dari teman sebaya, tren media sosial, tontonan, hingga keinginan untuk diterima dalam lingkungan pergaulan.

Kebiasaan yang tampak sederhana hari ini, jika dilakukan terus-menerus, dapat membentuk karakter dan memengaruhi prestasi pada masa mendatang.

Karena itu, para siswa diajak mengevaluasi pilihan masing-masing. Apakah kebiasaan yang dilakukan selama ini semakin mendekatkan mereka pada cita-cita dan versi terbaik diri mereka, atau justru menjauhkan dari tujuan tersebut?

Novan juga menekankan bahwa menjaga diri bukan berarti menjadi pribadi yang tertutup atau tidak mau bergaul. Siswa tetap bisa aktif, bersahabat, dan mengikuti perkembangan zaman tanpa harus mengorbankan prinsip sebagai seorang Muslim.

Jangan Mendekati Pintu Kerusakan

Dalam kajian tersebut, para siswa juga diingatkan pada firman Allah dalam Al-Qur’an, Surah Al-Isra’ ayat 32.

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan jalan yang buruk.”

Ayat ini menjadi pengingat bahwa menjaga diri tidak cukup hanya dengan menjauhi perbuatan yang dilarang, tetapi juga perlu menghindari jalan yang dapat mengarah kepadanya.

Dalam konteks kehidupan remaja, hal itu antara lain diwujudkan dengan bersikap bijak saat berkomunikasi dengan lawan jenis, menghindari konten pornografi, serta menjaga batas dalam pergaulan.

Para siswa diajak memahami bahwa keberanian menjaga batas merupakan bentuk penghargaan terhadap diri sendiri sekaligus upaya menjaga masa depan.

Jejak Digital Bisa Bertahan Lama

Salah satu bagian penting dalam kajian tersebut adalah pembahasan mengenai penggunaan media sosial dan jejak digital.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Novan mengingatkan bahwa unggahan, komentar, dan aktivitas di dunia digital perlu disikapi dengan penuh tanggung jawab.

Sesuatu yang awalnya dianggap lucu atau sekadar candaan belum tentu diterima dengan cara yang sama oleh orang lain.

Unggahan yang mempermalukan seseorang, menyebarkan aib, atau memicu konflik dapat berdampak pada hubungan pertemanan dan nama baik seseorang.

Karena itu, para siswa diajak berpikir sebelum menulis komentar, mengunggah foto, atau meneruskan pesan kepada orang lain.

Prinsip tersebut sejalan dengan hadis Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”

Pesan hadis ini relevan dengan kehidupan digital saat ini. Kebebasan berkomunikasi perlu diiringi tanggung jawab agar media sosial tidak menjadi sarana menyakiti, mempermalukan, atau merugikan orang lain.

Sebelum mengunggah atau membagikan sesuatu, siswa diajak mengajukan tiga pertanyaan sederhana:

Apakah informasi itu benar, apakah bermanfaat untuk dibagikan, dan apakah berpotensi menyakiti atau mempermalukan orang lain?

Sebab, jejak digital dapat bertahan lama, bahkan ketika seseorang sudah lupa pernah mengunggahnya. Emosi sesaat jangan sampai merusak nama baik yang dibangun selama bertahun-tahun.

Kenali Godaan, Bangun Kebiasaan Positif

Materi kajian juga mengidentifikasi sejumlah kebiasaan yang perlu diwaspadai remaja.

Antara lain penggunaan media sosial secara berlebihan, pergaulan tidak sehat, permainan dan hiburan yang melampaui batas, perundungan, penyebaran gosip, penyalahgunaan rokok dan vape, minuman keras, narkoba, serta kebiasaan menunda pekerjaan.

Berbagai kebiasaan tersebut dapat mengganggu waktu istirahat, konsentrasi belajar, pelaksanaan ibadah, dan pengembangan potensi diri.

Salah satu pesan yang ditekankan dalam materi itu adalah: tidak semua yang viral berarti benar, aman, atau baik untuk diikuti.

Karena itu, siswa perlu memiliki kemampuan memilah informasi dan menentukan pilihan berdasarkan nilai agama, akal sehat, serta tanggung jawab.

Lingkungan pertemanan juga berperan penting. Teman yang baik bukan hanya menyenangkan untuk diajak bergaul, tetapi juga berani mengingatkan ketika seseorang mulai mengambil keputusan yang keliru.

Jika merasa tidak cocok atau tidak diterima dalam suatu lingkungan, siswa didorong untuk tetap mengembangkan potensi diri dan mencari lingkungan yang lebih sehat, tanpa kehilangan prinsip hidupnya.

Lima Langkah Bentengi Diri

Sebagai bagian dari materi kajian, para siswa diajak menerapkan lima langkah nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, menguatkan hubungan dengan Allah melalui menjaga salat, berdoa, membaca Al-Qur’an, dan melakukan evaluasi diri.

Kedua, memilih teman yang menguatkan, yakni teman yang memberikan pengaruh positif dan berani mengingatkan ketika diperlukan.

Ketiga, membangun batas digital dengan mengatur waktu penggunaan gawai, berhenti mengikuti akun yang memberikan pengaruh buruk, serta berpikir sebelum mengunggah atau membagikan konten.

Keempat, berani mengatakan tidak terhadap ajakan yang berisiko dan meninggalkan situasi yang tidak aman.

Kelima, mencari bantuan ketika menghadapi masalah, baik dengan bercerita kepada orang tua, guru bimbingan konseling (BK), wali kelas, maupun ustaz dan ustazah yang dipercaya.

Meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan. Sebaliknya, hal itu merupakan langkah berani untuk menjaga diri dan mencari jalan keluar yang tepat.

Melalui kajian ini, para siswa diajak menyadari bahwa masa depan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan dan prestasi akademik, tetapi juga oleh kebiasaan, lingkungan pergaulan, serta kemampuan menjaga prinsip di tengah berbagai pengaruh zaman.

Pesannya sederhana, tetapi mendasar: menjaga diri hari ini merupakan bagian dari ikhtiar menyiapkan masa depan yang lebih baik.

Para siswa tidak harus mengikuti semua tren. Mereka memiliki iman, akal, dan pilihan untuk menentukan arah hidupnya sendiri.

Revisi Oleh:
  • Danar Trivasya Fikri - 18/10/2026 09:40
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu