Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Kajian Fiqih Sunnah di Masjid Al Ikrom Wage Bahas Syafaat Nabi dan Timbangan Amal

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Kajian Fiqih Sunnah di Masjid Al Ikrom Wage Bahas Syafaat Nabi dan Timbangan Amal
Kajian Fiqih Sunnah di Masjid Al Ikrom Wage Bahas Syafaat Nabi dan Timbangan Amal

Setiap amal kebaikan, sekecil apa pun, akan mendapat balasan dari Allah SWT. Begitu pula keburukan yang dilakukan manusia. Kesadaran ini semestinya mendorong setiap Muslim untuk memperkuat keimanan, memperbanyak amal saleh, dan mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat.

Pesan tersebut menjadi salah satu pokok bahasan dalam kajian rutin Rabu Pagi Kitab Fiqih Sunnah yang disampaikan Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sepanjang, Dr. KH. Sam’un, M.Ag., di Masjid Al Ikrom Wage, Rabu (14/10/2026).

Kajian yang berlangsung pukul 04.30–05.45 WIB itu membahas adab mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW, syafaat agung pada hari kiamat, serta tiga golongan manusia berdasarkan kedudukan dan amal mereka di akhirat.

Mengucapkan Salam kepada Rasulullah

Salah satu materi kajian membahas adab berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi. Umat Islam dianjurkan menyampaikan salam dan shalawat dengan penuh penghormatan, kekhusyukan, dan penghayatan.

Bacaan salam yang disampaikan dalam kajian tersebut adalah:

“Assalaamu ‘alaika yaa Rasuulallah.”

Artinya, “Kesejahteraan atasmu, wahai Rasulullah.”

Pemateri menjelaskan penggunaan kata ‘alaika dalam bacaan salam tersebut sebagai bagian dari adab menyampaikan penghormatan kepada Rasulullah SAW.

“Karena Nabi Muhammad SAW sedang di hadapan kita, maka bacaannya Assalaamu ‘alaika,” terang Ustaz Sam’un.

Ziarah ke makam Rasulullah SAW bukan sekadar kunjungan fisik. Ziarah juga menjadi ungkapan penghormatan dan kecintaan kepada beliau. Kecintaan tersebut semestinya tidak berhenti pada ucapan salam dan shalawat, tetapi juga diwujudkan melalui keteladanan terhadap ajaran dan akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

Syafaat Agung Nabi Muhammad pada Hari Kiamat

Materi berikutnya membahas peristiwa hari kiamat dan syafaat Nabi Muhammad SAW. Berdasarkan hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim yang dijelaskan dalam kajian, manusia akan menghadapi keadaan yang sangat berat di padang mahsyar. Mereka menantikan dimulainya pengadilan Allah SWT dan mencari pertolongan agar penantian panjang tersebut segera berakhir.

Dalam keadaan itu, manusia mendatangi para nabi untuk memohon syafaat. Namun, para nabi menyampaikan alasan masing-masing dan mengarahkan mereka kepada nabi berikutnya.

Nabi Adam AS teringat akan kesalahannya ketika melanggar larangan Allah SWT. Nabi Ibrahim AS mengingat tiga perkara yang beliau sebutkan sebagai alasan untuk tidak mengambil peran tersebut. Sementara itu, Nabi Musa AS teringat peristiwa ketika beliau memukul seseorang dari kaum Firaun hingga meninggal dunia tanpa sengaja.

Manusia kemudian mendatangi Nabi Muhammad SAW. Dalam hadis tentang syafaat agung, Rasulullah SAW bersujud dan memuji Allah dengan pujian yang diajarkan kepada beliau. Setelah memperoleh izin Allah SWT, beliau memberikan syafaat.

Peristiwa tersebut menunjukkan kedudukan istimewa Rasulullah SAW sekaligus mengingatkan umat Islam akan pentingnya mempersiapkan diri menghadapi kehidupan akhirat.

Harapan memperoleh syafaat tidak seharusnya menjadi alasan untuk meremehkan dosa atau mengabaikan kewajiban agama. Sebaliknya, harapan tersebut perlu mendorong umat Islam untuk semakin mencintai Rasulullah, menaati Allah SWT, dan memperbaiki kualitas amal.

Amal Sekecil Apa Pun Akan Mendapat Balasan

Kajian Fiqih Sunnah tersebut juga mengangkat kandungan Surah Az-Zalzalah ayat 7–8. Kedua ayat ini menegaskan bahwa setiap perbuatan manusia, sekecil apa pun, akan diperlihatkan balasannya.

Allah SWT berfirman:

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

فَمَنۡ يَّعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرًا يَّرَهٗ

“Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya.” (QS Az-Zalzalah: 7).

Ayat berikutnya menyatakan:

وَمَنۡ يَّعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ

“Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya.” (QS Az-Zalzalah: 8).

Pesan kedua ayat tersebut relevan dengan kehidupan sehari-hari. Kebaikan sederhana, seperti membantu sesama, menjaga lisan, bersikap jujur, menunaikan amanah, dan berbuat baik kepada keluarga, tidak boleh diremehkan.

Sebaliknya, keburukan yang dianggap kecil juga tidak boleh dibiarkan menjadi kebiasaan. Perkataan yang menyakiti, tindakan tidak adil, dan pelanggaran terhadap ketentuan agama perlu dihindari.

Kesadaran bahwa seluruh amal akan dipertanggungjawabkan di akhirat semestinya membentuk pribadi yang konsisten berbuat baik, baik ketika berada di hadapan orang lain maupun saat tidak ada seorang pun yang melihat.

Tiga Golongan Manusia di Akhirat

Pemateri juga menjelaskan kandungan Surah Al-Waqi’ah ayat 7–12 yang menggambarkan tiga golongan manusia di akhirat.

Pertama, As-Sabiqun atau Al-Muqarrabun, yakni orang-orang yang terdepan dalam keimanan dan kebaikan. Mereka bersegera dalam ketaatan dan memperoleh kedudukan istimewa di sisi Allah SWT.

Kedua, Ashab al-Maimanah atau Ashabul Yamin, yaitu golongan kanan. Mereka merupakan orang-orang yang memperoleh kebahagiaan di akhirat dan menerima catatan amal dari sebelah kanan.

Ketiga, Ashab al-Masy’amah atau Ashabus Syimal, yaitu golongan kiri. Al-Qur’an menggambarkan golongan ini sebagai orang-orang yang menghadapi kesengsaraan akibat kekufuran dan perbuatan buruk mereka.

Pembagian tersebut mengajak setiap Muslim untuk melakukan introspeksi. Hal terpenting bukan sekadar berharap menjadi bagian dari golongan yang beruntung, melainkan juga berusaha memperbaiki iman, meningkatkan ketaatan, dan memperbanyak amal saleh selama masih memiliki kesempatan hidup di dunia.

Kajian rutin Rabu Pagi di Masjid Al Ikrom Wage ini menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia merupakan kesempatan untuk menyiapkan bekal akhirat. Kecintaan kepada Rasulullah SAW perlu diwujudkan melalui keteladanan, sedangkan keimanan harus tercermin dalam perilaku dan amal sehari-hari.

Dengan menjaga ketaatan kepada Allah SWT, memperbanyak kebaikan, dan menjauhi keburukan, setiap Muslim diharapkan dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi pertanggungjawaban amal di akhirat. (*)

Revisi Oleh:
  • Wildan Nanda Rahmatullah - 14/10/2026 11:59
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu