Wortel berukuran kecil, berbentuk tidak beraturan, atau cacat fisik kerap kehilangan nilai jual di pasar. Padahal, hasil sortiran tersebut masih bisa diolah menjadi produk bernilai ekonomi.
Peluang inilah yang dikembangkan mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui pelatihan inovasi olahan wortel di Desa Wiyurejo, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Ahad (13/9/2026) lalu.
Melalui program Projek Kepemimpinan, mahasiswa mengajak ibu-ibu PKK dan kelompok tani mengolah wortel sortiran menjadi produk inovatif, mulai dari permen jelly berbahan sari wortel hingga minyak perawatan kulit dan rambut.
Inisiatif yang dipimpin Ivone Yuliantina ini berangkat dari persoalan yang kerap dihadapi petani hortikultura di Pujon. Ketika panen melimpah, harga wortel cenderung turun.
“Petani juga harus menanggung kerugian ketika hasil panen yang tidak memenuhi standar pasar ditolak atau hanya dihargai rendah,” katanya, Kamis (15/10/2026).
Selama ini, sebagian masyarakat masih mengandalkan penjualan wortel mentah kepada tengkulak. Akibatnya, wortel yang tidak lolos sortasi berisiko terbuang dan membusuk tanpa menghasilkan pendapatan bagi petani.
“Kami ingin mentransformasi wortel sortiran yang semula tidak bernilai pasar menjadi produk inovatif dengan daya jual tinggi,” kata Ivone.
Menurut dia, pengolahan wortel menjadi produk turunan diharapkan dapat menekan kerugian petani ketika pasokan melimpah. Inovasi tersebut juga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat, khususnya ibu rumah tangga, agar lebih mandiri secara ekonomi.
Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan dengan dua produk olahan wortel. Produk pertama adalah Veggy Gummy, permen jelly kenyal berbahan dasar sari wortel yang dikembangkan sebagai alternatif camilan bagi anak-anak.
Produk kedua bernama Carolive, minyak perawatan kulit dan rambut yang memadukan ekstrak wortel segar dengan minyak zaitun. Produk ini dikembangkan untuk membantu melembapkan kulit dan merawat rambut.
Kedua inovasi tersebut menunjukkan bahwa wortel sortiran tidak harus berakhir sebagai limbah. Dengan pengolahan dan pengembangan produk yang tepat, komoditas yang sebelumnya kurang diminati pasar dapat menjadi bahan baku usaha baru.
Namun, pengembangan produk pangan dan perawatan tubuh tetap perlu memperhatikan keamanan bahan, proses produksi, mutu, serta ketentuan perizinan sebelum dipasarkan secara luas.
Program mahasiswa PPG UMM ini juga menerapkan prinsip zero waste atau nirlimbah. Ampas padat yang tersisa setelah proses penyaringan sari wortel tidak langsung dibuang, tetapi dikumpulkan untuk dimanfaatkan sebagai bahan pakan dalam budidaya maggot atau larva lalat tentara hitam (black soldier fly) milik warga setempat.
Pemanfaatan tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi sisa produksi sekaligus mengoptimalkan penggunaan bahan baku. Dengan demikian, pengolahan wortel tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan produk bernilai jual, tetapi juga memperhatikan pengelolaan limbah.
Dosen Pembimbing Lapangan, Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd., berharap program tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan akademik mahasiswa.
Ia menginginkan keterampilan yang telah diperkenalkan dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh masyarakat dan dikembangkan menjadi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) desa.
“Harapan saya, kreativitas dan dedikasi mahasiswa ini tidak berhenti sebatas pemenuhan tugas akademik semata. Semoga keterampilan praktis yang telah diajarkan dapat benar-benar diadaptasi oleh warga, dikelola secara konsisten, dan menjadi cikal bakal terbentuknya UMKM desa yang solid, mandiri, serta berdaya saing luas di ranah digital,” ujarnya.
Keberlanjutan program akan bergantung pada kemampuan warga menjaga kualitas produk, menghitung biaya produksi, membangun pemasaran, dan mengurus perizinan yang diperlukan. Jika dikelola secara konsisten, wortel sortiran yang selama ini kurang bernilai berpeluang menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat Pujon. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments