Tahukah kamu, Sobat Mudipat? Raden Ajeng Kartini mulai memperjuangkan pendidikan perempuan sejak usia muda. Saat masih remaja, Kartini sudah memiliki pemikiran bahwa perempuan harus bisa sekolah, membaca, dan memiliki cita-cita. Ia tidak ingin perempuan hanya diam di rumah, tetapi juga mampu berperan dalam kemajuan bangsa.
Ketika berusia 12 tahun, Kartini menjalani tradisi pingitan, yaitu kebiasaan yang mengharuskan perempuan bangsawan tinggal di rumah hingga menikah. Akibatnya, ia tidak dapat melanjutkan pendidikan formal seperti anak laki-laki pada umumnya. Meski demikian, Kartini tetap belajar secara mandiri dengan membaca buku dan menulis surat kepada teman-temannya di Belanda. Dalam surat-surat tersebut, ia mengkritik praktik pernikahan dini, poligami, serta terbatasnya akses pendidikan bagi perempuan di Indonesia saat itu.
Dari pemikiran dan komunikasi itulah, Kartini menyadari bahwa perempuan berhak mendapatkan pendidikan yang setara. Ia ingin perempuan memiliki kesempatan untuk berkembang dan meraih masa depan yang lebih baik. Bahkan, ia membuka sekolah sederhana bagi perempuan di sekitar rumahnya agar mereka dapat belajar.
Pada tahun 1903, Kartini mendirikan sekolah untuk anak perempuan di Jepara. Sekolah tersebut mengajarkan membaca, menulis, serta berbagai keterampilan dasar yang penting bagi perempuan. Langkah ini menjadi tonggak awal dalam membuka akses pendidikan bagi perempuan pribumi. Kartini menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah kecil yang nyata.
Semangat Kartini tidak berhenti di masa itu. Hingga kini, banyak perempuan muda yang melanjutkan perjuangannya, salah satunya melalui organisasi Nasyiatul Aisyiyah atau yang akrab disebut Nasyiah.
Nasyiah berdiri sejak tahun 1931 sebagai wadah perempuan muda Muhammadiyah untuk belajar dan berorganisasi. Organisasi ini bertujuan membentuk perempuan yang berilmu, mandiri, dan bermanfaat bagi masyarakat. Sejak awal, Nasyiah telah membawa semangat yang sejalan dengan perjuangan Kartini dalam memperjuangkan pendidikan dan peran perempuan.
Dalam perjalanan sejarahnya, banyak tokoh perempuan hebat yang lahir dari Nasyiah. Salah satunya adalah Dyah Puspitarini yang pernah menjabat sebagai Ketua Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah periode 2016–2020. Saat ini, ia dipercaya menjadi bagian dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia dan berperan dalam melindungi hak-hak anak, termasuk perempuan.
Tokoh lainnya adalah Norma Sari yang kini menjabat sebagai Wakil Rektor di Universitas Ahmad Dahlan. Perannya dalam dunia pendidikan menunjukkan bahwa perempuan mampu mengambil posisi strategis dalam pembangunan bangsa.
Saat ini, Nasyiah dipimpin oleh Ariati Dina Puspitasari. Ia mendorong perempuan muda untuk berani menghadapi tantangan zaman, seperti menguasai teknologi, peduli lingkungan, dan aktif dalam gerakan sosial.
Nasyiah juga memiliki rencana strategis atau “peta jalan” yang berfokus pada pengembangan perempuan di bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, lingkungan, dan sosial. Tujuannya adalah membentuk perempuan yang mandiri serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Organisasi ini telah aktif di seluruh provinsi di Indonesia. Di Jawa Timur, Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) turut berperan dalam menggerakkan berbagai program pemberdayaan perempuan hingga tingkat daerah, termasuk di Kota Surabaya dan cabang-cabang terdekat seperti Ngagel. Berbagai kegiatan seperti kajian, pelatihan keterampilan, hingga advokasi sosial, hukum, dan lingkungan terus dilakukan untuk meningkatkan kapasitas perempuan.
Perjuangan Nasyiah sejatinya merupakan kelanjutan dari semangat Kartini. Mereka terus memperjuangkan kesetaraan akses pendidikan dan kesempatan bagi perempuan. Dengan demikian, laki-laki dan perempuan dapat memiliki peluang yang sama dalam berbagai bidang kehidupan.
Semangat Kartini tidak pernah padam. Ia terus hidup dalam gerakan perempuan masa kini, termasuk melalui Nasyiah. Oleh karena itu, penting bagi generasi muda untuk meneladani semangat tersebut.
Mari mulai dari langkah sederhana: rajin belajar, berani bertanya, dan saling menghargai. Siapa tahu, kelak kita bisa menjadi penerus perjuangan Kartini dan para kader Nasyiah dalam membawa perubahan positif bagi masyarakat.





0 Tanggapan
Empty Comments