Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Refleksi Hari Kartini: Perempuan Bekerja, Antara Pilihan dan Perjuangan

Iklan Landscape Smamda
Refleksi Hari Kartini: Perempuan Bekerja, Antara Pilihan dan Perjuangan
Refleksi Hari Kartini: Perempuan Bekerja, Antara Pilihan dan Perjuangan
Oleh : Moh. Ernam

Perjalanan dari Surabaya menuju Sarangan kala itu terasa berbeda. Obrolan yang awalnya ringan, berpindah dari satu topik ke topik lain, tiba-tiba mengerucut pada sebuah kisah yang membuat suasana sejenak hening: rencana pernikahan yang batal hanya karena satu syarat—perempuan tidak boleh bekerja setelah menikah.

Kisah tersebut sederhana, namun menggugah. Seorang guru TK sekaligus aktivis pendidikan dan sosial harus mengurungkan niat menikah. Bukan karena tidak saling mencintai, bukan pula karena perbedaan prinsip besar, melainkan karena permintaan keluarga calon suami: setelah menikah, ia harus berhenti bekerja. Ia diminta cukup di rumah, melayani suami, mengurus keluarga, dan menjadi “perhiasan rumah tangga”.

Diskusi panjang tak menemukan titik temu. Pernikahan yang sudah di depan mata pun akhirnya batal.

Dari sini, kita tersentak. Di era modern, persoalan perempuan bekerja ternyata masih menjadi perdebatan yang belum usai.

Jika menengok realitas sosial—khususnya di kalangan masyarakat Madura—perempuan bekerja bukanlah hal baru. Justru sebaliknya, ia menjadi bagian dari denyut kehidupan. Di pasar, ladang, warung, pabrik, hingga dunia usaha, perempuan hadir sebagai penggerak ekonomi keluarga. Mereka bukan sekadar membantu, tetapi kerap menjadi penopang utama.

Ada ungkapan yang hidup di masyarakat: “beristri orang Madura, belanjanya ambil sendiri.” Bukan berarti mengambil dari suami, melainkan dari hasil kerja dan keringatnya sendiri—sebuah simbol kemandirian yang tumbuh dari tradisi.

Namun di sisi lain, pandangan bahwa perempuan sebaiknya cukup di rumah juga tidak bisa serta-merta disalahkan. Itu adalah pilihan yang sah. Tetapi ketika pilihan tersebut dipaksakan dan meniadakan hak perempuan untuk berkembang, di situlah persoalan menjadi serius.

Bukankah Raden Ajeng Kartini telah lama mengingatkan:

“Habis gelap terbitlah terang.”

Kalimat sederhana ini bukan sekadar harapan, tetapi simbol perjuangan—bahwa dari keterbatasan, perempuan harus bergerak menuju cahaya: pengetahuan, kemandirian, dan kebebasan menentukan jalan hidup.

Kartini juga pernah menulis:

“Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan.”

Pesan tersebut tetap relevan hingga hari ini. Kondisi perempuan yang dahulu terkungkung kini telah berubah. Akses pendidikan terbuka, kesempatan bekerja semakin luas, bahkan ruang kepemimpinan telah diisi oleh perempuan.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Namun pertanyaannya: apakah cara berpikir kita sudah ikut berubah?

Perempuan bekerja bukan semata soal ekonomi—meskipun itu penting. Dalam banyak keluarga, kehadiran perempuan yang bekerja mampu meningkatkan taraf hidup, mengurangi beban, dan menciptakan stabilitas. Lebih dari itu, bekerja adalah tentang kemandirian.

Kemandirian menjadi penting dalam berbagai situasi. Saat kehidupan berjalan normal, ia menjadi penguat. Saat ujian datang—seperti kehilangan pasangan atau krisis ekonomi—ia menjadi penyelamat.

Banyak kisah menunjukkan bagaimana keluarga tiba-tiba goyah ketika kehilangan tulang punggung ekonomi. Ketika perempuan tidak memiliki akses atau pengalaman dalam dunia kerja, keberlanjutan ekonomi menjadi rapuh. Di sinilah pentingnya peran perempuan, bukan hanya sebagai pendamping, tetapi sebagai mitra yang setara.

Sejak awal, Kartini menolak perempuan hanya ditempatkan sebagai “konco wingking”—teman di belakang. Ia menginginkan perempuan hadir di depan, sejajar, dan berdampingan dengan laki-laki—dalam pendidikan, pekerjaan, maupun kehidupan sosial.

Hari ini, kita telah melihat hasil dari perjuangan tersebut. Perempuan menjadi pemimpin, akademisi, pengusaha, bahkan kepala negara. Namun ironi muncul ketika di tengah kemajuan itu, masih ada ruang yang mempertanyakan hak dasar perempuan untuk bekerja.

Refleksi Hari Kartini seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Ia harus menjadi momentum untuk menata ulang cara pandang. Bahwa perempuan bekerja bukan ancaman bagi rumah tangga, melainkan kekuatan. Bukan bentuk pembangkangan, melainkan kontribusi.

Pada akhirnya, yang terpenting bukan apakah perempuan bekerja atau tidak, melainkan apakah ia diberi kebebasan untuk memilih. Di situlah letak kemerdekaan yang sesungguhnya.

Dan mungkin, jika Kartini masih hidup hari ini, ia akan tersenyum melihat perempuan Indonesia melangkah lebih jauh—namun juga mengingatkan bahwa perjuangan belum benar-benar selesai.

Selamat Hari Kartini.
Saatnya terang itu benar-benar kita jaga.

Revisi Oleh:
  • Satria - 21/04/2026 15:20
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡