Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan ucapan selamat kepada Husni Amriyanto Putra atas keberhasilannya meraih gelar doktor Politik Islam dengan predikat sangat memuaskan dalam sidang promosi doktor di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Dalam sambutannya, Haedar Nashir menegaskan bahwa perjalanan akademik menuju gelar doktor bukanlah proses yang mudah. Menurutnya, pendidikan tinggi merupakan jalan panjang yang penuh pendalaman ilmu, pengorbanan, dan ketekunan.
“Saya menyampaikan selamat atas gelar akademik doktor untuk Pak Husni Amriyanto. Ini perjalanan panjang, penuh liku, penuh pendalaman. Jangan risau dengan batas-batas terakhir dalam proses akademik, karena semua itu bagian dari pendalaman keilmuan,” ujar Haedar Nashir, Selasa (12/5/2026).
Haedar mengaku mengenal dekat Husni Amriyanto karena pernah menjadi mahasiswanya secara langsung. Karena itu, ia memahami proses perjuangan akademik yang dijalani hingga akhirnya mampu menyelesaikan studi doktoralnya.
“Saya tahu persis Pak Husni, mahasiswa saya. Saya selalu mengingatkan kepada siapa saja untuk menyelesaikan pendidikan dengan sungguh-sungguh,” katanya.
Menurut Haedar, gelar akademik bukan sekadar simbol formal, melainkan instrumen untuk mempertajam keilmuan dan meningkatkan tanggung jawab intelektual di tengah masyarakat.
“Gelar akademik itu mempertajam keilmuan kita. Orang yang berilmu derajatnya akan naik. Tetapi semakin tinggi ilmu, semakin besar pula tanggung jawabnya,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Haedar juga menyinggung peran para promotor dalam proses akademik doktoral. Ia menyebut keberhasilan seorang doktor tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab dan pendampingan para promotor.
“Itu juga tanggung jawab promotornya Pak Husni,” ujarnya.
Haedar Nashir turut menyampaikan apresiasi kepada Abdul Gaffar Karim yang terlibat sebagai penguji dalam sidang promosi doktor tersebut. Menurutnya, forum akademik seperti sidang doktor merupakan ruang penting untuk mempertajam kritik dan memperkaya perspektif keilmuan.
“Saya berterima kasih kepada Gaffar Karim yang menguji. Saya sering menghadiri acara-acara seperti ini, karena di ruang akademik banyak kritik dan masukan penting,” katanya.
Lebih jauh, Haedar juga menyinggung kritik terhadap peran Muhammadiyah sebagai organisasi masyarakat sipil berbasis keagamaan atau faith-based organization (FBO). Menurutnya, kritik harus diterima sebagai bagian dari upaya perbaikan organisasi.
Ia mengakui masih ada pandangan yang menilai Muhammadiyah belum optimal dalam memainkan peran sosial kemanusiaan secara luas.
“Banyak kritik bahwa Muhammadiyah belum optimal sebagai FBO. Padahal Muhammadiyah harus hadir dalam layanan sosial dan kemanusiaan, tidak sekadar ritual,” ujar Haedar.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya keterlibatan organisasi keagamaan dalam isu hak asasi manusia hingga peran perdamaian atau peacemaking di tengah masyarakat.
“Kritik lain misalnya soal advokasi HAM dan belum masuk lebih jauh pada peacemaking. Tetapi kritik setajam apa pun boleh disampaikan di internal. Kritik itu bisa menjadi masukan untuk kemajuan,” tandasnya.





0 Tanggapan
Empty Comments