PWMU.CO- Islam sebagai agama yang sempurna tidak hanya mengajarkan keimanan secara konseptual, tetapi juga praktik ibadah yang sarat makna, salah satunya adalah sholat. Sholat bukan sekadar ritual gerakan, melainkan dialog spiritual antara hamba dan Tuhan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam.
Menariknya, konsep penghormatan dan ketundukan kepada Tuhan juga ditemukan dalam tradisi lain, seperti dalam Alkitab, khususnya Kitab Nehemia 8:6. Di sinilah kita melihat benang merah bahwa manusia, dalam berbagai tradisi, memiliki cara yang mirip dalam mengekspresikan ketundukan kepada Sang Pencipta.
Dalam Islam, dasar perintah sholat terdapat dalam Al-Qur’an, salah satunya dalam Surah Al-Baqarah ayat 43:
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ
Artinya: “Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.”
Ayat ini menegaskan bahwa sholat memiliki unsur gerakan fisik seperti rukuk yang mencerminkan kerendahan hati manusia di hadapan Allah.
Gerakan sholat dalam Islam dimulai dari berdiri (qiyam), rukuk, sujud, hingga duduk dan salam. Setiap gerakan memiliki filosofi mendalam. Berdiri melambangkan kesiapan menghadap Allah, rukuk menunjukkan ketundukan, dan sujud adalah titik terendah manusia yang justru menjadi posisi paling dekat dengan Tuhan. Rasulullah SAW bersabda:
“Keadaan paling dekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia sujud.” (HR. Muslim).
Dalam sujud, umat Islam membaca:
سُبْحَانَ رَبِّيَ الأَعْلَى
Artinya: “Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi.”
Kalimat ini mencerminkan paradoks spiritual: manusia merendah serendah-rendahnya, namun mengakui ketinggian Tuhan setinggi-tingginya. Ini adalah bentuk totalitas penghambaan.
Penutup sholat adalah salam, dengan ucapan:
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ
Artinya: “Semoga keselamatan dan rahmat Allah tercurah atas kalian.”
Salam ini bukan hanya penutup ibadah, tetapi juga simbol penyebaran kedamaian kepada sesama manusia, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat.
Jika kita menengok ke dalam Alkitab, khususnya Nehemia 8:6, terdapat praktik yang serupa dalam hal penghormatan kepada Tuhan:
“Ezra memuji Tuhan, Allah yang Maha Besar, dan seluruh umat menjawab, ‘Amin, Amin!’ sambil mengangkat tangan mereka. Lalu mereka sujud dan menyembah Tuhan dengan muka sampai ke tanah.”
Ayat ini menunjukkan bahwa sujud atau menundukkan diri hingga ke tanah juga merupakan bentuk ibadah dalam tradisi Yahudi.
Kesamaan ini menunjukkan bahwa gerakan tubuh dalam ibadah bukanlah hal yang eksklusif dalam satu agama saja. Ia adalah ekspresi universal manusia dalam menunjukkan rasa hormat, ketundukan, dan penghambaan kepada Tuhan. Dalam Islam, gerakan tersebut telah disistematisasi secara rinci melalui tuntunan Nabi Muhammad SAW.
Lebih jauh lagi, dalam Surah Al-Hajj ayat 77 Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Tuhanmu.”
Ayat ini menegaskan bahwa gerakan rukuk dan sujud adalah bagian integral dari ibadah yang diperintahkan langsung oleh Allah.
Dalam perspektif spiritual, gerakan sholat bukan sekadar formalitas, tetapi sarana pembentukan karakter. Rukuk melatih kerendahan hati, sujud mengajarkan kepasrahan, dan salam menanamkan nilai sosial berupa kedamaian dan persaudaraan. Ini menunjukkan bahwa sholat memiliki dimensi vertikal (hubungan dengan Tuhan) dan horizontal (hubungan dengan manusia).
Sementara itu, dalam Nehemia 8:6, respons umat yang mengangkat tangan, mengucapkan “Amin”, dan sujud mencerminkan keterlibatan total, baik secara lisan maupun fisik. Ini memperlihatkan bahwa ibadah sejati melibatkan hati, ucapan, dan tindakan secara bersamaan.
Jika ditarik lebih dalam, baik dalam Islam maupun dalam tradisi Alkitab, sujud menjadi simbol puncak dari pengakuan akan kebesaran Tuhan dan kelemahan manusia. Tidak ada kesombongan yang tersisa ketika dahi menyentuh tanah. Di situlah manusia kembali pada hakikatnya sebagai makhluk.
Dalam Islam, keteraturan gerakan sholat juga mencerminkan disiplin hidup. Lima waktu sholat membentuk ritme harian yang teratur, mengingatkan manusia untuk selalu kembali kepada Allah di tengah kesibukan dunia. Ini adalah bentuk pendidikan spiritual yang terus-menerus.
Kesamaan nilai antara sholat dalam Islam dan praktik ibadah dalam Nehemia menunjukkan bahwa pesan ketuhanan memiliki kesinambungan. Meski berbeda dalam tata cara dan syariat, esensinya tetap sama: mengagungkan Tuhan dan merendahkan diri di hadapan-Nya.
Namun, penting untuk dipahami bahwa dalam Islam, tata cara sholat telah ditetapkan secara rinci dan tidak dapat diubah, karena bersumber dari wahyu dan sunnah. Ini yang membedakan dengan praktik ibadah lain yang mungkin lebih fleksibel dalam bentuknya.
Akhirnya, baik melalui salam dalam sholat maupun sujud dalam Nehemia, kita diajak untuk merenungkan bahwa ibadah bukan hanya ritual, tetapi perjalanan jiwa menuju ketundukan sejati. Di tengah perbedaan, terdapat kesamaan mendasar: manusia mencari Tuhan dengan cara merendahkan diri dan mengagungkan-Nya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments