Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menata Ulang Spirit Kaderisasi Pemuda Muhammadiyah

Iklan Landscape Smamda
Menata Ulang Spirit Kaderisasi Pemuda Muhammadiyah
Dr. Suli Da'im, MM. Foto" Dok/PWMU.TV
Oleh : Dr. Suli Da'im, M.M. Anggota DPRD Jawa Timur, Ketua PWPM Jatim 2006-2010 dan Dosen FEB Umsura

Rekomendasi Tanwir II Pemuda Muhammadiyah Tahun 2026 di Bali yang mengusulkan syarat minimal mahasiswa doktoral bagi calon anggota formatur dan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah layak diapresiasi sebagai langkah progresif dalam memperkuat kualitas kepemimpinan kader.

Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, kaderisasi Pemuda Muhammadiyah sebagai organisasi yang besar dan bereputasi, memang membutuhkan figur yang memiliki kapasitas intelektual, kematangan berpikir, serta kemampuan membaca perubahan zaman.

Usulan tersebut menunjukkan bahwa Pemuda Muhammadiyah sedang berupaya menjaga tradisi intelektual Muhammadiyah sebagai gerakan ilmu, dakwah, dan tajdid. Apalagi organisasi ini bukan sekadar ruang berkumpul anak muda, melainkan laboratorium kepemimpinan umat dan bangsa.

Dengan aset sosial Muhammadiyah yang begitu besar—mulai pendidikan, kesehatan, ekonomi, hingga pelayanan sosial—maka kualitas kepemimpinan menjadi faktor yang sangat menentukan arah masa depan organisasi.

Namun demikian, syarat akademik tidak boleh berhenti menjadi simbol formalitas intelektual. Gelar doktoral bukan jaminan otomatis lahirnya pemimpin yang mampu menggerakkan organisasi.

Sebab problem terbesar organisasi kader hari ini sesungguhnya bukan sekadar minimnya intelektualitas, tetapi mulai munculnya gejala pragmatisme dan menurunnya militansi gerakan.

Di banyak tingkatan, organisasi terkadang terlihat sangat hidup ketika memasuki momentum permusyawaratan, pemilihan formatur, atau kontestasi jabatan. Ruang-ruang diskusi mendadak ramai, konsolidasi bergerak cepat, dan komunikasi antar kader menjadi sangat intens.

Tetapi setelah forum selesai, organisasi kembali sunyi dari kerja-kerja ideologis dan pengabdian sosial. Energi besar lebih banyak terkuras pada perebutan posisi dibanding perlombaan dalam amal dan pengabdian.

Fenomena lain yang juga mulai dirasakan di sebagian kalangan akar rumput adalah munculnya gaya kepemimpinan yang semakin berjarak dengan kultur kesederhanaan Muhammadiyah.

Ada pimpinan organisasi yang ketika turun ke daerah justru meminta fasilitas berlebihan; mulai penjemputan yang harus istimewa, pelayanan khusus, penginapan tertentu, hingga perlakuan yang kadang membebani kader di bawah.

Bahkan tidak jarang panitia di tingkat cabang dan daerah harus bekerja ekstra hanya untuk memenuhi standar kenyamanan elite organisasi.

Tentu tidak semua demikian. Masih banyak pimpinan Muhammadiyah yang sederhana, membumi, dan menjadi teladan dalam kesahajaan.

Namun fenomena ini perlu menjadi bahan introspeksi bersama. Sebab Muhammadiyah sejak awal dibangun bukan dengan budaya feodal, melainkan budaya keteladanan dan pengabdian.

Para tokoh Muhammadiyah terdahulu datang ke daerah dengan semangat dakwah, bukan membawa mentalitas untuk dilayani secara berlebihan.

Jika budaya fasilitas ini terus dibiarkan, maka yang lahir bukan militansi kader, melainkan jarak psikologis antara pimpinan dan akar rumput.

Organisasi perlahan kehilangan ruh kolektivitasnya. Padahal kekuatan Muhammadiyah selama ini justru terletak pada kedekatan emosional antarkader dan kesediaan semua pihak bekerja tanpa banyak menuntut.

SMPM 5 Pucang SBY

Inilah yang perlu menjadi refleksi mendalam bagi Pemuda Muhammadiyah. Jangan sampai organisasi kader hanya ramai saat perhelatan musyawarah, tetapi minim aktivitas pemberdayaan umat setelahnya.

Jangan sampai forum permusyawaratan berubah menjadi arena kompetisi elit yang menjauh dari semangat awal gerakan.

Pemuda Muhammadiyah sesungguhnya memiliki warisan nilai yang sangat kuat: sepi ing pamrih, rame ing gawe.

Filosofi ini mengajarkan bahwa kader harus lebih banyak bekerja daripada menuntut penghargaan. Lebih sibuk memberi manfaat daripada membangun pencitraan.

Spirit inilah yang dahulu melahirkan kader-kader Muhammadiyah yang bekerja dalam senyap tetapi dampaknya dirasakan luas oleh masyarakat.

Karena itu, syarat akademik semestinya diiringi dengan penguatan watak kader. Pemuda Muhammadiyah tidak cukup hanya melahirkan kader yang bergelar tinggi, tetapi juga harus melahirkan kader yang memiliki karakter perjuangan.

Pertama, bener, yakni lurus niat dan perilakunya. Organisasi harus dijaga dari kepentingan pragmatis dan orientasi kekuasaan pribadi. Jabatan adalah amanah pengabdian, bukan instrumen kebanggaan sosial.

Kedua, pinter, yakni luas wawasan dan kuat kapasitas intelektualnya. Pemuda Muhammadiyah harus kembali menjadi ruang lahirnya pemikir, akademisi, teknokrat, dan pemimpin bangsa yang berpihak pada kepentingan umat.

Ketiga, kober, yakni menyediakan waktu dan tenaga untuk perjuangan. Organisasi membutuhkan kader yang hadir saat kerja-kerja sunyi dilakukan, bukan hanya hadir saat momentum pemilihan tiba.

Keempat, tener, kuat secara fisik, mental, dan sosial. Kepemimpinan gerakan memerlukan daya tahan, kesabaran, dan kemampuan menjaga persaudaraan di tengah dinamika organisasi.

Dalam konteks ini, rekomendasi Tanwir Bali seharusnya menjadi pintu masuk untuk memperbaiki ekosistem kaderisasi secara menyeluruh. Bukan sekadar menaikkan standar akademik elit organisasi, tetapi membangun budaya gerakan yang sehat, produktif, dan berorientasi pengabdian.

Pemuda Muhammadiyah harus berani melakukan kritik ke dalam bahwa ukuran keberhasilan organisasi bukan hanya suksesnya muktamar atau ramainya perebutan formatur.

Ukuran sejatinya adalah seberapa besar organisasi hadir menyelesaikan problem masyarakat, melahirkan kader penggerak di akar rumput, dan menjaga idealisme gerakan di tengah arus pragmatisme politik maupun sosial.

Tanwir Bali 2026 seharusnya menjadi momentum untuk mengembalikan ruh gerakan itu. Sebab organisasi besar tidak hanya membutuhkan orang pintar, tetapi lebih membutuhkan kader yang ikhlas bekerja, tahan diuji, hidup sederhana, dan tetap setia menjaga marwah perjuangan Muhammadiyah. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 23/05/2026 15:05
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡