Mendapatkan berita eksklusif dari seorang menteri bukan perkara mudah. Protokoler yang ketat, agenda padat, dan kesempatan yang terbatas menjadi tantangan tersendiri. Namun, bagi siswa Jurnalistik SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita), tantangan tersebut menjadi pengalaman berharga untuk menguji keberanian dan mengasah naluri sebagai jurnalis muda.
Pengalaman itu dirasakan Vabian Razka Akbar Kurniawan, siswa Excellent Class XI-3, dan Kania Azkadina Fadhilah, siswi International Class X-5A. Keduanya meliput kegiatan Tasyakuran dan Stadium General SD Muhammadiyah 1 dan 2 Taman (SD Mumtaz), Senin (12/10/2026).
Kehadiran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., menjadi kesempatan yang mereka nantikan. Keduanya tidak sekadar ingin mengabadikan kehadiran pejabat negara, tetapi juga berupaya mendapatkan informasi inspiratif untuk dibagikan kepada warga Smamita.
Namun, upaya mendapatkan berita tersebut tidaklah mudah.
Di tengah padatnya rangkaian acara dan ketatnya pengaturan protokoler, mereka harus mampu membaca situasi, menyiapkan pertanyaan, mengamati pergerakan narasumber, serta memanfaatkan setiap peluang tanpa mengabaikan aturan.
Pengalaman ini mengajarkan bahwa menjadi jurnalis bukan hanya soal keberanian bertanya. Kesabaran menunggu, kecermatan membaca situasi, dan ketepatan mengambil keputusan juga menentukan keberhasilan peliputan.
Menghadapi Protokoler, Mengasah Naluri Jurnalistik
Pembina Jurnalistik Smamita, M. Nashiiruddin Addaa’i, M.Pd., menjelaskan bahwa meliput tokoh nasional dalam acara resmi memberikan pengalaman berbeda bagi siswa. Mereka harus memahami bahwa kesempatan mendapatkan informasi tidak selalu terbuka lebar sehingga diperlukan strategi dan kesiapan.
“Protokoler menteri harus kita perhatikan. Karena itu, kita perlu menyiapkan berbagai rencana dan memaksimalkan setiap kesempatan yang ada untuk berburu berita. Mereka harus jeli melihat peluang, tetapi tetap menghormati aturan dan jalannya acara,” jelasnya.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran yang sulit diperoleh hanya melalui teori di ruang kelas. Selama ini, siswa mungkin mengenal sosok menteri melalui televisi, membaca pernyataannya di media, atau mengikuti aktivitasnya melalui pemberitaan.

Kali ini, mereka berkesempatan menyaksikan langsung proses peliputan tokoh nasional, bahkan berbincang dengan Mendikdasmen Abdul Mu’ti.
“Saya yakin ini menjadi pengalaman yang tidak akan pernah mereka lupakan. Biasanya mereka melihat Prof. Dr. Abdul Mu’ti melalui layar, tetapi kali ini bisa bertemu lebih dekat dan mendapatkan pesan secara langsung. Pengalaman seperti inilah yang akan memperkaya proses belajar jurnalistik mereka,” imbuhnya.
Bagi Vabian dan Kania, proses tersebut menunjukkan bahwa berita menarik tidak selalu diperoleh dengan mudah. Ada persiapan, pengamatan, koordinasi, dan keberanian mengambil kesempatan di balik informasi yang akhirnya tersaji kepada pembaca.
Dari Gugup Menjadi Bangga
Di tengah dinamika peliputan, Kania mendapatkan kesempatan berbincang langsung dengan Abdul Mu’ti. Ia memberanikan diri meminta pesan khusus bagi siswa Smamita agar semakin termotivasi dalam belajar dan meraih cita-cita.
Kesempatan itu menghadirkan perasaan campur aduk. Kania mengaku gugup karena berhadapan langsung dengan seorang menteri. Namun, antusiasmenya untuk mendapatkan informasi membuatnya berusaha mengatasi kegugupan tersebut.
“Rasanya senang sekali dan bangga bisa mendapat kesempatan berbincang langsung dengan Pak Abdul Mu’ti. Awalnya saya merasa gugup, tetapi juga antusias karena bisa bertemu dan meminta pesan secara langsung kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI,” ungkap Kania.
Keberanian Kania membuahkan hasil. Abdul Mu’ti menuliskan pesan berbahasa Inggris yang ditujukan untuk memotivasi siswa Smamita.
“Have a dream, be the best, do your best. It’s not about how good you are now, but how good you want to be.”
Artinya, milikilah mimpi, jadilah yang terbaik, dan lakukan yang terbaik. Bukan tentang seberapa baik dirimu saat ini, melainkan seberapa baik dirimu ingin menjadi.
Bagi Kania, pesan tersebut bukan sekadar kutipan untuk melengkapi naskah berita. Kata-kata itu menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berkembang selama mau belajar, berusaha, dan terus memperbaiki diri.
“Ini pengalaman yang luar biasa bagi saya. Saya tidak hanya mendapat kesempatan untuk mewawancarai beliau, tetapi juga memperoleh pesan yang sangat memotivasi, bukan hanya untuk saya, melainkan juga untuk seluruh siswa Smamita. Pesan beliau membuat saya semakin semangat untuk berani bermimpi, terus belajar, dan melakukan yang terbaik,” tuturnya.
Pengalaman itu mempertemukan dua hal penting: tugas jurnalistik yang menuntut ketepatan informasi dan proses seorang pelajar dalam membangun keberanian untuk meraih cita-cita.
Belajar Jurnalistik Langsung dari Lapangan
Sementara itu, Vabian turut berperan dalam proses peliputan bersama Kania. Pengalaman mereka menunjukkan bahwa kerja jurnalistik tidak hanya bergantung pada kemampuan individu, tetapi juga membutuhkan koordinasi, pembagian tugas, dan kepekaan terhadap situasi.
Dalam acara resmi yang dihadiri tokoh nasional, keduanya berlatih mendokumentasikan momen penting, menentukan sudut pemberitaan, mencatat informasi, dan berkoordinasi selama peliputan.
Mereka juga belajar bahwa jurnalis tidak boleh terpaku pada rencana awal. Situasi di lapangan dapat berubah sewaktu-waktu. Ketika kesempatan muncul, kesiapan menentukan apakah peluang tersebut dapat dimanfaatkan atau justru terlewatkan.
Meski demikian, keberanian harus tetap berjalan beriringan dengan etika jurnalistik. Menghormati protokoler, menjaga kesopanan, dan memastikan informasi dapat dipertanggungjawabkan merupakan bagian penting dari tugas seorang jurnalis.
Pengalaman langsung membuat siswa memahami bahwa sebuah berita melalui proses panjang, meskipun hasil akhirnya hanya berupa beberapa paragraf yang dibaca publik.
Pulang Membawa Berita dan Inspirasi
Peliputan Tasyakuran dan Stadium General SD Mumtaz menjadi lebih dari sekadar tugas sekolah bagi Vabian dan Kania. Di balik perjuangan menghadapi ketatnya protokoler, keduanya memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuan jurnalistik sekaligus membangun kepercayaan diri.
Mereka belajar bahwa keberanian bukan berarti tidak merasa gugup. Keberanian justru tumbuh ketika seseorang tetap mencoba meskipun menghadapi tantangan. Begitu pula dengan kesabaran, yang bukan sekadar menunggu, melainkan kemampuan membaca situasi dan bertindak pada waktu yang tepat.
Pengalaman tersebut menegaskan pentingnya pembelajaran jurnalistik yang bersentuhan langsung dengan realitas. Siswa tidak hanya belajar menulis berita, tetapi juga berlatih berkomunikasi, bekerja sama, menghormati aturan, dan menyampaikan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Pada akhirnya, Vabian dan Kania mendapatkan dua hal sekaligus: pengalaman meliput tokoh nasional dan pesan inspiratif yang dapat mereka bagikan kepada seluruh siswa Smamita.
Sebagaimana pesan Abdul Mu’ti, masa depan bukan semata-mata ditentukan oleh kemampuan seseorang saat ini, melainkan juga oleh keinginannya untuk terus berkembang.
Dari menghadapi ketatnya protokoler hingga berbincang langsung dengan seorang menteri, keduanya membuktikan bahwa di balik berita menarik terdapat keberanian untuk mencoba, kesabaran untuk menunggu, dan semangat untuk terus belajar.
Mereka datang untuk berburu berita. Mereka pulang membawa pengalaman dan inspirasi. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments